Lewati ke konten

Hari Anak Nasional, TK Siti Maryam Depok Tanamkan Identitas Budaya Lewat Kolaborasi Keluarga Sejak Dini

| 4 menit baca |Ide | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Puluhan siswa TK Siti Maryam di Depok memperingati Hari Anak Nasional 2026 dengan menelusuri asal-usul budaya keluarga masing-masing.
  • Sekolah melibatkan orang tua untuk mengenalkan suku, bahasa daerah, tradisi, hingga benda budaya kepada anak sejak usia dini.
  • Kegiatan ini menjadi upaya memperkuat identitas budaya anak di tengah derasnya pengaruh budaya populer global.
  • Anak-anak mempresentasikan hasil penelusuran budaya keluarga melalui pakaian adat, benda tradisional, dan cerita di depan kelas.
  • Sekolah menilai kolaborasi orang tua dan guru menjadi fondasi penting dalam membangun karakter serta masa depan anak.

PERINGATAN Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di TK Siti Maryam, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, berlangsung berbeda. Pada Kamis (23/7/2026), puluhan siswa mengenakan pakaian adat Nusantara sekaligus menelusuri asal-usul budaya keluarga melalui kegiatan belajar yang melibatkan orang tua secara langsung.

Program tersebut menjadi bentuk penerapan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Sekolah mengajak anak mengenali suku, daerah asal, bahasa, hingga tradisi keluarganya sebagai bagian dari pendidikan karakter sejak usia dini.

“Pembelajaran terbaik dimulai dari rumah. Ketika anak-anak membagikan cerita tentang suku atau daerah asal orang tuanya di depan teman-temannya, timbul rasa saling menghargai keberagaman sejak usia dini,” ujar Wali Kelas TK A, Ratna Hidayati.

Selanjutnya Ratna menjelaskan, beberapa hari sebelum kegiatan berlangsung, setiap siswa mendapat tugas berdiskusi bersama orang tua mengenai asal-usul keluarga. Orang tua juga diminta mengajarkan ungkapan sederhana dalam bahasa daerah, seperti ucapan selamat pagi, permisi, dan terima kasih.

Keberagaman latar belakang keluarga siswa menjadi bahan pembelajaran utama. Orang tua murid berasal dari berbagai daerah, antara lain Sidoarjo, Makassar, Tuban, Jakarta (Betawi), Solok, Gresik, Ngawi, Jepara, Depok, Tegal, Yogyakarta, Serang, Surabaya, hingga wilayah Sunda.

Menurut pihak sekolah, pendekatan tersebut dipilih agar anak mengenal identitasnya melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi juga dimulai dari percakapan sederhana di rumah bersama keluarga.

Siswa TK Siti Maryam memberi makan burung sebagai bagian pembelajaran kepedulian terhadap lingkungan dan makhluk hidup. | Foto: News Release

#Pameran Budaya Hadirkan Cerita dari Berbagai Daerah Nusantara

Pada hari pelaksanaan, ruang kelas berubah menjadi pameran budaya interaktif. Setiap anak membawa benda yang mewakili daerah asal orang tuanya sekaligus menjelaskan makna benda tersebut di hadapan guru dan teman-temannya.

Berbagai benda tradisional dipamerkan, mulai dari anyaman khas Jepara, keranjang, tatakan makan, topeng ondel-ondel, hingga permainan tradisional seperti congklak, kelereng, dan ketapel. Ada pula siswa yang membawa foto Monumen Nasional, Abang None, pakaian adat, kliping daerah, hingga album keluarga mengenakan busana tradisional.

Presentasi sederhana itu menjadi sarana melatih keberanian berbicara sekaligus memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada anak-anak. Guru mendampingi setiap siswa agar penyampaian cerita berlangsung santai dan mudah dipahami.

Kegiatan tersebut mendapat respons positif dari para orang tua. Mereka menilai tugas sekolah memberi kesempatan untuk berdialog dengan anak mengenai sejarah keluarga yang selama ini belum banyak dibahas.

Candra Satriavi Putri atau Mama Asta mengatakan dirinya bersama suami memanfaatkan tugas tersebut untuk mengenalkan budaya dari daerah asal masing-masing. Menurutnya, Asta menjadi lebih tertarik mempelajari lagu daerah, wayang, hingga makna asal-usul keluarganya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Alhamdulillah Asta jadi mau lebih mengenal tentang kota kelahiran saya dan suami,” kata Candra.

Pengalaman serupa dirasakan Ayu Wulan atau Mama Elrumi. Ia mengenalkan perbedaan logat bahasa Jawa dari Yogyakarta dan Tegal sekaligus menjelaskan fungsi kain tradisional Yogyakarta dalam kehidupan sehari-hari.

“Elrumi sangat antusias bisa belajar mengenal bahasa Jawa dengan logat yang berbeda dari Yogyakarta dan Tegal,” ujar Ayu.

Siswa TK Siti Maryam memberi makan kambing sebagai bagian pembelajaran kepedulian terhadap lingkungan dan makhluk hidup. | Foto: News Release

#Pendidikan Karakter Dipadukan dengan Kepedulian terhadap Lingkungan

Selain mengenalkan budaya, TK Siti Maryam tetap menjalankan kegiatan rutin yang menjadi bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak memberi makan burung merpati, kambing, ikan, serta menyiram tanaman di lingkungan sekolah.

Pihak sekolah menilai kebiasaan tersebut penting untuk membangun kepedulian terhadap makhluk hidup dan lingkungan sejak usia dini. Nilai mencintai budaya dipadukan dengan kebiasaan menghargai alam sebagai satu kesatuan dalam proses pembelajaran.

Rangkaian Hari Anak Nasional masih berlanjut pada hari berikutnya. Siswa ditugaskan membawa makanan tradisional khas daerah orang tua atau fotonya, kemudian menjelaskan bahan dan asal-usul kuliner tersebut di depan kelas.

Kepala TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, SE., menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan keamanan, tetapi juga menyangkut pembentukan identitas budaya yang kuat. Karena itu, sekolah melibatkan keluarga sebagai mitra utama dalam proses pendidikan.

“Orang tua harus melindungi anaknya agar tidak tercerabut dari akarnya di era modern ini. Pendidikan anak merupakan kolaborasi antara orang tua dan sekolah, dan dari akar yang kuat itulah si anak akan membangun masa depannya,” tegas Sigit.

Melalui kolaborasi antara sekolah dan keluarga, pengenalan budaya lokal, serta pembiasaan mencintai lingkungan, TK Siti Maryam menjadikan peringatan Hari Anak Nasional bukan sekadar kegiatan seremonial. Sekolah berupaya membangun karakter anak melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mereka tumbuh mengenal identitasnya sekaligus menghargai keberagaman Indonesia.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *