DI TENGAH budaya “beli kopi, buang cup-nya”, mahasiswa Unair Surabaya mencoba menantang kebiasaan itu lewat Bentala 2025. Tak sekadar pameran, acara ini mengajak pengunjung menatap masa depan yang mungkin penuh plastik—bahkan di dalam tubuh sendiri.
ECOTON datang bukan dengan seminar membosankan, tapi membawa “bayi dalam akuarium mikroplastik”. Sebuah tamparan visual bagi generasi yang hidup di era sedotan stainless tapi masih jajan boba tiap sore.

#Saat Mahasiswa Belajar Tentang Diri Sendiri
Suasana FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, pada Rabu, 12 November 2025, mendadak seperti laboratorium lingkungan hidup. Di tengah stand-stand pameran Bentala UNAIR, sekelompok mahasiswa tampak mengamati partikel kecil di bawah mikroskop.
Hasilnya membuat banyak yang menelan ludah, air tanah sekitar kampus ternyata mengandung mikroplastik, jenis filamen, fiber, dan fragmen. Jumlahnya memang kecil, tapi pesan yang tersirat jelas, plastik sudah meresap sampai ke tempat yang kita anggap paling “aman”.
Pameran Mikroplastik ini digagas oleh BEM FISIP UNAIR bekerja sama dengan Ecoton Foundation, lembaga lingkungan yang dikenal sering menyisir sungai untuk mencari plastik “bersembunyi”. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat langsung bagaimana polusi plastik bukan lagi sekadar teori atau statistik di internet, tapi sesuatu yang bisa mereka temukan di air yang mereka minum.
“Melalui Bentala, kami ingin menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap kondisi Bumi saat ini,” kata Cadita Putri, PIC Bentala.
Kegiatan ini, lanjutnya, bukan hanya pameran edukatif, tapi juga disertai konser amal dan penggalangan dana untuk aksi bersih-bersih mangrove. “Jadi, kita mahasiswa bisa ikut menyelamatkan bumi sambil tetap bergaya dan bersenang-senang, karena peduli lingkungan tak harus muram, “ urai Cadita.
#Bayi Mikroplastik dan Tamparan Visual dari Ecoton
Di tengah ruangan pameran, pengunjung dibuat terpaku oleh satu instalasi, replika bayi dalam akuarium penuh mikroplastik. Instalasi ini bukan gimmick. Ecoton ingin menggambarkan betapa polusi plastik sudah menyusup ke kehidupan manusia bahkan sebelum lahir.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mikroplastik bukan sekadar sampah kecil, tapi ancaman besar yang tak terlihat,” ujar Alaika Rahmatullah, yang biasa disapa Alex, Manajer Divisi Edukasi Ecoton.
Menurut Alex, mikroplastik adalah partikel plastik berukuran di bawah 5 milimeter, terbentuk dari serpihan plastik sekali pakai, serat pakaian sintetis, hingga kemasan makanan yang tak pernah benar-benar hilang.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDalam riset Ecoton, partikel ini ditemukan di sungai, tanah, udara, bahkan dalam darah manusia. “Masalahnya, mikroplastik membawa zat beracun seperti BPA dan phthalate, juga logam berat, “ jelas Alex. “Kalau sudah masuk ke tubuh, efeknya bisa mengacaukan hormon, menurunkan kesuburan, bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis,” tambahnya.
Melihat “bayi plastik” di depan mata, banyak mahasiswa yang tiba-tiba reflektif. Beberapa membagikan story Instagram dengan caption sinis, “Ternyata bukan cuma aku yang toxic.” Humor, rupanya, jadi mekanisme bertahan yang cukup ampuh menghadapi realitas pahit ini.

#Dari Wacana ke Aksi: Menjadi Kampus Tanpa Plastik
Namun Bentala bukan berhenti di rasa ngeri. Dari pameran ini, ECOTON dan mahasiswa FISIP Unair Surabaya ini merumuskan beberapa rekomendasi nyata, mulai dari membawa botol minum isi ulang, menggunakan tas kain, hingga mendorong kebijakan zero waste campus. Mereka ingin universitas bukan hanya tempat belajar teori, tapi juga tempat mengubah kebiasaan.
“Kampus dan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam mengurangi plastik,” kata Alex. “Kalau lingkungan pendidikan tidak jadi contoh, siapa lagi?”
Syalish Vania, Menteri Sosial dan Lingkungan BEM FISIP UNAIR, menambahkan bahwa hasil kegiatan ini akan diteruskan dalam bentuk riset lanjutan dan advokasi kebijakan. Ia menekankan pentingnya kampus mendukung kebijakan pengurangan produksi plastik di tingkat nasional.
“Kalau kita terus fokus pada daur ulang tanpa menekan produksi plastiknya, itu seperti menyapu lantai sambil keran bocor masih menyala,” ujarnya.
Di akhir acara, mahasiswa berfoto di depan instalasi bayi plastik sambil mengangkat botol minum isi ulang mereka. Di antara tawa dan flash kamera, terselip kesadaran baru: mungkin perubahan besar memang harus dimulai dari langkah kecil, seperti menolak sedotan, atau membawa tumbler ke kampus.
Bentala UNAIR 2025 bukan sekadar acara lingkungan musiman. Ia jadi cermin, menunjukkan bagaimana generasi muda mulai memahami bahwa persoalan plastik bukan cuma tentang laut dan sampah, tapi tentang tubuh, masa depan, dan cara kita hidup di planet yang semakin rapuh.