Lewati ke konten

MOZAIK: Pasang Barakuda Permanen di Kali Tebu Surabaya

| 5 menit baca |Ekologis | 20 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Jaring barakuda dipasang permanen di Kali Tebu, Surabaya, untuk menahan sampah plastik. Di lokasi yang sama, komunitas Eco Enzyme Nusantara menuangkan larutan yang diklaim membantu memperbaiki kualitas air sungai.

Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang diinisiasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) kembali memasang jaring sampah plastik jenis barakuda di Kali Tebu, Surabaya, Ahad, (10/5/2026).

Pemasangan dilakukan setelah uji coba trash boom yang menunjukkan besarnya volume sampah yang mengalir di sungai. Dalam 24 jam, pada Jumat – Sabtu, 23–24 April 2026, sebanyak 907 kilogram sampah berhasil diangkat dari aliran sungai.

Dari jumlah saat itu, 757 kilogram berupa sampah anorganik yang didominasi plastik sekali pakai. Sebanyak 150 kilogram lainnya merupakan sampah organik. Pendataan dilakukan

Manajer Data dan Informasi Program MOZAIK, Alaika Rahnatullah mengatakan, penggunaan barakuda dimaksudkan untuk menahan sampah yang terus masuk ke badan sungai.

“Barakuda ini akan dipasang secara permanen. Setiap dua hari sekali kami lakukan brand audit untuk mengetahui merek-merek sampah plastik yang paling banyak mencemari Kali Tebu,” kata Alaika.

Barakuda memiliki bentuk menyerupai pagar terapung yang menahan sampah di satu titik sehingga mudah diangkat dan dipilah. Metode ini memungkinkan tim memantau jenis sampah yang paling banyak mencemari sungai.

“Dan nanti (Senin, (11/5/2026) kami akan melakukan pengambilan atau penirisan, yang kemudian kami timbang. Sampah kami pilah di TPS3R Kedung Cowek, (Kecamatan Bulak) seperti yang lalu, “ ucap Alaikai.

Tim MOZAIK bersama komunitas Eco Enzyme Nusantara menuangkan larutan eco enzyme ke aliran Kali Tebu, Surabaya, setelah jaring sampah plastik jenis barakuda terpasang, Ahad, 10 Mei 2026. Larutan hasil fermentasi kulit buah dan sayuran itu diklaim membantu memperbaiki kualitas air di sungai yang tercemar limbah domestik. | Foto: Supriyadi

#Brand Audit Menelusuri Jejak Produsen

Setelah sampah tertahan di jaring, tim MOZAIK akan memilah kemasan berdasarkan merek dan jenis produk. Data itu dipakai untuk mengidentifikasi perusahaan yang kemasannya paling dominan ditemukan di sungai.

Menurut Alaika, pendekatan ini penting untuk menunjukkan jika pencemaran plastik tidak semata-mata disebabkan perilaku masyarakat. Produsen kemasan juga memiliki tanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan produknya.

“Sekali lagi saya katakan, pecemaran lingkungan yang diakibatkan plastik sekali pakai juga  ada keterlibatan produsen, “ kata Alaika.

Hasil brand audit selama ini digunakan Ecoton sebagai bahan advokasi kepada pemerintah dan industri. Data lapangan menunjukkan kemasan sekali pakai dari produk makanan, minuman, dan kebutuhan rumah tangga mendominasi sampah di berbagai sungai di Jawa Timur.

“Pencemaran lingkungan akibat plastik sekali pakai tidak hanya disebabkan perilaku masyarakat. Produsen juga terlibat karena merek-merek mereka terus kami temukan mendominasi sampah di sungai,” jelas Alaika.

Menurut Alaika, pemasangan barakuda di Kali Tebu diharapkan menjadi langkah jangka panjang untuk mengurangi beban sampah plastik. Melalui pengangkatan rutin dan brand audit yang dilakukan setiap dua hari,

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Tim MOZAIK ingin memperoleh gambaran lebih jelas mengenai sumber pencemaran sekaligus mendorong pertanggungjawaban produsen atas kemasan sekali pakai yang mencemari lingkungan, “ jelas Alaika.

Ketua Eco Enzyme Nusantara, Christiany Tanzil, menjelaskan cara penggunaan eco enzyme yang dibuat dari fermentasi kulit buah dan sayuran di Kali Tebu, Surabaya, Ahad, 10 Mei 2026. Larutan tersebut diklaim dapat membantu memperbaiki kualitas air dan mengurangi bau pada saluran yang tercemar limbah domestik. | Foto: Supriyadi

#Eco Enzyme Diklaim Menormalkan pH Sungai

Setelah pemasangan barakuda, komunitas Eco Enzyme Nusantara turut menuangkan larutan eco enzyme ke aliran sungai. Larutan dibuat dari fermentasi kulit buah dan sayuran.

Salah satu anggota komunitas, Wilopo, menjelaskan eco enzyme diyakini membantu mengurai polutan yang tertinggal di air. “Ini eco enzyme dibuat dari kulit buah sama sayur,” kata Wilopo sambil menunjukkan kode QR yang berisi petunjuk pembuatan dan penggunaan.

Wilopo menjelaskan satu galon air cukup diberi satu tetes eco enzyme dan didiamkan selama dua kali 24 jam. Untuk aplikasi di sungai, komunitas itu menggunakan 150 mililiter konsentrat yang diencerkan dengan air.

Sementara itu, Ketua Eco Enzyme Nusantara, Surabaya, Christiany Tanzil, mengatakan larutan eco enzym telah diterapkan di saluran air kawasan Pasar Atom, Surabaya. Berdasarkan, lanjut Christiany, pengukuran komunitasnya, pH air di lokasi itu meningkat hingga mendekati netral.

“Karena sudah dites, pH-nya jadi 7,” kata Christiany.

Christiany mengatakan larutan dituangkan dengan perbandingan satu banding seratus. Pada tahap awal, aplikasi dilakukan seminggu sekali, kemudian dua minggu sekali, sebulan sekali, hingga dua bulan sekali.

“Ini lokasi kedua yang kami tangani secara langsung. Sebelumnya kami juga pernah menuangkan eco enzyme di Sungai Jalan Sulawesi bersama komunitas Eco Enzyme dari seluruh Indonesia. Untuk penerapan rutin, selama ini kami fokus di sungai kawasan Pasar Atom,” kata Christiany.

Menurut Christiany, setelah penggunaan rutin, air di lokasi yang ditangani tidak lagi berbau. Endapan di dasar saluran naik ke permukaan dan biota sungai mulai kembali terlihat, termasuk ikan yang disebut tumbuh lebih besar.

“Setelah rutin diberi eco enzyme, saluran yang sebelumnya berbau kini tidak lagi mengeluarkan bau menyengat. Endapan dan kerak di dasar sungai terangkat ke permukaan sehingga lebih mudah dibersihkan, “ ucap Christiany.

“Jika endapan itu dibiarkan menumpuk, sungai bisa menjadi dangkal dan memicu banjir. Setelah kondisi air membaik, biota sungai juga mulai kembali hidup,” jelasnya.

Klaim mengenai manfaat eco enzyme belum disertai hasil penelitian ilmiah independen yang dipublikasikan. Di Kali Tebu, fokus utama Program MOZAIK tetap pada pengangkatan sampah plastik dan pendataan merek produk yang paling banyak mencemari sungai.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *