Lewati ke konten

Manifestasi Tebing Kali Tebu

| 2 menit baca |Kali Tebu | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi

Di balik air Kali Tebu yang hitam dan penuh sampah, tersimpan kisah tentang kota, perubahan budaya, dan hati manusia yang perlahan menjauh dari sungainya.

Penulis: Supriyadi, Jurnalis di TitikTerang.co.id

DI tebing Kali Tebu, Surabaya, burung masih hinggap. Kupu-kupu masih melintas di antara riuh Jalan Pogot. Saya selalu heran. Apa yang mereka lihat dari sungai yang airnya hitam dan berbau itu?

Barangkali mereka melihat sesuatu yang tak lagi kita lihat.

Orang mudah berkata: warga kota telah kehilangan kepedulian.

Belum tentu.

Simokerto dan Tambaksari masih menyimpan kebiasaan lama. Di Gading, Kali Kedinding, Sidotopo Wetan hingga Tambak Wedi, orang masih berdatangan ketika ada kematian. Mereka masih bergotong royong saat ada pernikahan. Tetapi ketika rumah-rumah dibangun, gotong royong pelan-pelan menghilang. Tukang menggantikan tetangga. Tembok bertambah tinggi. Pagar makin rapat. Yang tumbuh bukan lagi halaman bersama, melainkan milik masing-masing.

Lalu sungai berada di luar pagar.

Setiap lima tahun, kampung kembali riuh. Bendera berkibar. Pengeras suara berbunyi. Wajah-wajah memenuhi tembok. Orang memilih wali kota dengan harapan hidup berubah.

Sesudah itu, Kali Tebu kembali menerima nasibnya.

Dalam bahasa Jawa ada kata mala. Ia bukan peristiwa. Ia keadaan. Sesuatu yang menempel pelan-pelan, lalu dianggap bagian dari hidup. Seperti karat pada besi. Seperti lumut pada batu. Orang baru sadar ketika semuanya telah tertutup.

Korupsi bekerja demikian. Ia tidak lahir sebagai kejahatan besar. Ia dimulai dari pembiaran. Dari kebiasaan mencari pembenaran. Dari keyakinan bahwa satu pelanggaran kecil tak akan mengubah apa-apa.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Barangkali mala juga begitu.

Ia membuat kita tetap merasa menjadi orang baik, sambil melempar plastik ke sungai. Ia membuat kita merasa telah menunaikan kewajiban kepada Tuhan, tetapi lupa bahwa air yang mengalir juga memiliki hak untuk tetap bersih.

Maka Kali Tebu menjadi tempat yang aneh. Di satu sisi azan berkumandang, pengajian berlangsung, gereja dipenuhi jemaat, pura dan vihara merawat upacaranya. Di sisi lain, popok sekali pakai hanyut bersama plastik, styrofoam, dan bahkan celana dalam. Semuanya bergerak pelan mengikuti arus, seolah itulah takdir sungai.

Saya tidak tahu apakah sungai bisa sakit.

Yang saya tahu, sungai selalu memperlihatkan keadaan manusia yang tinggal di tepinya. Air tak pandai menyembunyikan apa pun. Ia membawa semua yang kita buang. Ia menyimpan semua yang kita anggap selesai.

Burung itu masih datang.

Kupu-kupu itu masih melintas.

Mungkin mereka tidak sedang mencari sungai yang bersih.

Mungkin mereka sedang mengingatkan bahwa yang paling mudah tercemar bukan air, melainkan hati yang terlalu lama berdamai dengan kebiasaan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *