- Ratusan siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang belajar bahaya mikroplastik bersama MIMO ECOTON di Trawas. Mereka siap memilah sampah dan mengurangi plastik sekali pakai.
- Lewat laboratorium keliling MIMO ECOTON, 200 siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang diajak mengenali bahaya mikroplastik. Saatnya generasi muda bergerak demi menjaga kelestarian lingkungan.
- Mengikuti LDKS di Trawas, 200 siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang mendalami ancaman sampah plastik bersama MIMO ECOTON. Mereka berkomitmen memulai aksi nyata dari rumah.
- Bersama laboratorium keliling MIMO ECOTON, ratusan siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang belajar dampak buruk mikroplastik. Pendidikan lingkungan ini sukses melatih jiwa kepemimpinan mereka.
- Antusiasme 200 siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang belajar mikroplastik bersama MIMO ECOTON. Dari memilah sampah hingga mengurangi plastik, aksi nyata mereka dimulai sekarang.

Penulis: Tasya Husna, merupakan pengelola publikasi ilmiah Environmental Pollution Journal (EPJ) dan bagian dari tim peneliti ECOTON. Fokus kajiannya mencakup perubahan iklim, kualitas air sungai, serta pencemaran mikroplastik.
SEBANYAK 200 siswa kelas 6 SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya mengikuti edukasi mikroplastik. Kegiatan berlangsung dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) di Trawas, Mojokerto. Lembaga ECOTON menghadirkan Microplastic Mobile Laboratory untuk mendampingi seluruh peserta LDKS tersebut.

Edukasi yang mengenalkan sumber pencemaran mikroplastik kepada siswa sekolah dasar ini, peserta menerima materi dampak bahayanya mikroplastik. Seorang guru, Zainal Ibad, S.Hum., S.Pd., mengapresiasi kegiatan ini.
“Edukasi yang merupakan kelanjutan dari sebelumnya ini telah membawa dampak perubahan bagi para siswa,” ujar Ibad di sela kegiatan, Kamis (17/9/2026).
Ia juga menyebut kehadiran MIMO, yang digagas ECOTON ini, telah memberikan pengetahuan tambahan bagi para siswa. Anak-anak telah banyak memulai mewujudkan pemilahan sampah di rumah masing-masing.
“Anak-anak sebelumnya telah mewujudkan pemilahan sampah di sekolah. Melalui kegiatan ini, mereka mendapatkan pengetahuan lebih tentang mikroplastik dan persoalan sampah plastik, sehingga apa yang sudah dilakukan di sekolah dapat berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ibad menjelaskan.

#Temuan Kesadaran Lingkungan Para Siswa
Dalam kegiatan ini siswa tak hanya menerima materi teori di ruangan kelas. Mereka diajak melihat langsung persoalan lingkungan di sekitar tempat tinggal masing-masing. Pelatihan ini telah menggiatkan siswa memikirkan tindakan yang segera diterapkan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
Seorang siswa kelas 6B, Rifad, mengungkapkan keprihatinannya apa yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Ia selalu menemukan praktik buruk warga ketika mengelola sampah rumah tangga.
Ia juga mengaku kerap melihat tetangganya membakar sampah serta membuang sampah secara sembarangan. Melihat hal ini Rifad mengungkapkan rasa prihatinnya.

“Di perumahan saya, saya sering menemukan orang membakar sampah dan membuang sampah sembarangan. Jadi setelah ini saya akan berusaha mengurangi plastik sekali pakai,” kata Rifad.
Pelatihan yang sekaligus menyemangati siswa, juga menghubungkan pengetahuan teori dengan aksi nyata sehari-hari ini. Siswa diharapkan konsisten memilah sampah di rumah, juga mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mereka juga diminta mengajak warga perumahan atau tempat tinggal mereka, agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Kegiatan MIMO dalam LDKS ini membuktikan pentingnya pendidikan lingkungan bagi siswa. Kepemimpinan siswa dibentuk melalui keberanian mengambil tanggung jawab atas kelestarian lingkungan sekitar. Perubahan perilaku ini dimulai dari kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari anak.***