Lewati ke konten

ECOTON Gelar Pelatihan Budidaya Ikan Lokal di Petokolan Sejati ATINA Sidoarjo

| 3 menit baca |Ide | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • ECOTON melatih 10 peserta mengenal budidaya ikan lokal dan pentingnya menjaga ekosistem Kali Surabaya.
  • Kelompok perempuan Wadulink belajar mengenali ikan lokal sebagai bagian keanekaragaman hayati sungai.
  • Pelatihan menghubungkan budidaya ikan lokal dengan kualitas air dan keberlanjutan pangan masyarakat.
  • Peserta mempelajari ikan lokal, kualitas habitat, benih, serta pengelolaan perairan dari praktisi tambak.
  • Gerakan Greenbelt Movement memperluas pengetahuan perempuan tentang ikan lokal dan ekosistem Kali Surabaya.

ECOLOGICAL Observation and Wetlands (ECOTON) menggelar kunjungan belajar dan pelatihan budidaya ikan lokal Kali Surabaya. Kegiatan berlangsung di pentokolan udang windu dan bandeng Desa Banjar Kemuning, Sedati, Sidoarjo.

Sebanyak 10 peserta mengikuti kegiatan tersebut, termasuk kelompok perempuan Wadulink. Mereka selama ini aktif menjaga vegetasi dan sempadan melalui Greenbelt Movement.

“Bagi kami, menjaga Kali Surabaya bukan hanya tentang menjaga airnya tetap bersih,” ujar Amalia Fibrianty dalam keterangan tertulis, Selasa, (8/9/2026).

Peserta menyimak penjelasan tentang budidaya berkelanjutan, kualitas perairan, dan pengelolaan tambak tradisional di lokasi pembelajaran. | Foto: Fully Syafi

#Ikan Lokal Menjadi Fokus Pelatihan

Amalia merupakan Koordinator Gerakan Budidaya Ikan Lokal Kali Surabaya. Menurutnya, ikan lokal merupakan bagian penting kehidupan ekosistem sungai.

Peserta mempelajari keanekaragaman hayati perairan serta teknik budidaya ikan. Mereka juga memperoleh pengetahuan pengelolaan perairan dan ketersediaan benih berkualitas.

“Ikan-ikan lokal merupakan bagian dari ekosistem sungai yang harus kita kenali dan lindungi,” kata Amalia.

Menurut Amalia, mengenali ikan lokal perlu disertai pemahaman habitatnya. Kualitas air dan vegetasi sungai berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan ikan.

Kegiatan dilakukan melalui kunjungan belajar di kawasan budidaya. Peserta mendapatkan pembelajaran langsung mengenai praktik pengelolaan tambak.

Pengetahuan tersebut dihubungkan dengan keberadaan ikan lokal Kali Surabaya. Pengelolaan berkelanjutan diperlukan agar manfaat ekonomi tidak menghilangkan fungsi ekologis.

Peserta belajar budidaya ikan lokal melalui praktik langsung di kawasan pentokolan udang windu dan bandeng. | Foto: Fully Syafi

#Kualitas Air Berkaitan dengan Kehidupan Ikan

Sementara itu, Hendra Gunawan, Manager Inspektur PT Alter Trade Indonesia (Atina), menjelaskan hubungan lingkungan dengan budidaya. Kata Hendra, kualitas air menjadi salah satu faktor penting keberhasilan budidaya.

BACA JUGA:  Ketika Sampah Menggerogoti Masa Depan, Melalui Tubuh Pekerja Perempuan

Petambak berada di wilayah hilir dan menerima kondisi perairan dari hulu. Aktivitas di hulu dapat memengaruhi kondisi perairan kawasan hilir.

“Para petambak itu posisinya di hilir. Apapun yang terjadi di hulu, ya itu yang diterima semua sama petambak,” jelas Hendra.

Hendra juga menyebut keberadaan mangrove dan vegetasi sempadan penting. Vegetasi tersebut membantu menjaga kondisi lingkungan sungai maupun kawasan pesisir.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Kondisi habitat juga berkaitan dengan keberadaan biota perairan. Karena itu, perlindungan ikan lokal tidak dapat dipisahkan dari ekosistemnya.

Pembelajaran ikan lokal kemudian ditempatkan dalam konteks pengelolaan sungai. Masyarakat diajak memahami hubungan ikan, kualitas air, dan vegetasi.

Peserta mengamati udang hasil budidaya sambil mendapat penjelasan teknik pemeliharaan di kawasan pentokolan. | Foto: Fully Syafi

#Perempuan Wadulink Belajar Mengenali Ikan Lokal

Kelompok perempuan Wadulink menjadi bagian dari peserta kegiatan tersebut. Sebelumnya, mereka aktif dalam perlindungan vegetasi melalui Greenbelt Movement.

Kini pengetahuan mereka diperluas pada keanekaragaman hayati perairan. Ikan lokal menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran.

“Melalui gerakan Greenbelt Movement, kami ingin perempuan menjadi penggerak,” ujar Amalia.

Menurut Amalia, perempuan perlu memahami kehidupan biota Kali Surabaya. Pengetahuan tersebut dapat memperkuat keterlibatan mereka menjaga habitat ikan lokal.

Hendra menilai pengelolaan perikanan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, NGO, akademisi, swasta, dan masyarakat memiliki peran dalam kolaborasi.

“Keterlibatan semua stakeholder itu sangat penting, termasuk pemerintah, NGO, akademisi, swasta, juga masyarakat,” kata Hendra.

Ia juga menyebut pembinaan teknis penting bagi petambak tradisional. Menurutnya, kualitas benih dan regenerasi pembudidaya menjadi tantangan.

“Indonesia itu sebenarnya 85% adalah petambak tradisional. Pembinaan teknis untuk petambak tradisional itu penting,” jelasnya.

BACA JUGA:  Sungai Denai dalam Pusaran Kelalaian Kota

Bagi Amalia, pengenalan ikan lokal perlu berlanjut pada perlindungan. Tujuannya menjaga keanekaragaman hayati sekaligus keberlanjutan ekosistem Kali Surabaya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *