Lewati ke konten

Ikan Mati Massal di Kali Jagir Surabaya, ECOTON Sebut Fosfat Enam Kali Lipat Baku Mutu

| 5 menit baca |Sorotan | 16 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Supriyadi
  • Ikan mati massal ditemukan di Sungai Jagir, sementara fosfat mencapai enam kali lipat baku mutu.
  • ECOTON menemukan ikan mati dan mabuk, disertai kadar oksigen terlarut rendah.
  • Fosfat Sungai Jagir mencapai 1,2 mg/L, enam kali lipat ambang baku mutu.
  • Kematian ikan muncul setelah sungai berbusa, diduga membawa sisa material pemadaman kebakaran.
  • ECOTON meminta masyarakat menghentikan konsumsi ikan mati atau mabuk sementara pemeriksaan dilakukan.

KEMATIAN ikan secara massal ditemukan di Kali Jagir, Wonokromo, Surabaya. Tim Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menemukan ikan mati saat pemantauan Senin, 7 September 2026. “Beberapa jenis ikan yang ditemukan mati antara lain bader bang,” ujar Koordinator Ronda Sungai ECOTON 2026, Jofanny Ahmad Arianto.

Selain bader bang, ikan bader putih ditemukan dalam kondisi mati. Jofanny menyebut hampala dan keting turut ditemukan di lokasi. Sejumlah ikan lainnya menunjukkan kondisi mabuk atau munggut di permukaan.

Kondisi munggut ditandai pergerakan ikan yang tidak normal dekat permukaan. Jofanny mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya gangguan pada perairan. “Beberapa ikan menunjukkan kondisi tidak normal,” ujarnya saat pemantauan.

Tim ECOTON kemudian menguji kualitas air pada dua lokasi Kali Jagir. Pengujian dilakukan di Pintu Air Jagir dan depan Stikosa AWS. Hasil pengujian menunjukkan fosfat dan oksigen terlarut belum memenuhi baku mutu.

Hasil pengujian ECOTON menunjukkan DO rendah dan fosfat tinggi di dua lokasi Kali Jagir Surabaya. | Sumber: Eccoton

#Fosfat Tinggi, Oksigen Terlarut Rendah

Fosfat di Pintu Air Jagir tercatat mencapai 0,6 miligram per liter. Angka tersebut tiga kali lipat baku mutu Kelas II sebesar 0,2 mg/L. Koordinator investigasi ECOTON, Alaika Rahmatullah, menyebut temuan tersebut perlu diperhatikan.

“Konsentrasi fosfat tercatat tinggi,” kata Alaika. Di depan Stikosa AWS, konsentrasi fosfat mencapai 1,2 mg/L. Angka tersebut enam kali lipat dari baku mutu Kelas II.

BACA JUGA:  Bentala Unair Surabaya dan ECOTON: Dari Kampus, Perlawanan terhadap Plastik Sekali Pakai Dimulai

Parameter oksigen terlarut juga menunjukkan kondisi yang belum memenuhi standar. DO di Pintu Air Jagir tercatat sebesar 2,4 mg/L. Sementara itu, DO depan Stikosa AWS mencapai 3,1 mg/L.

Baku mutu DO Kelas II menetapkan kadar minimal empat miligram per liter. Alaika mengatakan kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap kualitas perairan. “Parameter fosfat dan DO belum memenuhi baku mutu,” katanya.

Menurut Alaika, fosfat tinggi dapat menjadi indikator beban nutrien. Nutrien berlebih dapat memicu pertumbuhan alga dan eutrofikasi. “Kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap penurunan oksigen terlarut,” ujarnya.

Saat kemarau, debit sungai cenderung mengalami penurunan signifikan. Alaika mengatakan kondisi tersebut dapat meningkatkan konsentrasi pencemar. “Konsentrasi pencemaran limbah industri maupun domestik akan meningkat tajam,” katanya.

Meski demikian, ECOTON belum menyimpulkan fosfat sebagai penyebab kematian ikan. Alaika mengatakan hasil pengujian tersebut masih bersifat awal. “Masih diperlukan pemeriksaan lanjutan dan kepastian penyebabnya,” ujarnya.

ECOTON mengukur kualitas air Kali Jagir setelah menemukan ikan mati dan kondisi perairan yang berubah. | Foto: M Iffan

#Busa Sungai Ditelusuri Pascakebakaran

Temuan ikan mati terjadi setelah permukaan sungai sebelumnya dipenuhi busa. Busa tersebut ditemukan di sekitar Bendungan Rolak Gunungsari, Surabaya. Berdasarkan konfirmasi PJT, material itu berasal dari proses pemadaman kebakaran PT Wings Surya Driyorejo Factory.

Pabrik tersebut berlokasi di Jalan Raya Driyorejo KM 22, Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik. Sisa material pemadaman kemudian terbawa mengikuti aliran sungai menuju wilayah hilir. ECOTON meminta dugaan keterkaitan tersebut ditelusuri melalui pemeriksaan kualitas air.

“Kondisi ini perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut,” ujar Alaika. Menurutnya, penelusuran diperlukan untuk memastikan sumber perubahan kualitas air. Pemeriksaan juga dibutuhkan untuk mengetahui penyebab kematian ikan.

ECOTON membandingkan kejadian tersebut dengan pencemaran Sungai Jaletreng. Kematian ikan sebelumnya terjadi setelah kebakaran gudang pestisida. Peristiwa tersebut berlangsung di Tangerang Selatan pada Februari 2026.

BACA JUGA:  Brantas Pulih, Rengkik Kembali: Yasinta Lawan Praktik 'Hajar Malam' demi Selamatkan Ikan Endemik

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

ECOTON juga mengingatkan tragedi pencemaran Sungai Rhine di Swiss pada 1986. “Ini sebagai pembanding, pengingat kita,” ujar Alaika. Saat itu, bahan kimia terbawa air pemadaman kebakaran menuju aliran sungai.

“Peristiwa saat itu menyebabkan kematian ikan dan gangguan ekosistem wilayah hilir,” lanjut Alaika. Perbandingan tersebut digunakan untuk menunjukkan potensi dampak pencemar dari wilayah hulu. Namun, ECOTON belum menyatakan kejadian Kali Jagir memiliki penyebab serupa.

Alaika menegaskan material pemadaman belum dapat dinyatakan penyebab kematian ikan. Hasil pengujian saat ini masih menjadi temuan awal ECOTON. “Diperlukan pemeriksaan parameter lain yang lebih komprehensif,” ujarnya.

Ikan mati mengapung di Kali Jagir, menjadi temuan penting di tengah dugaan perubahan kualitas air. | Foto: M Iffan

#Ikan Mati Diminta Tidak Dikonsumsi

ECOTON meminta masyarakat tidak menangkap ikan mati dari Kali Jagir. Imbauan tersebut juga berlaku terhadap ikan dalam kondisi mabuk. Jofanny meminta masyarakat tidak menjual ataupun mengonsumsi ikan tersebut.

“Kami khawatir jika polutan atau racun kimia lain masuk ke tubuh ikan,” ujar Jofanny. Menurutnya, zat pencemar berpotensi berpindah melalui konsumsi ikan. “Racun tersebut berpotensi berpindah dan masuk ke tubuh manusia,” lanjutnya.

Masyarakat diminta menunggu hasil pemeriksaan resmi terlebih dahulu. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian dan keamanan ikan. Jofanny menilai langkah tersebut penting untuk mencegah risiko konsumsi.

ECOTON juga mendorong pengawasan seluruh outlet limbah industri diperketat. Pengawasan tersebut perlu dilakukan sepanjang aliran Kali Jagir. Jofanny menilai pemantauan berkala belum cukup mendeteksi perubahan kualitas air.

“Memang perlu ada pengawasan terhadap outlet-outlet limbah industri,” tegas Jofanny. Ia mendorong pemasangan CCTV pada setiap outlet pembuangan. Sensor kualitas air juga dinilai perlu dipasang secara terintegrasi.

BACA JUGA:  Riset Delapan Mahasiswa Ungkap Risiko Metabolik dan Kardiovaskular akibat Paparan Limbah Plastik

Menurut Jofanny, sensor harus mampu memantau kualitas air secara real-time. Sistem tersebut memungkinkan perubahan parameter terdeteksi lebih cepat. “Ketika ada parameter yang melebihi baku mutu, sensornya akan berbunyi,” katanya.

Selain pengawasan, ECOTON mendorong pemulihan ekosistem Kali Jagir secara bertahap. Normalisasi dapat dilakukan untuk mengurangi sedimentasi dan endapan pencemar. Namun, langkah tersebut harus mempertimbangkan kondisi ekologis sungai.

Setelah habitat pulih, populasi ikan dapat dipulihkan melalui breeding. Program restocking juga diperlukan untuk memperkuat populasi ikan lokal. Jofanny menyebut bader bang, bader putih, hampala, dan keting perlu diprioritaskan.

“Jenis ikan lokal yang terdampak perlu menjadi perhatian,” kata Jofanny. Menurutnya, pemulihan harus berjalan bersama perbaikan kualitas habitat. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati Kali Jagir.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *