Lewati ke konten

Warga Sukorejo Bondowoso Antusias Olah Limbah Kulit Kopi Jadi Bio-Pot Lewat Program Promahadesa

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Limbah kulit kopi di Sukorejo disulap menjadi Bio-pot, membuka peluang usaha sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan desa.
  • Tim Coffenovator Promahadesa mengajak warga Sukorejo mengolah limbah kulit kopi menjadi Bio-pot bernilai ekonomi ramah lingkungan.
  • Dari limbah menjadi manfaat, warga Sukorejo belajar membuat Bio-pot yang mendukung lingkungan dan peluang usaha berkelanjutan.

Penulis: Dewi Puspita Sari, mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Anggota Divisi Publikasi, Dekorasi, dan Dokumentasi Tim Coffeenovator dalam Program Mahasiswa Berdesa (Promahadesa).

KELOMPOK Program Mahasiswa Berdesa (Promahadesa) yang mengatasnamakan Tim Coffenovator menggelar demonstrasi praktik pembuatan Bio-pot dari limbah kulit kopi pada Jumat (18/07/2026). Kegiatan yang berlangsung di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso ini diikuti oleh kelompok pemuda dan ibu rumah tangga setempat.

Desa Sukorejo dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kopi arabika terbesar di Bondowoso dengan masa panen rutin sekitar bulan Mei hingga Juli. Namun, melimpahnya hasil panen kerap menyisakan persoalan tumpukan limbah kulit kopi, baik dari proses basah (full wash), natural, maupun giling basah. Minimnya pemanfaatan membuat limbah ini membusuk di ruang terbuka dan pinggir jalan.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak terlibat aktif dalam setiap tahapan pembuatan Bio-pot, mulai dari pengolahan bahan baku hingga proses pencetakan.

Siswa SDN Sukorejo 2 mengikuti sosialisasi pemanfaatan limbah organik kulit kopi (cascara). | Foto: Imaniar Amil N. S.

#Dorong Kesadaran Lingkungan dan Peluang Ekonomi

Anggota Tim Coffenovator dari Fakultas Pertanian, Agita Tarigan, menyampaikan bahwa edukasi ini bertujuan untuk mengikis persepsi warga mengenai limbah organik.

“Membangun antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan limbah kulit kopi sangat penting untuk mengubah anggapan bahwa limbah hanyalah sisa yang tidak berguna. Padahal, dengan pengetahuan, kreativitas, dan kemauan, limbah dapat menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi,” ujar Agita.

Senada dengan hal tersebut, Imaniar Amil Nur Sholihah, anggota tim lainnya, menambahkan bahwa pengolahan limbah kopi menjadi produk berdaya guna dapat menekan tingkat pencemaran sekaligus membuka potensi usaha baru bagi masyarakat lokal.

#Dinilai Praktis dan Ramah Lingkungan

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Para peserta menyambut positif inovasi ini.  Een, salah satu warga yang hadir dalam sesi demonstrasi, mengaku baru mengetahui potensi ekonomis dari kulit kopi yang selama ini kerap terbuang.

Warga Desa Sukorejo bersama Tim Coffeenovator mempraktikkan pembuatan bio-pot berbahan limbah kulit kopi. | Foto: Imaniar Amil N.S.

“Selama ini kulit kopi ya dibuang saja atau kadang dibuat pupuk organik. Tapi dari tim Promahadesa Coffenovator, saya jadi tahu kalau limbah kulit kopi bisa dijadikan Bio-pot yang menghemat biaya pembibitan. Hasilnya juga cukup cantik untuk pot tanaman hias di rumah,” ungkapnya.

Masyarakat Desa Sukorejo bersama Tim Coffeenovator mempraktikkan pembuatan bio-pot dari limbah kulit kopi. | Foto: Reva Vida Alvina

Dari segi teknis, Tim Coffenovator memaparkan sejumlah keunggulan Bio-pot dibanding wadah tanam konvensional:

  • Menjaga Kelembapan: Mendukung pertumbuhan akar tanaman agar lebih sehat.
  • Bio-degradabel: Saat bibit dipindahkan ke tanah, pot tidak perlu dilepas karena akan terurai secara alami sekaligus berfungsi sebagai pupuk.
  • Daya Tahan Tinggi: Memilki ketahanan fisik yang mendekati polybag plastik sehingga tidak mudah rusak.

Edukasi Dini bagi Generasi Muda

Selain menyasar kelompok dewasa, Tim Coffenovator juga memberikan edukasi pengolahan sampah organik kepada siswa di SDN Sukorejo 2. Pendekatan interaktif ini dirancang untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan dan pola pikir kreatif sejak dini.

Melalui program pendampingan ini, Tim Coffenovator berharap pengelolaan limbah hasil samping kopi di Desa Sukorejo dapat terus berlanjut secara mandiri, sehingga mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *