Lewati ke konten

Benua Dunia Mengering, Krisis Air Tawar Jadi Ancaman Global Baru

| 5 menit baca |Ekologis | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Laporan terbaru Bank Dunia mengungkap pengeringan benua terjadi cepat dan masif, mendorong krisis air tawar lintas negara yang mengancam pangan, ekonomi, dan ekosistem global.

Pengeringan benua kini bukan lagi isu lingkungan yang terfragmentasi dan bersifat lokal. Fenomena ini telah berkembang menjadi ancaman global yang berdampak langsung pada ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, hingga keseimbangan ekosistem dunia. Laporan terbaru Bank Dunia berjudul Continental Drying: A Threat to Our Common Future memberikan gambaran paling rinci sejauh ini tentang skala, penyebab, dan konsekuensi dari hilangnya air tawar di daratan Bumi.

Dalam laporan tersebut, para peneliti menunjukkan, benua-benua dunia kini kehilangan air tawar lebih cepat daripada lapisan es di kutub. Air yang hilang itu pada akhirnya mengalir ke lautan, menjadikan pengeringan daratan sebagai penyumbang utama kenaikan muka air laut global saat ini.

“Selama ini kita cenderung memandang krisis air sebagai persoalan lokal,” kata Fan Zhang, penulis utama studi tersebut. “Namun laporan ini menunjukkan, masalah air lokal dapat dengan cepat melintasi batas negara dan berubah menjadi tantangan internasional.”

Setiap tahun, sekitar 324 miliar meter kubik air tawar hilang dari daratan dunia. Jumlah ini setara dengan kebutuhan air tahunan sekitar 280 juta orang. Jika dibayangkan dalam skala waktu, dunia kehilangan air setara empat kolam renang ukuran Olimpiade setiap detik.

#Benua Kehilangan Air, Dunia Menanggung Dampaknya

Temuan Bank Dunia didasarkan pada analisis data selama 22 tahun dari misi satelit GRACE milik NASA, yang mengukur perubahan kecil gravitasi Bumi akibat pergeseran massa air. Data tersebut kemudian dipadukan dengan informasi ekonomi, penggunaan lahan, serta dimasukkan ke dalam model hidrologi dan pertumbuhan tanaman.

Hasilnya menunjukkan, rata-rata kehilangan air tawar global mencapai sekitar 3 persen dari total “pendapatan” bersih tahunan dunia dari curah hujan. Namun, di wilayah kering dan semi-kering, angka ini melonjak hingga 10 persen. Artinya, kawasan yang sejak awal rentan justru mengalami tekanan paling besar.

Asia Selatan, Afrika sub-Sahara, sebagian Timur Tengah, dan kawasan barat daya Amerika Serikat termasuk wilayah yang terdampak paling serius. Di kawasan-kawasan ini, pengeringan benua tidak hanya berarti berkurangnya air minum, tetapi juga ancaman langsung terhadap mata pencaharian jutaan orang.

“Di Afrika sub-Sahara, guncangan kekeringan mengurangi jumlah lapangan kerja antara 600.000 hingga 900.000 setiap tahun,” ujar Zhang. “Kelompok yang paling terdampak adalah mereka yang paling rentan, seperti petani kecil dan buruh tani tanpa lahan.”

Dampak krisis air juga menjalar ke negara-negara yang secara geografis relatif basah. Negara-negara industri yang bergantung pada impor pangan ikut menanggung risiko ketika wilayah pemasok utama mengalami kekeringan berkepanjangan. Dengan kata lain, krisis air di satu kawasan dapat memicu ketidakstabilan harga pangan dan rantai pasok global.

#Air Tanah dan Pertanian Jadi Titik Kritis

Laporan Bank Dunia menegaskan bahwa penyebab utama pengeringan benua saat ini adalah pengambilan air tanah yang berlebihan. Di banyak negara, air tanah masih dianggap sebagai sumber daya yang “bebas dipompa” karena lemahnya regulasi dan pengawasan.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Perubahan iklim memperparah kondisi tersebut. Meningkatnya suhu global mempercepat penguapan air, mencairkan salju dan gletser lebih cepat, serta mengurangi kelembapan tanah. Akibatnya, ketergantungan pada air tanah justru meningkat ketika sumber air permukaan semakin terbatas.

Sektor pertanian memegang peran kunci dalam persoalan ini. Secara global, pertanian menyumbang sekitar 98 persen jejak penggunaan air tawar dunia. Banyak sistem irigasi masih tidak efisien, sementara pola tanam sering kali tidak disesuaikan dengan ketersediaan air lokal.

Ilustrasi pendaki menyusuri alam yang kian rentan, merefleksikan ancaman kekeringan global terhadap lanskap, sumber air tawar, dan keberlanjutan kehidupan manusia. | Foto: Michał from Pixabay

“Jika efisiensi penggunaan air pertanian dapat ditingkatkan hingga mencapai tolok ukur tertentu, jumlah air yang dapat dihemat akan sangat besar,” kata Zhang. Secara global, peningkatan efisiensi pada 35 tanaman utama dunia hingga tingkat rata-rata dapat menghemat air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tahunan 118 juta orang.

Berbagai kebijakan dinilai dapat menekan laju pengeringan, mulai dari pembatasan pengambilan air tanah, penyesuaian harga air dan energi, hingga pemberian insentif bagi petani untuk beralih ke teknologi irigasi hemat air. Menariknya, laporan tersebut menemukan bahwa negara-negara dengan harga energi lebih tinggi cenderung mengalami pengeringan lebih lambat karena biaya pemompaan air tanah menjadi faktor pembatas.

#Perdagangan Air Virtual dan Jalan Menuju Solusi

Pada tingkat global, laporan ini menyoroti pentingnya konsep perdagangan air virtual, yakni pertukaran air dalam bentuk produk pertanian dan barang lain yang membutuhkan banyak air. Ketika negara-negara yang kekurangan air mengimpor produk-produk tersebut, mereka sejatinya sedang “mengimpor air” dan menghemat cadangan domestik mereka.

Antara tahun 2000 hingga 2019, perdagangan air virtual global mencapai sekitar 475 miliar meter kubik per tahun, setara dengan 9 persen air yang digunakan untuk menanam 35 tanaman terpenting dunia. Salah satu contoh yang dinilai berhasil adalah Yordania, yang menghemat sekitar 7 miliar meter kubik air dalam satu dekade dengan mengimpor gandum dan jagung dari negara lain.

Namun, perdagangan air virtual juga menyimpan risiko. Produksi alfalfa di wilayah kering Amerika Serikat untuk diekspor ke Arab Saudi, misalnya, menguntungkan negara pengimpor tetapi mempercepat pengurasan akuifer di wilayah produsen. Tanpa tata kelola global yang adil, solusi ini berpotensi hanya memindahkan krisis dari satu wilayah ke wilayah lain.

Laporan Bank Dunia menyimpulkan bahwa solusi krisis air harus ditempuh melalui tiga pendekatan utama: pengelolaan permintaan air yang lebih ketat, perluasan pasokan melalui daur ulang dan desalinasi, serta alokasi air yang adil dan berbasis data ilmiah.

“Jika perubahan kebijakan, inovasi keuangan, dan teknologi dapat berjalan seiring, penggunaan air tawar yang berkelanjutan masih sangat mungkin dicapai,” kata Zhang. Meski tantangan besar menanti, laporan ini menegaskan masih ada ruang untuk optimisme—asal dunia bergerak cepat dan kolektif menghadapi krisis yang kian nyata ini.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *