Lewati ke konten

Kualitas Air Kali Surabaya Terus Menurun, Hilir Hadapi Tekanan Pencemaran Terbesar

| 4 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Sharon Rosearly Dwijaya Editor: Supriyadi
  •  Penelitian sembilan titik mengungkap kualitas air Kali Surabaya terus menurun.
  • Kadar oksigen terlarut jauh dibawah baku mutu air baku nasional.
  • Wilayah hilir mengalami tekanan pencemaran paling tinggi sepanjang aliran sungai.
    Limbah domestik dan industri menjadi penyebab utama penurunan kualitas air.
  • Tim mahasiswa mendorong pengawasan limbah diperkuat melalui kolaborasi semua pihak.
    Pemantauan mikroplastik diperlukan sebagai dasar kebijakan pemulihan sungai berkelanjutan.

Tim magang ECOTON dari Universitas Brawijaya menemukan penurunan kualitas air Kali Surabaya berdasarkan penelitian pada sembilan titik pengamatan pada Rabu, 1 Juli 2026. Lokasi penelitian dari Titik nol Kali Surabaya di Mlirip, Kabupaten Mojokerto, sampai Karang Pilang, Kota Surabaya.

Hasil penelitian menunjukkan kualitas air semakin menurun dari wilayah hulu menuju hilir. Temuan ini memperlihatkan besarnya tekanan pencemaran terhadap sungai yang menjadi sumber air baku warga kota Surabaya ini.

Parameter Dissolved Oxygen (DO) menjadi indikator yang paling mengkhawatirkan. Nilainya belum memenuhi baku mutu air Kelas I sebagaimana diatur dalam PP Nomor 22 Tahun 2021.

Rata-rata kadar DO di wilayah hulu tercatat 3,06 mg/L. Nilai tersebut tetap berada pada kisaran serupa di wilayah tengah, kemudian turun menjadi rata-rata 1,90 mg/L di wilayah hilir.

Pada salah satu titik pengamatan di Surabaya, kadar DO hanya mencapai 0,9 mg/L. Angka itu jauh di bawah baku mutu sebesar 6 mg/L yang dibutuhkan untuk air baku Kelas I.

Rendahnya kadar oksigen terlarut mengindikasikan tingginya beban bahan organik di dalam perairan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem sungai apabila berlangsung dalam waktu lama.

Pendiri ECOTON, Prigi Arisandi, mengatakan Kali Surabaya masih menghadapi tekanan akibat aktivitas industri dan domestik. Menurutnya, sebagian industri telah mengolah air limbah, namun masih ditemukan pelaku usaha yang belum menerapkan pengelolaan limbah secara memadai.

“Kali Surabaya masih menghadapi tekanan akibat aktivitas industri dan domestik di sepanjang daerah aliran sungai. Kami masih menemukan industri yang belum mengelola limbahnya dengan baik. Di sisi lain, ada pula industri yang telah mengolah dan menggunakan kembali air limbah untuk proses produksinya. Praktik seperti ini perlu diperluas agar kualitas sungai terus membaik, mengingat Kali Surabaya merupakan sumber air baku yang dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

#Kandungan Zat Terlarut Meningkat

Selain penurunan kadar DO, penelitian juga mencatat peningkatan sejumlah parameter kualitas air. Nilai Total Dissolved Solids (TDS) meningkat dari rata-rata 259 mg/L di wilayah hulu menjadi 287,66 mg/L di wilayah hilir.

Parameter Electrical Conductivity (EC) juga mengalami kenaikan dari 500,33 µS/cm menjadi 576,66 µS/cm. Peningkatan tersebut menunjukkan bertambahnya kandungan zat terlarut sepanjang aliran sungai.

Sampel air yang diambil mahasiswa menunjukkan penurunan kualitas Kali Surabaya berdasarkan hasil pengukuran di sembilan titik. | Dok. Penelitian

Kondisi itu diduga dipengaruhi akumulasi aktivitas domestik, industri, serta limpasan dari kawasan sekitar daerah aliran sungai. Tekanan tersebut semakin terlihat pada bagian hilir yang menerima aliran dari wilayah hulu dan tengah.

Sementara itu, suhu air relatif stabil pada kisaran 28,7 hingga 28,9 derajat Celsius. Nilai pH berada pada rentang 7,53 hingga 8,06 sehingga masih sesuai dengan kisaran baku mutu.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tingkat kekeruhan atau turbidity meningkat di wilayah hilir dengan rata-rata 9,83 NTU. Meski masih relatif rendah dibandingkan parameter lain, peningkatan tersebut menunjukkan perubahan kualitas air sepanjang aliran sungai.

#Aktivitas Manusia Sumber Utama

Hasil observasi di lokasi menunjukkan tekanan pencemaran semakin tinggi di wilayah hilir. Kawasan ini memiliki kepadatan permukiman lebih besar dibandingkan wilayah hulu sekaligus menjadi lokasi berbagai aktivitas industri.

Selama penelitian, tim menemukan sejumlah saluran pembuangan limbah domestik yang mengalir langsung ke badan sungai tanpa pengolahan. Kondisi tersebut menunjukkan pengelolaan limbah domestik masih menjadi tantangan di sepanjang Kali Surabaya.

Tim juga menemukan aktivitas industri yang berpotensi meningkatkan beban pencemaran apabila limbah tidak dikelola sesuai ketentuan. Di beberapa lokasi, pemanfaatan kawasan sempadan sungai yang tidak sesuai tata ruang juga masih dijumpai.

Berdasarkan seluruh temuan tersebut, peneliti menilai penurunan kualitas air Kali Surabaya lebih banyak dipengaruhi aktivitas manusia dibandingkan faktor alami. Akumulasi pencemaran yang berlangsung terus-menerus menyebabkan kualitas air semakin menurun menuju wilayah hilir.

Tim magang ECOTON merekomendasikan peningkatan pengawasan terhadap sumber pencemar domestik dan industri, perluasan pembangunan sistem pengolahan air limbah domestik, penegakan aturan pemanfaatan sempadan sungai, serta pemantauan kualitas air dan mikroplastik secara berkala.

Hasil penelitian ini nanti diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan berbasis data ilmiah, guna memperkuat perlindungan dan pemulihan Kali Surabaya sebagai sumber air baku bagi jutaan masyarakat Jawa Timur.***

Tentang Penulis: Sharon Rosearly Dwijaya merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Brawijaya. Artikel ini disusun sebagai bagian dari pemenuhan Program Studi Independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) selama periode 29 Juni – 8 Agustus 2026.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *