Lewati ke konten

DO Turun, Ancaman Kali Surabaya Kian Nyata

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Cinta Meysha Salsabila Editor: Supriyadi
  • Penelitian di 9 stasiun menemukan Kali Surabaya tidak memenuhi baku mutu Kelas 1, sementara jutaan warga masih bergantung pada airnya setiap hari.
  • Kadar oksigen terlarut hanya 2–3 mg/L, jauh di bawah standar 6 mg/L, menunjukkan tekanan pencemaran yang sudah serius.
  • Pengujian fisik, kimia, dan mikroplastik membuktikan kualitas air terus menurun dari Mlirip hingga Karang Pilang sepanjang aliran sungai.
  • Air baku PDAM berasal dari sungai yang menerima limbah domestik, aktivitas industri, dan tekanan tata ruang yang belum terkendali.
  • Jika pencemaran terus dibiarkan, kita tidak hanya kehilangan kualitas sungai, tetapi juga mempertaruhkan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Sebagai mahasiswa Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya, saya bersama tim melakukan pengambilan sampel di sembilan stasiun, mulai dari Mlirip, Mojokerto, hingga Karang Pilang, Surabaya. Kami ingin mengetahui kondisi sebenarnya sungai yang menjadi sumber utama air baku warga Surabaya, Gresik, dan wilayah sekitarnya.

Saat kami melakukan pengujian, temuan ini tidak bisa diabaikan. Parameter suhu, pH, turbidity, electrical conductivity (EC), total dissolved solids (TDS), dan dissolved oxygen (DO), serta keberadaan mikroplastik, memperlihatkan kualitas air Kali Surabaya tidak lagi memenuhi baku mutu Kelas 1.

Angka yang paling mengkhawatirkan adalah kadar dissolved oxygen (DO) yang hanya berkisar 2–3 mg/L. Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, air Kelas 1 harus memiliki kadar DO minimal 6 mg/L. Perbedaan itu menunjukkan sungai tidak sedang baik-baik saja. Sungai yang memiliki panjang 45 kilometer itu sedang menerima beban pencemaran cukup tinggi.

Bagi saya, hasil pengujian ini merupakan persoalan serius. Tentu saja tidak bisa dipandang sebagai temuan ilmiah semata. Data membuktikan kualitas air baku yang menopang kebutuhan jutaan warga terus mengalami penurunan.

#Mikroplastik Menambah Beban

Penelitian kami juga menemukan keberadaan mikroplastik di sepanjang lokasi pengambilan sampel. Partikel plastik berukuran sangat kecil, antara 1 µm (mikrometer) hingga 5 mm (milimeter) itu tidak mudah terurai. Peluang masuk ke rantai makanan melalui organisme sungai sangat terbuka.

Pada saat yang sama, oksigen terlarut cukup rendah. Hal ini menunjukkan sedang terjadi akumulasi limbah organik, juga tidak menutup kemungkinan bahan pencemar lainnya. Boleh disebut, pada saat ini Kali Surabaya sedang menghadapi dua tekanan sekaligus, yaitu pencemaran konvensional dan pencemaran mikroplastik.

Saya melihat persoalan ini tidak terjadi begitu saja. Penurunan kualitas air diduga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari aktivitas industri, limbah domestik, hingga perubahan tata ruang di sepanjang aliran sungai. Di sisi lain, kebiasaan sebagian warga membuang sampah ke sungai turut memperbesar beban pencemaran sehingga kualitas air terus menurun dari waktu ke waktu.

Melihat kenyataan itu, pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, yang mendampingi kami dalam penelitian ini, sempat mengatakan bahwa tata ruang yang tidak terkendali akan berdampak langsung terhadap kualitas lingkungan.

Menurutnya, pembangunan di sepanjang sempadan sungai mestinya harus dibarengi pengawasan dan pengendalian limbah yang lebih tegas. “Seolah ada pembiaran bangunan liar, sampah, dan limbah masuk langsung ke aliran sungai,” ucapnya kala itu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kondisi Kali Surabaya menunjukkan tekanan pencemaran yang memengaruhi kualitas air dan mengancam ekosistem serta sumber air baku. | Dok Penelitian

#Perlu Menjaga Sungai

Dari rangkaian penelitian itu, saya menjadi teringat tentang pentingnya perlindungan sungai. Bagi saya, perlindungan sungai tidak dapat hanya bergantung pada instalasi pengolahan air saja. Upaya perawatan dan pemulihan semestinya dimulai dari mengurangi sumber pencemar sebelum memasuki badan sungai.

Dalam hal ini, pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap industri. Sekaligus memastikan kepatuhan terhadap baku mutu limbah. Dengan tegas juga menindak pelanggaran tata ruang. Penegakan hukum ini menjadi syarat penting agar pencemaran tidak terus berulang.

Sebagai warga, kita juga memiliki tanggung jawab yang sama besar. Yaitu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tidak semena-mena membuang sampah ke sungai. Mengelola limbah rumah tangga dengan benar merupakan langkah sederhana yang dampaknya nyata.

Saya percaya kualitas sungai mencerminkan kualitas tata kelola lingkungan. Ketika kita membiarkan Kali Surabaya terus mengalami pencemaran akibat limbah dan mikroplastik, sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan keamanan air baku. Padahal, air merupakan kebutuhan primer. Setiap hari kita membutuhkannya. ***

Tentang Penulis: Cinta Meysha Salsabila merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 29 Juni – 8 Agustus 2026.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *