Lewati ke konten

Tim Pelopor Kampung Mozaik Surabaya Susun Rencana Kerja 120 Hari Pengelolaan Sampah

| 3 menit baca |Kali Tebu | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Refleksi Pengalaman Diri: Peserta diajak memetakan kekuatan personal melalui metode Manggala Diri sebelum merancang aksi.
  • Penguatan Kader TOP: Kader Tangguh, Optimis, dan Percaya mendorong edukasi door to door serta klodi.
  • Pendekatan Karakter Warga: Diskusi kelompok memetakan masyarakat yang kontra guna merumuskan strategi edukasi secara personal.
  • Aksi Komposter Lingkungan: Pengurus Sidotopo Wetan mewajibkan pemilahan organik dan pengolahan limbah demi kebersihan sungai.
  • Target Rencana Kerja: Tim pelopor menetapkan prioritas gerakan kebersihan kampung untuk target 120 hari ke depan.

Erica Damayanti, Media Communication Ecoton berkontribusi dalam artikel ini

TIM Pelopor Kampung Mozaik Surabaya, yang diinisiasi Ecoton, menggelar diskusi penyusunan rencana kerja pengelolaan sampah warga. Kegiatan ini memetakan potensi diri peserta sebelum merumuskan langkah konkret penanganan limbah permukiman.

Fasilitator memandu perwakilan kelurahan mengenali kekuatan personal lewat metode reflektif Manggala Diri. Pendekatan tersebut difasilitasi Ridho Saiful Ashadi dari Komunitas Relawan Inspiratif dan Perkumpulan SAHABAT KAMPUNG.

Mujitianingsih, peserta asal Simokerto, membagikan inspirasinya dalam membangun relasi sosial demi gerakan lingkungan.

“Kebiasaan bergaul dan membangun relasi menjadi bagian penting untuk mencari cara mengurangi sampah dari rumah,” kata Mujitianingsih, saat berlangsungnya acara di Surabaya, Jumat, (21/8/2026).

Warga Kapas Madya Baru dan Sidotopo Wetan turut mengaitkan memori masa kecil dengan kerja sama. Pengalaman positif tersebut dirangkum menjadi simbol keunikan kelompok yang adaptif, ramah, serta solutif.

Para peserta menilai bahwa perubahan lingkungan harus berawal dari kesadaran individu serta keluarga. Rumah tangga menjadi benteng utama dalam membentuk kebiasaan baru pemilahan sampah harian secara konsisten.

#Aksi Kader TOP dan Terobosan Pengurangan Limbah

Diskusi berkembang pada penguatan peran Kader Tangguh, Optimis, dan Percaya (TOP) di tingkat rukun warga. Para kader menyadari lingkungan bersih memberi dampak tumbuh kembang yang sehat bagi anak-anak.

BACA JUGA:  Benua Dunia Mengering, Krisis Air Tawar Jadi Ancaman Global Baru

Peserta menuangkan gagasan melalui sticky note untuk memetakan tantangan serta peluang inovasi kebersihan. Forum merumuskan beberapa terobosan teknis yang dapat diterapkan secara langsung oleh warga kampung.

“Terobosan yang muncul antara lain pembentukan bank sampah, edukasi door to door, hingga pelatihan memilah,” kata Ridho.

Inovasi penanganan limbah sekali pakai juga menyasar penggunaan popok bayi serta pembalut kain alternatif. Penggunaan kain resep atau cloth diaper menjadi solusi ampuh mengurangi timbulan sampah plastik sulit terurai.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Warga Kapas Madya Baru berdiskusi membahas persoalan sampah dan merumuskan solusi pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. | Foto: Erica Damayanti

Kader Sidotopo Wetan menetapkan tugas harian mencakup pendampingan pemilahan sampah organik dan anorganik warga. Mereka memanfaatkan sarana komposter guna mengolah sisa dapur agar Kali Tebu tetap terjaga kebersihannya.

Pemetaan kelompok masyarakat yang pasif maupun kontra menjadi bagian penting dalam perencanaan strategi sosialisasi. Peserta menyadari imbauan formal belum cukup efektif mengubah kebiasaan lama warga yang enggan memilah.

#Pendekatan Humanis dan Rencana Aksi 120 Hari

Kelompok Simokerto menegaskan pentingnya mengubah pola komunikasi saat mengajak warga yang masih enggan memilah. Pendekatan emosional dinilai lebih ampuh melunakkan penolakan masyarakat terhadap program kebersihan lingkungan.

“Pendekatannya harus dengan hati, melihat apa yang mereka mau, kemudian mengajak mereka secara bertahap,” ucap Mujitianingsih.

Sementara itu, kelompok Tanah Kali Kedinding mengidentifikasi penyebab rendahnya partisipasi aktif warga dalam menjaga lingkungan. Faktor motivasi dan keberanian keluar dari zona nyaman menjadi catatan evaluasi mendasar para kader.

Mereka sepakat memberikan contoh nyata terlebih dahulu serta menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah lokal. Edukasi sejak dini dianggap mampu mempercepat pembentukan budaya sadar lingkungan di tengah masyarakat.

BACA JUGA:  KKN 149 UINSA Latih Warga Suko Olah Limbah Organik Jadi Pupuk Cair Hemat

Memasuki tahap akhir, setiap kelompok merumuskan 25 harapan sebelum mempersempitnya menjadi prioritas kerja jangka pendek. Mereka memanfaatkan kertas plano dan spidol warna untuk menyusun tahapan aksi secara terstruktur.

“Rencana kerja 120 hari ke depan fokus pada tindakan konkret yang terukur di lingkungan,” tegas Ridho.

Hari pertama workshop ditutup dengan sesi pendinginan dan refleksi bersama untuk mempererat rasa kebersamaan. Seluruh peserta kembali ke wilayah masing-masing dengan membawa rencana aksi yang siap dieksekusi.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *