- TPA Putri Cempo kembali terbakar, dengan area terdampak mencapai enam hektare pada Kamis sore.
- WALHI mencatat tiga kebakaran sepanjang 2026, dipengaruhi timbunan sampah dan akumulasi metana.
- Simulasi WALHI memperkirakan Putri Cempo menghasilkan 1.005 ton metana bersih selama 2025.
- Asap kebakaran memaksa lansia dan balita sekitar TPA mengungsi menuju Puskesmas Sibela.
- WALHI meminta pemerintah mengubah sistem TPA sekaligus mengurangi timbulan sampah sejak sumbernya.
TEMPAT Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Surakarta, kembali terbakar Kamis sore, (3/9/2026). Kebakaran tersebut berdampak pada lahan sekitar enam hektare.
Nur Cholis, Deputi Direktur WALHI Jawa Tengah, mengatakan kebakaran masih ditangani petugas. Api dilaporkan bermula dari Blok B kemudian merembet Blok D.
“Area titik awal diperkirakan sekitar 100 meter persegi,” ujar Cholis dalam laman resmi WALHI, Jumat, 4 Sepetember 2026. Menurutnya, kebakaran kali ini menambah daftar kejadian berulang sepanjang 2026.
WALHI mencatat kebakaran sebelumnya terjadi pada 6 dan 10 Juni. TPA Putri Cempo juga pernah mengalami kebakaran pada 2023.
Cholis menilai kondisi kemarau tidak dapat menjadi penjelasan tunggal kebakaran. “Persoalannya jauh lebih mendasar,” kata dia mengenai risiko berulang.
Menurut WALHI, faktor ekologis dan tata kelola saling meningkatkan risiko kebakaran. Timbunan sampah besar menghasilkan gas metana melalui proses pembusukan.
Dinas Lingkungan Hidup Surakarta sebelumnya mengaitkan open dumping dengan emisi metana. Gas tersebut berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Surakarta juga menyebut persoalan tersebut bersifat laten. Kebakaran disebut berulang hampir setiap musim kemarau di kawasan tersebut.

#Timbunan Sampah Menghasilkan Ribuan Ton Emisi
Wahyu Eka Styawan, Pengampanye Urban Berkeadilan WALHI Nasional, memaparkan simulasi emisi. Perhitungan tersebut menggunakan metode First Order Decay dari IPCC.
Menurut Wahyu, simulasi memiliki tingkat akurasi sekitar 75 persen. Tingkat kepercayaannya menengah karena keterbatasan data historis timbulan sampah.
Pada 2024, Putri Cempo menerima timbulan sampah 153.360,91 ton. Simulasi menghasilkan 840,36 ton metana kotor dan 756,32 ton bersih.
“Angka tersebut setara 20.420,65 ton CO₂ ekuivalen,” ujar Wahyu. Perhitungan itu menunjukkan besarnya potensi emisi dari timbunan sampah.
Pada 2025, timbulan sampah diperkirakan mencapai 153.840,85 ton. Jumlah tersebut menghasilkan 1.117,07 ton metana kotor dan 1.005,36 ton bersih.
Emisi metana bersih 2025 diperkirakan setara 27.144,83 ton CO₂ ekuivalen. Wahyu menilai angka tersebut menunjukkan ancaman ekologis yang perlu ditangani.
“Potensi akumulasi metana relatif tinggi dan menjadi ancaman serius,” tegas Wahyu. Ia menyebut simulasi tersebut masih menggunakan data awal.
Menurut Wahyu, pengukuran berdasarkan kedalaman timbunan dapat menghasilkan angka lebih besar. “Kajian mendalam sangat mungkin menunjukkan jumlah metana lebih tinggi,” ujarnya.
Ia meminta pengurangan sampah dilakukan sejak sumbernya sesuai UU Nomor 18 Tahun 2008. Menurutnya, tanpa pengurangan tersebut, beban timbunan akan terus bertambah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
WALHI menyebut suhu tinggi dapat menjadi pemicu kebakaran di lokasi. Namun, suhu bukan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya api.
Timbunan sampah, pembusukan, akumulasi panas, dan metana saling berkaitan. Sistem pengelolaan yang bermasalah juga meningkatkan risiko kebakaran berulang.

#Asap Mengancam Warga Sekitar TPA
Kebakaran juga berdampak terhadap warga yang tinggal dekat kawasan TPA. Menurut Cholis, asap membuat kualitas udara semakin memburuk.
Lansia dan balita di RT 03/RW 39 termasuk kelompok terdampak. Mereka tinggal di ujung TPA, seberang Kali Jengglong.
“Kelompok rentan harus diungsikan ke Puskesmas Sibela,” kata Cholis. Evakuasi dilakukan karena warga berisiko mengalami gangguan pernapasan.
WALHI menyebut warga menghadapi paparan debu dan asap kebakaran. Kondisi tersebut semakin berat ketika kebakaran berlangsung di kawasan TPA.
Cholis mengingatkan asap berpotensi menjangkau kawasan permukiman sekitar. Fasilitas publik seperti sekolah, kampus, dan rumah sakit juga berisiko terdampak.
“Pengelolaan sampah yang buruk juga merupakan persoalan keadilan lingkungan,” tegas Cholis. Menurutnya, warga terdekat menerima risiko terbesar dari persoalan tersebut.
WALHI meminta pemerintah mengevaluasi sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Evaluasi diperlukan karena kebakaran Putri Cempo terjadi berulang kali.
Menurut WALHI, penanganan tidak cukup hanya memadamkan api. Pemerintah perlu mengurangi risiko yang muncul dari sistem pengelolaan.
WALHI meminta Kementerian Lingkungan Hidup segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Pemprov Jawa Tengah dan Pemkot Surakarta juga diminta mengambil langkah konkret.
Wahyu mendorong transformasi pengelolaan TPA menuju sistem controlled landfill. Pemerintah juga diminta mengurangi timbulan sampah mulai dari sumber.
Selain itu, WALHI meminta pekerja sektor informal dilibatkan dalam transisi. Menurut Wahyu, pelibatan tersebut penting untuk menciptakan pengelolaan sampah berkeadilan.
“Seluruh kebijakan dan implementasinya harus berjalan konsisten,” ujar Wahyu. Ia memperingatkan kebakaran berpotensi kembali terjadi tanpa pembenahan sistem.
WALHI menilai kejadian Putri Cempo menjadi evaluasi tata kelola sampah. Perubahan sistem diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap lingkungan dan masyarakat.***