- Sebanyak 50 siswa SMP Islam Tanwirul Afqar mengikuti edukasi mikroplastik yang dipadukan dengan praktik identifikasi partikel di lingkungan sekolah.
- Fiber menjadi jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan pada air keran, permukaan tubuh siswa, hingga air minum dalam tumbler.
- Pengamatan mahasiswa Universitas Brawijaya mencatat 33 fiber pada air keran dan hingga 40 fiber pada sampel usap tubuh siswa.
- Guru mengakui sekolah masih menghadapi kendala dalam pengelolaan sampah sehingga pembakaran sampah residu masih terjadi.
- Kerja sama edukasi antara ECOTON dan sekolah telah berlangsung sekitar lima tahun sebagai bagian dari penguatan literasi lingkungan.
SEBANYAK 50 siswa kelas VIII dan IX SMP Islam Tanwirul Afkar di Wadang, Tempel, Sidoarjo mengikuti kegiatan edukasi mikroplastik yang diselenggarakan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).
Kegiatan merupakan bagian dari kampanye Offline PlasticEcoCycle Indonesia yang dikembangkan K-Green Foundation (KGF) dengan dukungan Hyundai Motor Group dan Community Chest of Korea. Juga diikuti mahasiswa dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan dan mahsiswa Agroekoteknologi Universitas Brawijaya.
Kegiatan kokurikuler ini menggabungkan materi mengenai bahaya mikroplastik dengan praktik mengidentifikasi partikel mikroplastik pada berbagai sampel di lingkungan sekolah.
Guru kelas VII dan IX, Leni Eka Putri, mengatakan kegiatan itu bertujuan mengenalkan sumber pencemaran mikroplastik sekaligus mendorong perubahan perilaku siswa dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Upaya kami mengurangi penggunaan plastik, botol-botol dipisahkan supaya tidak dibakar. Tetapi pengelolaan sampah di sekolah memang belum maksimal,” ujar Leni di sela kegiatan siswanya, Rabu, 29 Juli 2026.
Temuan praktik menunjukkan fiber menjadi jenis mikroplastik yang paling dominan. Kelompok Sharon Rosearly Dwijaya, menemukan tujuh partikel fiber pada sampel air keran, sementara kelompok Fathimah Maitsaa’ Maulida mencatat 10 fiber dan 40 fragmen pada sampel yang diamati.

#Mikroplastik pada Wajah dan Tangan
Hasil identifikasi dari kelompok Marysca Andra Prima Aji menunjukkan area aula mengandung 23 fiber, 5 fragmen, dan 2 granule. Pada sampel air keran ditemukan 33 fiber, 7 fragmen, dan 3 granule, sedangkan sampel lain berkode “Zini” mengandung 28 fiber dan 9 fragmen.
Pengamatan terhadap tubuh siswa juga menunjukkan keberadaan mikroplastik. Kelompok Kirana Nur’ Aini Prasasti menemukan pada Hafsah setelah tiga kali usap terdapat 20 fiber, 10 granule, dan 1 fragmen. Pada Lala yang diusap lima kali ditemukan 11 fiber, 34 granule, dan 3 fragmen, sedangkan Hanna yang diusap tujuh kali mengandung 40 fiber, 16 granule, 7 fragmen, serta 1 film.
Kelompok Marcellina Santoso menemukan mikroplastik pada wajah Kalvin berupa 9 fiber, 1 granule, dan 6 fragmen. Sampel tangan Daffa mengandung 5 fiber, 2 fragmen, dan 6 film, sedangkan air minum dalam tumbler masih mengandung 2 fiber dan 1 fragmen.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Rangkaian hasil tersebut memperlihatkan bahwa partikel mikroplastik ditemukan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga pada media yang bersentuhan langsung dengan aktivitas harian siswa.

#Pengurangan Plastik Masih Terkendala
Guru IPS Elfandari Solina Astandi mengatakan sekolah telah bekerja sama dengan ECOTON selama sekitar lima tahun dan telah beberapa kali menerima kegiatan edukasi lingkungan.
“Kami sangat senang karena sering ada kegiatan edukasi dari ECOTON. Minimal kegiatan ini mengenalkan bahaya mikroplastik kepada anak-anak, “kata Elfandari Solina Astandi, yang biasa disapa Bu Nina ini.
Namun ia mengakui pengelolaan sampah di sekolah masih terbatas pada pemilahan. Karena belum tersedia fasilitas pengolahan sampah.
“Sejauh ini kami masih sebatas memilah sampah. Untuk sampah residu memang masih ada yang dibakar. Waktu itu juga pernah ada saran, agar bekerja sama dengan pengelola sampah, tetapi memang belum bisa terlaksana sampai sekarang,” ujar Nina.
Sementara itu Guru IPA Rifaldi Dwi Kurniawan menambahkan, sekolah telah mengimbau siswa membawa botol minum isi ulang sebagai langkah mengurangi plastik sekali pakai. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil karena masih ada siswa yang membeli minuman dalam kemasan plastik di kantin.
“Di sekolah sendiri sejauh ini memang masih belum bisa maksimal karena lingkungannya juga kurang mendukung. Untuk penggunaan plastik minuman sudah kami siasati dengan meminta anak-anak membawa botol tumbler sendiri, tetapi masih ada satu atau dua anak yang membeli minuman dalam kemasan plastik. Penataan kantin juga belum bisa dilakukan karena koordinasinya harus melalui yayasan pesantren,” jelas Rifaldi.***