Lewati ke konten

Anastasia Tawarkan Fish Sanctuary Sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Sungai Terpadu

| 3 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 15 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Mahasiswa ECOTON merancang PETROTIRTA berbasis fish sanctuary untuk memulihkan ekosistem dan habitat ikan Kali Surabaya berkelanjutan.
  • Rancangan enam kolam konservasi diproyeksikan menjaga habitat, pembibitan, edukasi, serta pemantauan kualitas air sungai secara terpadu.
  • Konsep PETROTIRTA menggabungkan fish sanctuary, mini hatchery, dan penanaman pohon melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan bersama.
  • Kajian merekomendasikan vegetasi riparian, habitat buatan, serta pengelolaan bantaran sungai berbasis partisipasi masyarakat lokal berkelanjutan.
  • Desain kawasan konservasi diharapkan menjadi model pemulihan Kali Surabaya berbasis riset ilmiah dan kolaborasi multipihak berkelanjutan.

 

MAHASISWA magang dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mempresentasikan rancangan teknis kawasan Fish Sanctuary di Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik. Kajian ini disusun sebagai tindak lanjut atas observasi lapangan yang mencatat masih bertahannya 42 spesies ikan lokal di Kali Surabaya, meskipun berada di bawah ancaman degradasi habitat.

Kajian kawasan konservasi tersebut dirancang oleh Tripani Anastasia Togatorop bersama Stien Angelie Manuhutu, mahasiswa Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya. Keduanya menawarkan desain kawasan terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai suaka ikan, melainkan juga pusat edukasi, pembibitan, dan pemantauan kualitas lingkungan.

Rancangan kawasan ini direncanakan membentang sepanjang 100 meter di bantaran Kali Surabaya dengan total luas sekitar 1.600–1.800 meter persegi. Di dalamnya, terdapat enam kolam konservasi yang saling terhubung dan dilindungi oleh vegetasi riparian.

#Pembagian Fungsi Enam Kolam Konservasi

Setiap kolam dirancang memiliki fungsi spesifik guna mendukung seluruh siklus hidup ikan lokal:

  • Kolam 1: Habitat alami dan lokasi pemijahan.
  • Kolam 2: Area pemijahan dan pembesaran.
  • Kolam 3: Fokus area pembesaran ikan.
  • Kolam 4: Habitat alami dan pembesaran.
  • Kolam 5: Area pembesaran dan aktivitas edukasi.
  • Kolam 6: Pusat edukasi serta konservasi utama.

Rancangan ini juga menetapkan zona inti yang steril dari aktivitas penangkapan ikan. Di sekeliling zona inti, dibuat buffer zone (zona penyangga) selebar 2–3 meter yang ditanami vegetasi riparian untuk menekan erosi dan menjaga kualitas air. Selain itu, jalur inspeksi selebar dua meter turut disiapkan agar aktivitas pemantauan tidak mengganggu habitat alami.

Stien Angelie Manuhutu menjelaskan bahwa pemetaan lokasi dilakukan dengan mengombinasikan citra satelit Google Earth Pro, perangkat lunak QGIS, serta survei GPS handheld di lapangan.

“Seluruh titik penting dipetakan mulai dari akses kawasan, titik pemantauan kualitas air, vegetasi riparian, hingga habitat alami ikan sehingga desain benar-benar menyesuaikan kondisi lapangan,” terang Stien dalam paparannya, Selasa, (21/7/2026).

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel
Aprillianti Nafiah dan Maulidatul Ula Bahari mempresentasikan konsep PETROTIRTA untuk konservasi Kali Surabaya berkelanjutan. | Foto: Supriyadi

#Pemanfaatan Habitat Buatan dan Vegetasi Riparian

Untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, tim merancang struktur habitat buatan menggunakan material alam seperti batu kali, kayu gelondongan, ranting tenggelam, dan bambu. Struktur ini menyerupai tempat berlindung alami ikan untuk berkembang biak.

Pada bagian bantaran, tim merekomendasikan penanaman pohon bambu, trembesi, waru, dan ketapang. Vegetasi ini berfungsi memperkuat tebing sungai dari bahaya erosi sekaligus menjaga kestabilan suhu perairan. Seluruh desain dipastikan tetap mempertahankan fungsi utama sempadan sungai sesuai aturan tata ruang yang berlaku.

Konsep PETROTIRTA: Kolaborasi Multipihak

Pada sesi yang sama, Aprillianti Nafiah (Mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Brawijaya) bersama Maulidatul Ula Bahari (Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember) memaparkan konsep PETROTIRTA.

Program PETROTIRTA mengintegrasikan tiga pilar utama:

  1. Fish Sanctuary (Suaka Ikan)
  2. Mini Hatchery (Pusat pembibitan edukatif untuk masyarakat dan pelajar)
  3. Penanaman Pohon Riparian

Konsep ini mendorong skema kolaborasi multipihak yang melibatkan ECOTON, PT Petrokimia Gresik, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Dinas Perikanan, Pemerintah Desa Sumengko, akademisi, hingga masyarakat setempat.

Melalui rancangan teknis dan skema kolaborasi ini, para mahasiswa berharap kawasan di Desa Sumengko dapat menjadi percontohan (model) pemulihan ekosistem bantaran sungai berkelanjutan berbasis riset ilmiah dan partisipasi publik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *