- Sebanyak 40 siswa mengikuti edukasi mikroplastik saat MPLS melalui materi, permainan, praktik identifikasi, dan diskusi bersama ECOTON.
- Sekolah yang berada tak jauh Kali Tebu dipilih karena berpotensi terpapar mikroplastik dari air maupun udara.
- Praktik identifikasi telapak tangan menemukan 40 partikel mikroplastik, terdiri atas 28 fiber dan 12 fragmen peserta.
- Guru dan siswa mengaku lebih memahami sumber mikroplastik serta berkomitmen mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sehari-hari.
- Sekolah menilai edukasi ini sejalan dengan gerakan Laudato Si’ yang mendorong kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Sebanyak 40 siswa SMP Katolik Pecinta Damai, Jalan Randu Sidotopo Wetan, Kenjeran, Surabaya, mengikuti edukasi bahaya mikroplastik dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Kegiatan yang difasilitasi ECOTON itu diikuti siswa kelas VII dan VIII melalui penyampaian materi, permainan interaktif, praktik identifikasi mikroplastik, serta diskusi mengenai solusi pengurangan sampah plastik.
Peneliti ECOTON, Sofi Azilan Aini, mengatakan pemilihan sekolah tersebut didasarkan pada lokasinya yang berada sangat dekat dengan Kali Tebu. Menurutnya, kondisi itu membuat warga sekolah perlu memahami potensi paparan mikroplastik yang berasal dari lingkungan sekitar.
“Tujuan kegiatan ini untuk mengenalkan kepada siswa tentang bahaya mikroplastik. Apalagi sekolah ini berada langsung di dekat Kali Tebu,” ujar Sofi, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, mikroplastik tidak hanya mencemari badan air. Remahan plastik itu juga dapat terbawa udara dalam bentuk partikel halus. Karena itu, paparan mikroplastik di lingkungan sekolah tidak dapat diabaikan.
“Tidak menutup kemungkinan remahan plastik yang kita sebut mikroplastik telah mencemari lingkungan sekolah, baik melalui air maupun udara. Jalur udara justru sangat berpotensi menjadi media penyebaran mikroplastik,” katanya.

Selama kegiatan, Kepala Laboratorium ECOTON, Rafika Aprilianti, mengatakan siswa diperkenalkan mengenai proses terbentuknya mikroplastik. Selain itu, mereka juga diberikan pemahaman mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
“Termasuk berbagai langkah sederhana, yaitu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Penyampaian materi dikemas secara interaktif agar lebih mudah dipahami siswa atau peserta,” ucap Rafika.
Rafika menambahkan, kegiatan di SMP Katolik Pecinta Damai ini merupakan yang pertama. Ke depan, kegiatan ini akan ditindaklanjuti.
“Melihat peserta begitu antusias, sepertinya mereka meminta agenda untuk kembali mengadakan kegiatan seperti ini,” ujar Rafika.
#Praktik Identifikasi Temukan Puluhan Partikel
Usai menerima materi, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk melakukan identifikasi berbagai bentuk mikroplastik. Mereka mengenali fiber, fragmen, filamen, dan granule melalui sampel yang telah disiapkan.
Kelompok pertama menemukan 24 partikel fiber berwarna biru, hitam, cokelat, dan merah, serta satu filamen berwarna cokelat. Kelompok kedua mencatat empat fiber dan dua fragmen, disertai temuan 24 partikel fiber berwarna serupa serta satu filamen cokelat.

Pada kelompok ketiga ditemukan variasi partikel yang lebih beragam. Beberapa siswa mencatat fiber dalam jumlah berbeda, granule dalam kategori sedikit maupun banyak, serta satu fragmen pada salah satu sampel.
Praktik berikutnya dilakukan melalui identifikasi mikroplastik pada telapak tangan peserta. Dari sembilan sampel yang diperiksa ditemukan total 40 partikel, terdiri atas 28 fiber dan 12 fragmen.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Data tersebut berasal dari sampel milik Rama, Yollen, Kevin, Jasmine, Gendhis, Nelsya, Bella, Renata, dan guru Bimbingan Konseling Mariana Diantambuk. Panitia juga mencatat adanya ketidaksesuaian penjumlahan pada salah satu lembar identifikasi kelompok sehingga data tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
#Guru dan Siswa Dorong Perubahan Kebiasaan
Guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Katolik Pecinta Damai, Mariana Diantambuk, mengatakan selama ini dirinya hanya mengetahui mikroplastik dari media sosial. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, ia memperoleh pemahaman lebih rinci mengenai berbagai sumber mikroplastik, termasuk yang berasal dari serat kain sintetis.

Menurut Mariana, praktik mengamati mikroplastik melalui mikroskop menjadi pengalaman tersendiri. Ia mengaku terkejut ketika melihat partikel yang menempel pada telapak tangan, meski secara langsung terlihat bersih.
“Saya kaget, dan itu mengerikan. Melalui kegiatan ini semoga kesadaran kita untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai semakin meningkat. Kita bisa mulai membawa tote bag, tumbler, dan tempat makan sendiri,” ujarnya.
Mariana juga mengatakan, jika sekolah saat ini tengah menjalankan program berwawasan lingkungan yang sejalan dengan gerakan Laudato Si’. Program yang mendorong merawat bumi, termasuk pengurangan sampah plastik melalui kebiasaan membawa tumbler, meski penggunaan air minum kemasan di kantin masih menjadi bahan evaluasi.

“Ini menjadi langkah kecil untuk menjaga bumi. Program Laudato Si’ mengajak seluruh warga sekolah ikut merawat rumah bersama melalui tindakan sederhana,” katanya.
Perubahan sikap juga terlihat dari para siswa. Michelle, siswi kelas VIII, mengaku sebelumnya hanya mengetahui istilah mikroplastik, tetapi kini lebih memahami dampaknya dan ingin mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Sementara itu, Kingsia William, siswa kelas IX, mengatakan dirinya semakin terdorong menjaga lingkungan setelah mempelajari mikroplastik. Marcel, siswa kelas IX, juga menyadari kebiasaannya menggunakan botol plastik perlu mulai diubah.
Pada penutupan kegiatan, guru matematika SMP Katolik Pecinta Damai, Fransisca Sri Rahayu Handayani, menyampaikan apresiasi kepada ECOTON atas edukasi yang diberikan. Menurutnya, pendekatan interaktif membuat siswa antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
“Terima kasih teman-teman. Kami lebih senang dengan kedatangannya, ternyata anak-anak kami juga senang,” ucapnya.
Keberadaan Kali Tebu yang hanya berjarak sekitar 1000 meter dari kompleks sekolah, menjadi alasan penting pendidikan lingkungan diberikan sejak masa MPLS. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami bahaya mikroplastik, tetapi juga mulai menerapkan kebiasaan yang dapat mengurangi timbulan sampah plastik di lingkungan sekolah maupun rumah.***