Lewati ke konten

Siswa SD IT Harapan Umat Jember Belajar Pertanian Langsung Lewat Eduwisata Upakarya Bumi

| 6 menit baca |Opini dan Cerita Mahasiswa | 4 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Sebanyak 28 siswa belajar bertani langsung melalui eduwisata di kebun Wirolegi.
  • Tim Promahadesa Unej mengajak siswa mengenal tanaman melalui praktik berkebun langsung.
  • Lahan belakang Masjid Nurul Ihsan kini berubah menjadi ruang belajar pertanian.
  • Siswa mempraktikkan penyemaian, pindah tanam, pemupukan, penyiraman, hingga memanen kangkung.
  • Program Upakarya Bumi menghubungkan pendidikan pertanian, kepedulian lingkungan, dan masyarakat Wirolegi.

Penulis: Hilda Rahma Aliya, mahasiswa Penyuluhan Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jember dan anggota Tim Promahadesa. Ia terlibat dalam kegiatan Eduwisata Upakarya Bumi di Kelurahan Wirolegi, Jember, yang memberikan edukasi pertanian kepada siswa SD IT Harapan Umat.

 

SEBANYAK 28 siswa kelas 3 SD IT Harapan Umat mengikuti eduwisata pertanian. Kegiatan berlangsung di lahan belakang Masjid Nurul Ihsan, Wirolegi, Jember, 21 Agustus 2026.

Tim Promahadesa Wirolegi Universitas Jember mengemas kegiatan melalui program “Upakarya Bumi”. Ketua tim, Afeb Deri Marscelino, mengatakan siswa diajak belajar pertanian melalui pengalaman langsung.

“Tujuan utama kegiatan eduwisata kemarin yakni memberikan informasi secara langsung melalui praktik lapang,” ujar Afeb. Ia menyebut kegiatan juga diarahkan menanamkan karakter cinta lingkungan kepada siswa.

Lahan yang sebelumnya cenderung terbengkalai kini dimanfaatkan sebagai ruang belajar pertanian. Tim mengembangkan area tersebut menjadi raised bed garden melalui kolaborasi bersama berbagai pihak.

Menurut Afeb, pembelajaran lapangan dipilih agar siswa lebih dekat dengan proses pertanian. “Lingkungan sekitar juga diharapkan menjadi sumber pembelajaran yang mudah dijangkau anak-anak, “ jelasnya.

Siswa mengikuti garden tour sambil menyimak penjelasan tentang beragam tanaman dan budidaya di kebun. | Foto: M. Hikam Alfarizi

#Mengenal Kebun dan Beragam Tanaman

Para siswa datang bersama guru sebelum mengikuti pembukaan kegiatan. Tim kemudian melakukan presensi dan membagikan modul pembelajaran kepada seluruh peserta.

Setelah berdoa dan menerima penjelasan teknis, siswa dibagi menjadi enam kelompok. Pembagian kelompok dilakukan agar praktik berjalan lebih terarah dan interaktif.

Kegiatan pertama berupa garden tour, yaitu mengajak siswa menyusuri area kebun. Tim memperkenalkan berbagai tanaman yang dibudidayakan dalam sejumlah raised bed.

Siswa melihat jagung merah, pakcoy, kale, bawang merah, dan berbagai sayuran. Tanaman tersebut menjadi bagian dari kebun yang dikembangkan melalui program Upakarya Bumi.

BACA JUGA:  Sachet dan Subsidi Terselubung Negara di Balik Krisis Lingkungan Indonesia

Area kebun juga memiliki pepaya, rosella, bunga matahari, dan zinnia. Bunga jengger ayam serta beberapa tanaman berbunga lainnya turut menghiasi kawasan tersebut.

Buah naga dibudidayakan menggunakan wadah tong yang ditempatkan sekitar kebun. Menurut tim, keberagaman tanaman membuat kegiatan pengenalan terasa lebih kontekstual.

Setelah berkeliling, siswa diarahkan menuju empat raised bed untuk praktik. Area tersebut digunakan khusus untuk memperkenalkan tahapan dasar budidaya tanaman.

Tanaman terong, kangkung, bayam Brazil, dan cabai terdapat di area praktik. Siswa kemudian mulai mengenal proses budidaya dari tahap awal.

Pada praktik pertama, siswa belajar melakukan penyemaian benih kangkung. Tim menjelaskan bahwa penyemaian merupakan tahap awal sebelum tanaman dipindahkan.

Siswa kemudian mencoba memindahkan bibit pakcoy menuju media tanam. Bibit ditempatkan pada ruang kosong di raised bed tanaman terong dan cabai.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyiraman dan pemupukan tanaman secara langsung. Siswa mendapat kesempatan melakukan tahapan tersebut dengan pendampingan tim.

Afeb mengatakan praktik lapangan menjadi bagian penting dalam metode pembelajaran Upakarya Bumi. Menurutnya, pengalaman langsung dapat membantu siswa memahami proses pertanian secara lebih konkret.

“Yang paling ingin tim tanamkan ke siswa adalah karakter cinta lingkungan,” kata Afeb. Ia juga berharap kegiatan tersebut mendorong munculnya inovasi dari lingkungan sekitar.

Siswa SD IT Harapan Umat Jember mengikuti edukasi pertanian dan praktik berkebun bersama Tim Promahadesa. | Foto: M. Hikam Alfarizi

#Dari Menanam hingga Memanen Kangkung

Interaksi siswa dan tim berlanjut setelah praktik budidaya selesai. Tim membuka sesi tanya jawab mengenai materi yang baru saja dipelajari.

Siswa yang mampu menjawab pertanyaan mendapat kesempatan mengikuti aktivitas tambahan. Dua siswa diberi kesempatan memberi pakan ayam setelah menjawab pertanyaan dengan tepat.

Dua siswa lainnya mendapat kesempatan memberi pakan ikan setelah menjawab pertanyaan berbeda. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari pengalaman belajar berbasis lingkungan.

Suasana semakin interaktif ketika siswa saling berlomba memberikan jawaban. Tim memberikan jajanan kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan untuk kelompoknya.

BACA JUGA:  Desakan Transisi Energi Adil Menguat dari Jakarta

Menurut salah stu guru SD IT Harapan Umat, Amru, metode tersebut membuat pembelajaran terasa lebih menyenangkan. Ia menilai siswa dapat memahami materi melalui pengalaman yang mereka alami sendiri.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Kegiatan seperti ini membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, kontekstual, dan mudah dipahami anak,” ungkap Amru.

Pengalaman di kebun juga dinilai dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa. Amru menyebut kepedulian lingkungan turut berkembang melalui kegiatan praktik tersebut.

Para siswa kemudian mengikuti kegiatan pemanenan sebagai bagian akhir eduwisata. Setiap siswa mendapat kesempatan memanen dua tanaman kangkung dari area kebun.

Hasil panen dikumpulkan berdasarkan kelompok sebelum dibawa pulang masing-masing siswa. Kegiatan tersebut memperlihatkan hubungan antara proses budidaya dan hasil pertanian.

Amru mengatakan pengalaman tersebut membantu anak memahami proses di balik makanan sehari-hari. Menurutnya, siswa dapat melihat langsung bagaimana tanaman dirawat hingga menghasilkan pangan.

Pemilihan siswa kelas 3 juga mempertimbangkan pengalaman belajar mereka sebelumnya. Para siswa telah mengenal praktik bercocok tanam melalui pembelajaran Sains di sekolah.

Sekolah juga memiliki kegiatan outing class yang mendukung pembelajaran luar ruang. Karena itu, tawaran program Upakarya Bumi mendapat persetujuan pihak sekolah.

Kepala sekolah, wali kelas, dan guru terkait memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Amru juga menilai program lapangan sesuai dengan karakter pembelajaran siswa kelas 3.

Sekolah berharap kegiatan edukasi pertanian dapat terus dikembangkan pada masa mendatang. Pengembangan tersebut mencakup fasilitas maupun materi yang diberikan kepada peserta.

“Kami berharap program edukasi seperti ini dapat terus dikembangkan,” ungkap Amru, yang menurutnya, pengalaman langsung biasanya lebih berkesan bagi anak-anak.

Siswa mempraktikkan pindah tanam bibit pakcoy di raised bed demplot pertanian. | Foto: M. Hikam Alfarizi

#Menjaga Keberlanjutan Kebun Bersama Masyarakat

Upakarya Bumi tidak berhenti setelah kegiatan eduwisata bersama siswa selesai. Tim Promahadesa melanjutkan pemanfaatan kebun melalui kolaborasi dengan masyarakat sekitar.

BACA JUGA:  Karhutla Berulang dan Siklus Pembiaran: Negara Hanya Sibuk Padamkan Api, Bukan Tindak Korporasi

Tim bersama Komunitas Nanduro mendatangi rumah warga yang menjadi pengurus Masjid Nurul Ihsan. Mereka menyerahkan hasil budidaya berupa pakcoy kepada warga tersebut.

Penyerahan hasil panen menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebun. Tim ingin raised bed garden terus memberikan manfaat setelah kegiatan siswa selesai.

Menurut tim, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pengembangan program Upakarya Bumi. Kebun diharapkan tetap produktif dan dapat digunakan masyarakat secara berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut memperluas fungsi lahan dari sekadar area budidaya. Lahan juga berkembang menjadi ruang pertemuan antara pendidikan dan aktivitas masyarakat.

Afeb mengatakan lingkungan dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan inovasi siswa. Ia berharap pengalaman tersebut membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak usia sekolah.

“Menumbuhkan inovasi siswa lewat lingkungan,” kata Afeb ketika menjelaskan tujuan program. Pendekatan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam pelaksanaan Upakarya Bumi.

Bagi sekolah, pembelajaran luar ruang memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran dalam kelas. Anak-anak dapat menyaksikan sekaligus melakukan proses yang sebelumnya hanya dipelajari secara teori.

Kata Amru, pengalaman tersebut berpotensi membuat materi lebih mudah diingat siswa. Karena itu, sekolah berharap program serupa dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan.

Melalui Upakarya Bumi, lahan di Wirolegi mendapat fungsi baru sebagai ruang pendidikan. Pertanian, lingkungan, dan keterlibatan masyarakat dipertemukan dalam satu kegiatan pembelajaran.

Sebanyak 28 siswa menjadi bagian dari proses tersebut melalui praktik berkebun langsung. Mereka belajar mulai dari mengenal tanaman, menanam, merawat, hingga memanen.

Kegiatan itu menunjukkan pembelajaran pertanian dapat dilakukan melalui ruang yang dekat. Lahan masyarakat dapat menjadi tempat anak mengenal pangan sekaligus lingkungan sekitarnya.

Bagi Tim Promahadesa Wirolegi Unej, pengalaman tersebut menjadi bagian pengembangan program berkelanjutan. Bagi siswa, kebun menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori dengan praktik.

Dengan pendekatan tersebut, Upakarya Bumi berupaya memperkenalkan pertanian sejak usia sekolah. Program juga mendorong anak melihat lingkungan sebagai bagian penting dari proses belajar.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *