- Rekaman suara etnomusikolog Jaap Kunst tahun 1930 kini kembali ke Flores Timur.
- Proyek restitusi digital ini dipimpin oleh Barbara Titus bersama tim peneliti IRGSC.
- Pengembalian arsip memicu respons emosional, rekonstruksi tarian, hingga perdebatan mengenai keberlanjutan tradisi.
- Masyarakat lokal menemukan kembali suara leluhur serta perbedaan pola lagu lama.
- Program ini menjembatani dokumen sejarah di Amsterdam dengan ingatan kolektif warga NTT.
STEFANUS Raja Koten mendadak hening saat mendengarkan rekaman suara di Lewoloba, Flores Timur. Tokoh berusia 75 tahun itu mengenali lagu lama buatan hampir satu abad lalu. Tubuhnya merinding tatkala menyadari urutan lagu tersebut berbeda dari catatan sejarah.
“Aduh, saya merinding,” bisik Stefanus sambil memegang kedua lengannya yang disampaikan kepada TitikTerang lewat rilis, Kamis, 13 Agustus 2026.
Suara emosional itu berasal dari 182 lagu pada 75 silinder lilin karya Jaap Kunst. Etnomusikolog Belanda itu merekam tradisi Nusantara, Koleksi Universiteit van Amsterdam yang dibuat pada 1930. Proyek restitusi digital itu, mengembalikan arsip suara tua tersebut ke tanah asalnya.

#Hubungkan Arsip Amsterdam
Tim peneliti menyerahkan salinan digital kepada Pemerintah NTT di Kupang pada September 2024. Namun, kurator Barbara Titus menilai penyerahannya belum menjangkau masyarakat di Kupang. Karena desa-desa Flores Timur jaraknya lebih dari 200 kilometer dari pusat provinsi.
Masyarakat lokal menyimpan pengetahuan lisan dalam dokumen perpustakaan. Tercatat rapi. Pengetahuan itu mencakup identitas penyanyi, konteks sosial, hingga makna ritual. Tim akhirnya mendatangi Lewoloba, Waibao, Riangkroko, serta Larantuka, memutar rekaman itu.
Kedatangan arsip memicu tanggapan beragam di setiap desa yang dikunjungi. Warga Lewoloba langsung merespons rekaman, meragukan catatan urutan lagu milik Kunst. Mereka kemudian menggelar pertunjukan tari dan nyanyian balasan pada 9 Agustus 2026.

#Kepunahan Tradisi Budaya
Di Waibao, rekaman tua itu memicu keprihatinan tokoh adat Yakobus Sogan Brinu. Yakobus Sogan Brinu menangis, karena generasi muda ia nilai kurang berminat mempelajari tradisi tandak. Ia khawatir perubahan struktur lagu akan merusak sistem pengetahuan lokal.
“Perhatian terhadap lagu-lagu ini muncul ketika orang dari luar negeri datang. Tetapi setelah mereka pergi, perhatian itu hilang lagi,” ujar Sogan.
Namun, Barbara Titus berpendapat, perubahan bentuk tidak selalu berarti kepunahan. Tradisi ia nilai akan terus berkembang mengikuti perjalanan zaman masyarakatnya. Menurut Barbara, penafsiran tradisi tidak boleh terpaku secara kaku pada masa lalu.
“Tradisi selalu berubah,” ungkap Barbara mengenai dinamika budaya lokal.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Sebuah tradisi baru dianggap hilang jika ditetapkan harus persis dahulu. Perubahan bentuk tidak berarti hubungan masyarakat dengan tradisinya terputus,” lanjutnya.
Fenomena berbeda muncul di Riangkroko, saat warga mendengar suara nenek moyang. Seorang warga bernama Merien dapat mendengarkan suara kakeknya pertama kalinya. Sementara di Larantuka, lagu O Vos Omnes tetap hidup meski pelakunya berubah.
#Warisan Suara Masa Lalu
Perjalanan arsip Jaap Kunst membuktikan jika digitalisasi hanyalah langkah awal penyelematan. Nilai dokumen sejarah baru hidup saat bertemu dengan masyarakat pemiliknya. Peneliti memosisikan diri sebagai jembatan penghubung antara Amsterdam dan NTT.
Masyarakat kini memiliki ruang penuh untuk menentukan masa depan arsip tersebut. Barbara menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada hubungan antarmanusia. Pengembalian arsip membuka jalan bagi generasi muda untuk terhubung kembali.
“Itu pertama-tama membutuhkan pembangunan dan pemeliharaan hubungan, dan itu paling baik dilakukan bersama-sama,” ungkap Barbara.
Warisan budaya tidak lagi dipandang sbenda mati yang kaku. Ity adalah bagian dari sejarah, yang tumbuh dalam ingatan, praktik tubuh, serta interaksi sosial warga. Suara tua dari tahun 1930 kini menjadi pemantik kesadaran sejarah baru.***