- Sebanyak 387 siswa UPT SDN 192 Gresik mengikuti edukasi bahaya mikroplastik dalam rangkaian MPLS, Rabu (15/7/2026).
- Sekolah Adiwiyata Kabupaten menggandeng Ecoton mengenalkan dampak mikroplastik melalui permainan dan lomba menggambar interaktif kepada siswa.
- Kebiasaan membawa tumbler dan kotak makan telah diterapkan sejak 2021 sebagai bagian budaya sekolah peduli lingkungan.
- Sejumlah siswa mengaku mulai mengurangi plastik sekali pakai setelah memahami risiko mikroplastik bagi kesehatan dan lingkungan.
- Mahasiswa dari empat perguruan tinggi serta dua sekolah kejuruan turut mendukung edukasi lingkungan kepada ratusan murid.
Sebanyak 387 siswa kelas 1 – kelas 6 UPT SDN 192 Gresik mengikuti pengenalan bahaya mikroplastik dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan yang digelar bersama Ecoton itu berlangsung interaktif melalui lomba mengartikan lukisan bertema mikroplastik.
Selain siswa, kegiatan juga melibatkan mahasiswa magang di Ecoton yang berasal dari Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Jember, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, serta pelajar SMKN 1 Cerme Gresik dan SMKN Kabuh Jombang.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Kampanye Offline PlasticEcoCycle Indonesia, sebuah inisiatif yang dikembangkan K-Green Foundation (KGF) dengan dukungan Hyundai Motor Group dan Community Chest of Korea.
Kepala UPT SDN 192 Gresik, Wiwik Dwi Astuti, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari MPLS untuk membangun kepedulian lingkungan sejak dini kepada seluruh peserta didik.
“Jumlah murid kami 387 orang, mulai kelas 1 sampai kelas 6 semuanya mengikuti kegiatan ini,” ujarnya di sela acara, Rabu (15/7/2026).
Menurut Wiwik, pendidikan lingkungan bukan program yang baru dijalankan sekolahnya. Jauh sebelum meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Gresik pada 2024, sekolah telah membangun kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai.
Ia menjelaskan sejak 2021 pihak sekolah telah mengajak orang tua membiasakan anak membawa tumbler dan kotak makan dari rumah. Kebiasaan kemudian diterapkan kepada seluruh warga sekolah, bukan hanya siswa.
“Kami sudah mengundang wali murid agar anak membawa tumbler sendiri, membawa tempat makan sendiri. Kami tidak membiasakan anak membawa botol plastik sekali pakai,” kata Wiwik.
Menurutnya, perubahan kebiasaan juga diterapkan di kantin sekolah. Penjual didorong menghindari penggunaan bahan tambahan pangan yang dikenal sebagai 5P, yakni pengawet, perasa, pewarna, pemanis, serta mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
Di awal penerapan, kata dia, sebagian pedagang sempat keberatan. Namun seiring meningkatnya kesadaran warga sekolah terhadap pola hidup sehat, kebijakan tersebut akhirnya diterima.
“Kebutuhan warga sekolah adalah sekolah sehat, akhirnya mereka patuh,” ujarnya.

#Budaya Peduli Lingkungan
Wiwik mengatakan pendidikan lingkungan tidak berhenti di dalam pagar sekolah. Setiap Jumat, sekolah menggelar kegiatan bersih lingkungan yang melibatkan siswa, terutama kelas 5 dan 6, membersihkan area di sekitar sekolah.
Ia berharap kebiasaan siswa terbawa hingga kehidupan sehari-hari di rumah.
“Harapannya sekolah ini menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri. Anak-anak tidak hanya peduli lingkungan di sekolah, tetapi juga di rumah, untuk dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat,” katanya.
Guru Pendidikan Olahraga, Hendry Widianes, mengakui tantangan terbesar justru berasal dari lingkungan di luar sekolah. Menurutnya, siswa sudah dibiasakan mengurangi plastik sekali pakai, tetapi pedagang di sekitar sekolah masih banyak menggunakan kemasan saset.
“Ini seperti buah simalakama. Di sekolah anak-anak sudah dibiasakan tanpa saset, tetapi di luar sekolah kemasan plastik masih banyak,” ujarnya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMeski demikian, Hendry menilai pengenalan mengenai mikroplastik tetap penting agar siswa memahami bahwa pecahan plastik berukuran sangat kecil sulit ditangani dan berpotensi mencemari lingkungan.
Ia mengatakan sekolah juga mengajarkan pemilahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah plastik dipisahkan untuk dikelola lebih lanjut.
Menurut Hendry, kondisi lingkungan sekolah mengalami perubahan signifikan sejak mengikuti program Adiwiyata. Sebelumnya, halaman sekolah sering dipenuhi sampah saat jam istirahat dan sampah bahkan dibakar di belakang sekolah.
“Sekarang sekolah jauh lebih bersih dan lebih tertata dibanding sebelumnya,” katanya.
Ia menambahkan Ecoton telah beberapa kali mendampingi sekolah melalui edukasi sungai, penanaman pohon, hingga pengelolaan sampah.

#Siswa Mulai Mengurangi Plastik
Edukasi juga mendapat respons positif dari para siswa. Sanum, siswi kelas 6B, mengaku telah mengenal istilah mikroplastik sejak kelas 4 melalui kegiatan Ecoton.
Ia memahami mikroplastik merupakan pecahan plastik berukuran kecil yang berbahaya dan dapat masuk ke tubuh melalui makanan, udara, maupun kontak dengan kulit.
“Saya sekarang mengurangi jajan yang menggunakan plastik, membawa kotak makan dari rumah, dan di rumah sampah juga sudah dipilah,” kata Sanum.
Sementara itu, Cantika yang juga duduk di kelas 6B mengaku baru memahami bahaya mikroplastik, setelah mengikuti materi ini. Ia bertekad mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membawa wadah sendiri saat membeli makanan.
“Setelah tahu bahaya mikroplastik, saya ingin mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau beli makanan, saya akan membawa wadah sendiri dari rumah,” kata Cantika.
Hal serupa disampaikan Filio, siswa kelas 5B. Ia baru pertama kali mengenal istilah mikroplastik dan memahami, benda kecil yang tak bisa dilihat mataitu, berasal dari pecahan plastik.
Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya selama ini masih membakar sampah rumah tangga dan berharap dapat menerapkan kebiasaan yang lebih baik. Ini lho om mamaku sering bakar sampah di rumah, “ selorohnya.
Sementara itu, dari Ecoton, Tasya Husna, mengatakan pendekatan edukasi melalui permainan dipilih agar materi mengenai bahaya mikroplastik lebih mudah dipahami anak-anak.
“Selama ini kami mengenalkan bahaya mikroplastik kepada anak-anak melalui permainan. Cara seperti ini lebih mudah diterima, terutama siswa kelas 5 dan kelas 6, sehingga pesan yang ingin disampaikan bisa mereka tangkap dengan baik,” ujarnya.***