- Pengurangan dari Rumah: Perwakilan warga kelurahan Surabaya berkolaborasi menekan timbulan sampah langsung dari lingkungan rumah tangga.
- Volume Buangan Tinggi: Timbulan sampah harian Surabaya menembus 1.800 ton, menuntut penanganan mendesak di tingkat komunitas.
- Kebijakan Pembatasan Plastik: Pemkot mengoptimalkan Perwali 16/2022 dan sistem data SIBASAM demi memangkas limbah plastik.
- Tantangan Perilaku Warga: Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan persepsi keliru atas fasilitas kebersihan masih membayangi.
- Prinsip Hirarki Zero Waste: Pelatihan mendorong kebiasaan memilah sampah mandiri serta pemetaan pola konsumsi harian.

Erica Damayanti, Media Communication Ecoton berkontribusi dalam artikel ini
PERWAKILAN masyarakat dari sejumlah kelurahan di Surabaya berkumpul dalam Workshop Kampung Mozaik, yang diinisiasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Kegiatan ini bertujuan merumuskan langkah nyata pengurangan sampah dari tingkat tapak.
Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memaparkan kebijakan pengelolaan sampah terkini. Mereka menegaskan pentingnya pemilahan dari sumber untuk menekan volume buangan.
Pengendali Dampak Lingkungan Hidup Staf Tim Kerja Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat DLH Surabaya, Lina Pratiwi Rahmadewi, ST, menyampaikan urgensi aksi warga tersebut.
“Timbulan sampah di Kota Surabaya saat ini mencapai sekitar 1.800 ton per hari, sehingga pengurangan dari sumber perlu dilakukan melalui prinsip 3R dan pemilahan dari rumah,” ujar Lina dalam acara yang berlangsung di Leedon Hotel, Jumat, (21/8/2026).
Lina menambahkan bahwa sinergi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSH) dan Kampung Pancasila sangat krusial. Kolaborasi ini memperkuat pelaksanaan Peraturan Wali Kota Surabaya Nomor 16 Tahun 2022.
Pemkot Surabaya juga mengenalkan SIBASAM sebagai sarana pengukur data persampahan. Platform digital ini membantu warga memantau penurunan volume limbah secara transparan.
“Pemkot Surabaya juga mengenalkan SIBASAM sebagai sarana pengukur data persampahan. Platform digital ini membantu warga memantau penurunan volume limbah secara transparan,” ujar Lina.
#Tantangan Pengelolaan Sampah dan Penegakan Aturan
Sesi diskusi interaktif menjadi wadah warga menyampaikan persoalan riil di lingkungan. Berbagai kendala lapangan terungkap, mulai masalah infrastruktur hingga rendahnya kesadaran.
Roni, perwakilan RW 13 Sidotopo Wetan, memaparkan masalah salah kaprah fungsi fasilitas. Wilayahnya sering mengalami penumpukan limbah kiriman karena menjadi titik pertemuan kawasan.
“Keberadaan trash boom justru dipersepsikan sebagian masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah,” kata Roni.
Roni menjelaskan bahwa penyediaan sarana fisik belum cukup tanpa edukasi publik. Perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi kunci utama kebersihan aliran air.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelMasalah penegakan aturan juga disuarakan oleh pemerintah di tingkat kelurahan. Lurah Kapas Madya Baru, Krisna, mengeluhkan aksi buang sampah sembunyi-sembunyi.
“Masih ada masyarakat yang membuang sampah ke sungai pada malam hari, dan sanksi belum menimbulkan efek jera,” tegas Krisna.
Krisna menilai pendekatan hukum perlu diperkuat dengan pengawasan warga yang ketat. Upaya ini penting untuk menghentikan kebiasaan buruk yang merusak lingkungan.
“Pendekatan hukum perlu diperkuat dengan pengawasan warga yang ketat. Upaya ini penting untuk menghentikan kebiasaan buruk yang merusak lingkungan,” ucap Krisna.

#Penerapan Hirarki Zero Waste dari Rumah
Materi dilanjutkan dengan pemahaman hirarki zero waste bagi seluruh peserta workshop. Pemateri menekankan pentingnya mencegah timbulan limbah daripada sekadar membersihkan tempat penampungan.
Pada sesi kedua, praktisi Zero Waste Ecoton, Tonis Afrianto membagikan panduan praktis pengurangan sampah. Ia mengajak peserta memulai langkah dari tindakan yang paling mudah.
“Pengurangan sampah dapat dimulai dari hal yang paling mudah, yaitu dengan mengenali kembali pola konsumsi sehari-hari dan melihat jenis sampah yang paling banyak kita hasilkan,” jelas Tonis.
Tonis menegaskan bahwa pemetaan pola konsumsi mempermudah warga membatasi belanja berpotensi sampah. “Pengurangan sampah dapat dimulai dari hal yang paling mudah, yaitu dengan mengenali kembali pola konsumsi sehari-hari. Langkah sederhana ini berdampak besar jika dilakukan secara konsisten,” tegas Tonis.
#Rencana Aksi Bersama untuk Lingkungan
Pengelolaan sampah berbasis kampung membutuhkan komitmen jangka panjang seluruh lapisan warga. Keberhasilan program ini bergantung pada konsistensi edukasi di tingkat komunitas.
Warga diharapkan mampu memanfaatkan platform SIBASAM untuk mencatat kemajuan pemilahan harian. Data tersebut menjadi evaluasi berkala bagi pengurus lingkungan dan DLH.
Sinergi antara Pemkot Surabaya dan warga menjadi fondasi utama penanganan sampah. Kampung Mozaik membuktikan bahwa perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil warga. ***