Lewati ke konten

Penelitian Siswa MTsN 2 Sidoarjo Temukan Mikroplastik di Daun, Air, Udara, dan Kulit

| 3 menit baca |Mikroplastik | 92 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Temuan di Lokasi: Penelitian siswa menemukan paparan mikroplastik pada media daun, air, udara, hingga kulit di lingkungan MTsN 2 Sidoarjo.
  • Aksi Edukasi: Sebanyak 50 siswa meneliti mikroplastik secara langsung sebagai langkah awal mendukung persiapan Program Adiwiyata Kabupaten.
  • Ancaman Kesehatan: Hasil pengamatan menunjukkan mikroplastik telah menyebar di area sekolah dan berpotensi terpapar kepada seluruh warga sekolah.
  • Komitmen Sekolah: Temuan ini memperkuat kebijakan pemilahan sampah terawasi serta pembentukan budaya pengurangan plastik sekali pakai.

Penelitian Siswa Ungkap Sebaran Mikroplastik

SEBANYAK 50 siswa kelas VII, VIII, dan IX MTsN 2 Sidoarjo mengikuti kegiatan edukasi sekaligus penelitian sederhana mengenai mikroplastik pada Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan sekolah menuju Program Adiwiyata Kabupaten, sekaligus memperkuat kebijakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Guru MTsN 2 Sidoarjo, Aprilia Mulyani, menyampaikan bahwa pihak sekolah terus mengembangkan berbagai langkah konkret untuk membangun budaya peduli lingkungan.

“Pengurangan plastik sekali pakai menjadi salah satu fokus utama kami. Selain itu, sekolah akan menerapkan pemilahan sampah secara terawasi agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh sebagai kebiasaan sehari-hari,” tutur Aprilia di sela kegiatan.

Praktik penelitian ini merupakan bagian dari Microplastic Journey, rangkaian Kampanye Offline PlasticEcoCycle Indonesia yang dikembangkan oleh K-Green Foundation (KGF) dengan dukungan Hyundai Motor Group dan Community Chest of Korea.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengambil sampel dari berbagai media di lingkungan sekolah, meliputi daun, udara, air, dan kulit. Pengamatan mikroskopis menunjukkan mikroplastik telah teridentifikasi pada seluruh media yang diperiksa:

  • Sampel Daun: Ditemukan 6 partikel fiber, 2 granul, dan 4 fragmen.
  • Sampel Kulit: Ditemukan 28 partikel fiber dan 9 fragmen.
  • Sampel Air: Ditemukan 9 partikel fiber, 4 granul, dan 2 fragmen.

Sebaran ini memperlihatkan bahwa partikel mikroplastik telah melayang dan mengendap di sekitar lingkungan sekolah, sehingga berpotensi terpapar ke tubuh warga sekolah saat beraktivitas sehari-hari.

Safa Nadifah mengamati sampel mikroplastik melalui mikroskop saat edukasi lingkungan di MTsN 2 Sidoarjo. Foto: Jofany Ahmad

#Edukasi Melalui Pengalaman Langsung

Selain menerima materi teori, para siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pengambilan sampel, pengamatan, hingga identifikasi jenis partikel. Pendekatan praktik lapangan ini dirancang agar peserta menyadari bahwa pencemaran plastik bukanlah isu abstrak yang jauh, melainkan ancaman nyata yang ada di sekitar mereka.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Melalui pengalaman mengamati langsung partikel mikroplastik, sekolah berharap para siswa terdorong untuk membatasi konsumsi kemasan plastik sekali pakai. Langkah ini juga menjadi bagian dari pembentukan karakter siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.

Siswa MTsN 2 Sidoarjo menyimak materi bahaya mikroplastik sebagai bekal meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Foto: Jofany Ahmad

#Langkah Awal Menuju Sekolah Adiwiyata

Salah satu peserta, Safa Nadifah, siswi kelas VII MTsN 2 Sidoarjo, mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai kondisi ekologis di lingkungan tempatnya belajar. Ia berharap temuan ini dapat menggugah kesadaran rekan-rekannya.

“Dengan adanya kegiatan ini, saya berharap teman-teman dapat lebih menjaga lingkungan, khususnya di area sekolah. Ternyata di sekitar kita sudah banyak ditemukan mikroplastik,” ungkap Safa.

Pihak sekolah menargetkan kegiatan ini menjadi pijakan awal untuk membuka gerbang Adiwiyata di MTsN 2 Sidoarjo melalui aksi nyata. Pembentukan kebiasaan baru ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem sekolah yang lebih bersih, sehat, dan minim risiko pencemaran plastik.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *