Lewati ke konten

Tiga Makroalga di Pesisir Italia Tunjukkan Strategi Berbeda Menghadapi Perubahan Musim

| 3 menit baca |Ide | 1 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Research Editor: Fio Atmadja
  • Tiga makroalga di pesisir Italia menunjukkan strategi berbeda menghadapi perubahan musim, suhu, cahaya, dan tekanan lingkungan.
  • Penelitian setahun mengungkap cara tiga makroalga mengatur pertumbuhan, fotosintesis, pertahanan, dan penggunaan sumber daya.
  • Perubahan musim menggeser dominasi makroalga di Bacoli, sekaligus memperlihatkan strategi bertahan berbeda setiap spesies.
  • Dictyota, Cladophora, dan Jania berbagi habitat, tetapi memiliki strategi berbeda dalam tumbuh dan menghadapi perubahan lingkungan.
  • Studi terbaru mengungkap kemampuan adaptasi tiga makroalga menghadapi dinamika lingkungan pesisir Mediterania sepanjang satu tahun.

TIGA jenis makroalga yang hidup di kawasan pesisir berbatu Bacoli, Teluk Pozzuoli, Italia, memiliki strategi berbeda dalam menghadapi perubahan lingkungan sepanjang tahun. Temuan penelitian itu dilakukan Ermenegilda Vitale, Simonetta Fraschetti, Rosa Donadio, Giovanni Libralato, Claudia Manfredonia, Lucia Buono, dan Carmen Arena.

Mereka memantau komunitas makroalga selama satu tahun di Punta Pennata Natural Reserve. Hidup pada habitat yang sama, yakni alga cokelat Dictyota spiralis, alga hijau Cladophora prolifera, dan alga merah berkapur Jania pedunculata var. adhaerens.

Para peneliti juga memantau perubahan tutupan alga: kemampuan fotosintesis, kandungan pigmen dan karbohidrat, karakteristik struktur talus, serta produksi senyawa antioksidan. Yang mereka lakukan dalam enam periode, April 2024 – Mei 2025.

Hasil penelitian menunjukkan komunitas makroalga mengalami perubahan dominasi. D. spiralis mendominasi pada musim semi, sementara C. prolifera dan J. pedunculata lebih banyak ditemukan pada musim panas dan musim gugur.

Vitale dan tim menemukan bahwa aktivitas fotosintesis tertinggi terdapat pada Cladophora prolifera. Namun, ketiga spesies tidak menunjukkan tanda-tanda stres selama periode pengamatan.

Perbedaan strategi terlihat lebih jelas pada cara ketiga spesies mengalokasikan sumber daya. C. prolifera dan J. pedunculata memiliki kandungan bahan kering talus lebih tinggi serta luas spesifik talus lebih rendah. Menurut peneliti, karakter tersebut menunjukkan strategi konservasi sumber daya dengan alokasi karbon lebih besar untuk membangun biomassa struktural.

BACA JUGA:  Solusi Pencemaran Global: Ilmuwan Temukan 'Plastik Hidup' yang Terurai dalam 6 Hari

Sebaliknya, D. spiralis memiliki luas talus dan konsentrasi tanin lebih tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa spesies ini lebih banyak menginvestasikan karbon pada jaringan fotosintetik sekaligus pertahanan kimia.

Cladophora dan Jania menunjukkan strategi konservasi sumber daya, sedangkan Dictyota mengadopsi strategi yang berorientasi pada pertumbuhan, ” tulis pada kesimpulan penelitian dalam versi resmi sciencedirect, 14 Agustus 2026.

Dalam abstrak penelitian, penulis menyatakan bahwa perbedaan karakter berkaitan dengan strategi konservasi sumber daya pada Cladophora dan Jania, sementara Dictyota lebih berorientasi pada pertumbuhan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Perubahan lingkungan juga memengaruhi respons fisiologis ketiga spesies. Suhu dan intensitas cahaya yang lebih tinggi pada musim panas berkaitan dengan penurunan aktivitas antioksidan pada seluruh spesies. Peneliti mengaitkan perubahan tersebut dengan respons fisiologis terhadap potensi tekanan foto-oksidatif.

#Makroalga dan kesehatan ekosistem pesisir

Makroalga memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir. Organisme ini berfungsi sebagai produsen primer sekaligus menyediakan struktur habitat bagi berbagai organisme laut. Kemampuan makroalga merespons perubahan cahaya, suhu, nutrien, salinitas, dan kondisi pasang surut juga membuatnya penting dalam kajian perubahan lingkungan.

Penelitian Vitale dan kolega menjadi penting karena komunitas makroalga di kawasan Punta Pennata sebelumnya masih relatif belum terdokumentasi. Kawasan tersebut berada di Campi Flegrei, wilayah vulkanik yang memiliki karakter geologi unik dan mengalami fenomena bradyseism.

Para peneliti menilai respons cepat ketiga spesies terhadap perubahan musim memberikan gambaran mengenai proses adaptasi lokal dan dinamika ekologis makroalga di kawasan pesisir tersebut. Temuan itu juga dapat menjadi dasar untuk memahami bagaimana spesies berbeda merespons ancaman antropogenik dan perubahan iklim.

BACA JUGA:  Evolusi Ikan akibat Krisis Iklim Jadi Ancaman Baru bagi Perikanan Indonesia

Dengan demikian, ketiga makroalga tersebut tidak sekadar hidup berdampingan di satu habitat. Mereka menjalankan strategi yang berbeda dalam menggunakan sumber daya—sebagian lebih banyak berinvestasi pada struktur tubuh dan ketahanan, sementara lainnya mengutamakan pertumbuhan, fotosintesis, dan pertahanan kimia.

Perbedaan strategi tersebut menjadi petunjuk penting untuk memahami mengapa suatu spesies mampu bertahan ketika kondisi lingkungan berubah, sementara spesies lain mungkin lebih rentan terhadap tekanan ekologis di masa mendatang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *