- Studi 2011–2012 menemukan 23 jenis ikan di Hulu Kali Surabaya, termasuk Papar yang hanya ditemukan di Sumberame, Wringinanom, dan Sumengko.
- Tiga segmen Hulu Kali Surabaya direkomendasikan sebagai suaka perikanan karena habitat baik, kualitas air mendukung, dan Papar masih ditemukan di dalamnya.
- Kadar oksigen terlarut turun dari 6,59 mg/L di Mlirip menjadi 3,32–3,56 mg/L di Krikilan dan Wates, melewati ambang baku mutu.
- TDS meningkat dari 257,5 mg/L di Mlirip menjadi 469 mg/L di Wates, menunjukkan tekanan ekologis semakin kuat menuju hilir sungai.
- Hampir 15 tahun berlalu, keberadaan Papar menjadi pertanyaan penting: apakah tiga calon suaka itu hingga kini masih mampu mempertahankan habitat alaminya?
JAUH sebelum Kali Surabaya dikenal publik akibat akumulasi limbah industri dan kepungan sampah plastik, kawasan hulunya pernah menyimpan bentang ekosistem perairan yang sangat prima. Sebuah studi ekologis komprehensif yang dilakukan pada rentang 2011–2012 menguak potensi tersembunyi sungai ini: keberadaan 23 jenis ikan air tawar, termasuk jenis langka dan dilindungi, Papar (Notopterus notopterus).
Penelitian berjudul “Studi Kelayakan Ekologi Hulu Kali Surabaya sebagai Kawasan Suaka Perikanan” yang disusun oleh Prigi Arisandi, Agoes Soegianto, dan Bambang Irawan tersebut menegaskan satu hal penting: kesehatan ekologis sungai tidaklah seragam. Aliran sungai mengalami kemerosotan kualitas hidup yang bertahap seiring pergerakan air dari hulu menuju hilir.
Melalui kombinasi kualitas air, kelestarian bantaran, dan keanekaragaman hayati, para peneliti kala itu merekomendasikan tiga segmen utama—Sumberame, Wringinanom, dan Sumengko di Kabupaten Gresik—untuk segera ditetapkan sebagai kawasan suaka perikanan.

#Tanda Vital Ekosistem Hulu Kali Surabaya
Berdasarkan hasil pengamatan di sembilan stasiun (mulai dari Mlirip di Mojokerto hingga Wates/Bambe di Gresik), peneliti memetakan kondisi fisik, kimia, dan biologi sungai yang tegap menopang kehidupan biota air.
1. Benteng Terakhir Ikan Papar dan Keanekaragaman Hayati
Dari sembilan titik pantau, ikan Papar hanya berhasil ditemukan di tiga lokasi: Sumberame (8 ekor), Wringinanom (9 ekor), dan Sumengko (9 ekor). Kehadiran Papar di lokasi-lokasi ini menjadi salah satu indikator kuat bahwa ekosistem hulu masih tergolong alami.
Selain Papar, tercatat 23 jenis ikan lainnya seperti Bader Merah (Barbodes balleroides), Rengkik (Hemibagrus nemurus), Jendil (Pangasius micronemus), hingga Bloso/Betutu (Axyeleotris marmoratus). Tujuh spesies di antaranya memiliki nilai ekonomi tinggi. Bloso, misalnya, saat itu bernilai hingga Rp60.000 per kilogram, sementara Jendil dan Rengkik bernilai sekitar Rp30.000 per kilogram.
“Nilai ekonomi hanyalah dampak pengiring. Indikator paling krusial dari keberadaan spesies dilindungi dan keragaman ikan ini adalah berfungsinya ekologi sungai secara optimal.” — Prigi Arisandi dkk.
2. Gradasi Kesehatan Habitat
Pengukuran kesehatan habitat menggunakan 15 parameter—termasuk substrat sungai, kekeruhan, vegetasi bantaran, dan tekanan aktivitas manusia—menunjukkan perbedaan signifikan di setiap segmen:
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Degradasi Air: Dari Hulu yang Ramah hingga Hilir yang Kritis
Sejalan dengan penilaian habitat, parameter fisik-kimia air memperlihatkan grafik penurunan kualitas yang jelas ketika aliran air bergerak mendekati wilayah industri Driyorejo, Gresik.

- Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen / DO): Ambang batas standar baku mutu air Kelas II yang digunakan saat studi adalah 4 mg/L. Di Mlirip, kadar DO berada di angka aman (6,59 mg/L). Namun, di Krikilan dan Wates, angka DO merosot drastis hingga 3,32–3,56 mg/L (Oktober 2011) dan 3,50–3,85 mg/L (April 2012), menandakan perairan di titik tersebut tidak lagi ideal untuk kehidupan ikan.
- Padatan Terlarut (Total Dissolved Solids / TDS): Angka TDS meningkat dari 257,5 mg/L (Mlirip) menjadi 469 mg/L (Wates).
- Keanekaragaman Bentos: Keberadaan organisme dasar sungai (makroinvertebrata) kelompok EPT (Ephemeroptera, Plecoptera, Trichoptera) yang peka cemaran paling tinggi ditemukan di Mlirip (Indeks Shannon-Wiener 1,67) dan Wringinanom (1,53), kemudian berangsur turun ke titik terendah di stasiun Wates.

Ikan Belida/Papar (Notopterus notopterus) merupakan ikan lokal Indonesia yang hidup di perairan tawar. Sebagai ikan karnivora, makanannya meliputi krustasea terutama udang, ikan kecil, serangga, detritus, keong, hingga tumbuhan air. Ikan ini juga disebut peka terhadap perubahan kualitas air sehingga keberadaannya dapat menjadi salah satu penanda penting kondisi ekosistem perairan. | Sumber: Instagram ECOTON, 27 Desember 2025
#Mendesaknya Suaka Perikanan dan Tantangan Masa Kini
Atas temuan ekologis tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa penetapan suaka perikanan di Sumberame, Wringinanom, dan Sumengko tidak boleh lagi ditunda. Konsep perlindungan ini tidak sebatas melarang aktivitas penangkapan ikan, melainkan berfokus pada perlindungan habitat secara menyeluruh:
- Pengendalian pembuangan limbah pencemar air.
- Moratorium alih fungsi lahan bantaran sungai dan rehabilitasi vegetasi alami.
- Penindakan tegas praktik perusakan ekosistem seperti penangkapan ikan menggunakan racun (potas) dan listrik (setrum).
- Studi mendalam mengenai siklus pemijahan dan pola makan ikan-ikan lokal Kali Surabaya.
#Masihkah Papar Bertahan Hari Ini?
Hampir 15 tahun telah berlalu sejak studi ekologis itu mendokumentasikan napas alami Hulu Kali Surabaya. Rekaman data 2011–2012 tersebut kini menjadi tolok ukur sejarah yang vital.
Sungai adalah sistem ekologi yang saling terhubung—menjaga satu bagian sembari membiarkan segmen lain terdegradasi hanya akan menyisakan ruang hidup yang rapuh. Pertanyaan besar yang kini menggantung di sepanjang aliran Kali Surabaya: Apakah ikan Papar masih bertahan di Sumberame, Wringinanom, dan Sumengko? Ataukah suaka perikanan yang ideal itu telah hilang tergerus waktu?
Jawabannya mendesak untuk dicari melalui sensus ekologis ulang. Bukan sekadar menghitung sisa populasi ikan yang bertahan, tetapi untuk menilai seberapa jauh kita telah menjaga—atau merusak—ruang hidup ekosistem perairan tersebut.***