- Sebanyak 70 pelajar Muhammadiyah Gresik mengikuti edukasi mikroplastik dan kampanye Zero Waste Lifestyle bersama ECOTON hari ini.
- Kegiatan membekali siswa memahami bahaya mikroplastik sekaligus membangun kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai sejak dini bersama.
- Workshop kader lingkungan mendorong sekolah menjadi pelopor pengurangan sampah plastik melalui aksi nyata dan edukasi berkelanjutan bersama.
- Peserta mempelajari prinsip 7R, praktik eco-enzyme, serta menyusun komitmen pengelolaan sampah di lingkungan sekolah masing-masing bersama.
- ECOTON menilai perubahan perilaku sehari-hari menjadi kunci menekan pencemaran plastik dan paparan mikroplastik di masyarakat luas.
Sebanyak 70 siswa dari jenjang sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas di lingkungan Pendidikan Muhammadiyah Gresik mengikuti edukasi bahaya mikroplastik dan kampanye Zero Waste Lifestyle.
Kegiatan yang digelar Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) ini, merupakan bagian dari Program Kampanye Offline PlasticEcoCycle. PlasticEcoCycle Indonesia, inisiatif yang dikembangkan oleh K-Green Foundation (KGF) dengan dukungan Hyundai Motor Group dan Community Chest of Korea.
Para peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka memperoleh materi mengenai pencemaran plastik, bahaya mikroplastik, sampai langkah sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Materi disampaikan oleh peneliti ECOTON, Rafika Aprilianti dan Sofi Azilan Aini. Keduanya mengajak peserta memahami persoalan sampah plastic. Yang menurut mereka tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan manusia.
Rafika mengatakan edukasi sejak usia sekolah menjadi langkah penting untuk membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Kami ingin siswa memahami bahwa sampah plastik tidak berhenti ketika dibuang. Plastik akan terurai menjadi mikroplastik yang mencemari sungai, laut, tanah, udara, bahkan dapat masuk ke rantai makanan dan tubuh manusia, “ kata Rafika, Rabu (15/7/2026).
“Karena itu, perubahan kebiasaan sehari-hari menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi pencemaran sejak dari sumbernya,” tandasnya.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan, Workshop Kader Lingkungan SMP Muhammadiyah 4 Kebomas bersama Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik.
Menurut Rafika, workshop dirancang agar siswa tidak hanya memahami persoalan lingkungan secara teori. Tetapi juga memiliki kemampuan menerapkan solusi dalam kehidupan sehari-hari.
“Workshop ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk memahami persoalan sampah plastik dari hulu hingga hilir, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan praktis dalam mengurangi timbulan sampah di lingkungan sekolah maupun di rumah,” jelasnya.

#Sekolah Berperan Bentuk Budaya Peduli Lingkungan
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan doa bersama. Acara kemudian dibuka oleh Kepala SMP Muhammadiyah 4 Kebomas Mahbub Zunaidi, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Gresik Andi Arahmad Rahim, serta H. Hilmi Aziz Hamim, S.Ag., M.Pd.I. dari PDM Gresik Bidang Majelis Lingkungan Hidup.
Sofi Azilan Aini mengatakan sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter peduli lingkungan. Menurutnya, pendidikan lingkungan akan lebih efektif apabila dibiasakan melalui aktivitas sehari-hari di sekolah.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang membangun kebiasaan. Ketika siswa terbiasa mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, dan mengajak teman-temannya melakukan hal yang sama, perubahan itu akan terbawa hingga ke rumah dan masyarakat,” ujar Sofi.
Suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi ice breaking sebelum peserta mengikuti materi mengenai strategi pengurangan sampah dengan prinsip 7R, yaitu Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, dan Rot.
Pada sesi itu peserta diajak memahami pengelolaan sampah yang efektif. Dimulai dari upaya mengurangi timbulan sampah sebelum dihasilkan. Pendekatan ini dinilai lebih berdampak dibanding hanya mengelola sampah setelah menjadi limbah.
Memasuki sesi utama, Rafika menjelaskan bahwa mikroplastik kini telah ditemukan di sungai, laut, udara, tanah, makanan, air minum, hingga tubuh manusia. Plastik sekali pakai yang terpapar sinar matahari, gesekan, dan pelapukan akan berubah menjadi partikel berukuran sangat kecil yang sulit dikendalikan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Mikroplastik bukan lagi persoalan yang hanya ditemukan di sungai atau laut. Partikel ini sudah terdeteksi di udara, makanan, air minum, bahkan tubuh manusia. Karena ukurannya sangat kecil, mikroplastik mudah masuk ke lingkungan dan sulit dipisahkan kembali. Itulah sebabnya pencegahan melalui pengurangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi langkah yang paling penting,” ujar Rafika.
Peserta juga dikenalkan berbagai sumber mikroplastik yang berasal dari botol minuman, kantong plastik, sedotan, hingga kemasan makanan. Karena itu, pengurangan konsumsi plastik sekali pakai dinilai menjadi langkah penting untuk menekan pencemaran.
“Mengurangi sampah plastik tidak harus dimulai dari tindakan yang besar. Membawa tumbler, kotak makan sendiri, tas belanja guna ulang, serta menolak plastik sekali pakai adalah kebiasaan sederhana yang jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang akan memberikan dampak besar terhadap pengurangan sampah dan pencemaran mikroplastik,” kata Rafika.
Melalui kampanye Zero Plastic, siswa diajak membiasakan membawa tumbler, kotak makan, tas belanja guna ulang, menolak sedotan plastik, dan memilih produk dengan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

#Komitmen Lanjutkan Aksi di Sekolah
Dalam sesi diskusi, Hasna, siswa SD Muhammadiyah Manyar, menyampaikan pandangannya mengenai langkah sederhana yang dapat dilakukan anak-anak untuk mengurangi sampah plastik.
“Cara Gen Alpha mengurangi plastik adalah dengan membawa tas sendiri saat berbelanja dan membawa tumbler ke mana-mana agar tidak membeli minuman dalam kemasan sekali pakai. Selain itu, kita juga tidak boleh membakar sampah karena pembakaran sampah dapat menghasilkan mikroplastik dan mencemari udara,” ujarnya.
Usai mengikuti materi, peserta mempraktikkan pembuatan eco-enzyme bersama tim RDEE. Limbah organik seperti kulit buah dan sayuran difermentasi menjadi cairan yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami maupun pupuk organik.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian besar sampah rumah tangga masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat. Peserta juga diajak melihat pentingnya pemanfaatan kembali limbah organik sebagai bagian dari gaya hidup minim sampah.
Menjelang penutupan, para siswa menyusun rencana tindak lanjut yang akan diterapkan di sekolah. Komitmen tersebut meliputi pengurangan plastik sekali pakai, penguatan pemilahan sampah, edukasi kepada teman sebaya, serta pelaksanaan kegiatan lingkungan secara rutin.
Kepala SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, Mahbub Zunaidi, berharap seluruh peserta menjadi penggerak perubahan di lingkungan sekolah masing-masing.
“Melalui edukasi seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa setiap siswa dapat menjadi agen perubahan. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari, seperti membawa tumbler, menolak plastik sekali pakai, memilah sampah, dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, ECOTON bersama Muhammadiyah Gresik berharap lahir kader-kader lingkungan yang mampu memperkuat budaya Zero Waste Lifestyle di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Kami berharap meningkatnya pemahaman siswa mengenai bahaya mikroplastik menjadi dasar perubahan perilaku. Ketika mereka mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dari kehidupan sehari-hari, upaya pengurangan sampah dapat dimulai langsung dari sumbernya,” pungkasRafika. ***