Lewati ke konten

Kali Surabaya: Sumber Kehidupan yang Makin Terancam, Mau Sampai Kapan Dibiarkan?

| 5 menit baca |Pelajar Mbois | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Kali Surabaya beri kita air bersih tiap hari, tapi malah kita bebani limbah dan sampah.
  • Sumber air minum jutaan warga terancam tercemar, mau sampai kapan kita terus membiarkan Kali Surabaya?
  • Dari ikan lokal sampai air minum, Kali Surabaya vital tapi makin sekarat akibat sampah plastik.
  • Jangan tunggu krisis air bersih datang, yuk jaga Kali Surabaya dari pencemaran limbah sekarang juga!
  • Kali Surabaya bukan tempat sampah raksasa, mari cegah pencemaran demi menyelamatkan sumber kehidupan kita bersama.

 

AIRNYA kita pakai setiap hari, tapi kebersihannya sering kita abaikan. Itulah nasib Kali Surabaya saat ini—sungai vital yang terus dibutuhkan, namun tanpa sadar terus dibebani.

Momen Kali Surabaya Festival 2026 yang berlangsung pada 21–25 September 2026 menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk bersuara. Di sela-sela riuhnya gelaran acara tersebut, dua pelajar—Sherlin Putri Anggraini (SMA Negeri 1 Driyorejo) dan Nadira Safira Maharani (SMAN 1 Tarik)—menuangkan kepedulian mereka dalam tulisan.

Melalui sudut pandang anak muda, mereka mengajak kita melihat lebih dekat kondisi sungai kita serta ancaman pencemaran di baliknya.

Hingga sepekan ke depan, redaksi Titikterang akan memilih dan menayangkan artikel-artikel terbaik karya pelajar yang memenuhi persyaratan. Selamat membaca dan mari terus merawat lingkungan kita!

Sherlin Putri Anggraini
Kelas: XI-11
SMA Negeri 1 Driyorejo, Gresik.

#Nggak Cuma Rumah Buat Ikan, Kali Surabaya Adalah Penopang Hidup Kita

KALAU kita jalan-jalan atau lewat di sekitar Kali Surabaya, sekilas mungkin kelihatan kayak aliran sungai biasa pada umumnya. Tapi jangan salah, sungai yang merupakan bagian penting dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas ini punya peran super vital buat jutaan warga di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Alirannya membentang dari Mojokerto, melewati Sepanjang, sampai Karangpilang, hingga akhirnya bermuara di Selat Madura. Titik paling krusial ada di Karangpilang, tempat di mana air sungai ini diambil dan diolah 24 jam nonstop oleh PDAM jadi air bersih yang kita pakai sehari-hari.

BACA JUGA:  Kajian UCL dan Ecoton: Limbah Popok Sulit Jadi Pupuk Organik, Material Sintetis Capai 90 Persen

Bukan cuma manusia yang bergantung sama sungai ini. Kali Surabaya juga jadi ‘rumah’ buat berbagai ekosistem air tawar. Ikan-ikan lokal kayak jendil, bader, dan rengkik menggantungkan hidupnya di sini, berdampingan sama spesies lain seperti nila, mujair, wader, lele, gabus, tawes, sampai ikan mas. Keberadaan mereka bikin ekosistem sungai tetap seimbang dan hidup.

Sayangnya, kondisi Kali Surabaya sekarang lagi nggak baik-baik saja. Sungai yang terus dibutuhkan ini justru makin hari makin dibebani oleh aktivitas manusia. Berdasarkan data Pemprov Jawa Timur, tekanan terhadap Kali Surabaya masih sangat tinggi, dengan limbah domestik (rumah tangga) dan industri sebagai penyumbang pencemaran paling dominan. Dampaknya nggak cuma sampah plastik yang kelihatan mengapung, tapi juga zat pencemar tak kasatmata yang bikin kualitas air merosot tajam.

Efek buruknya langsung kerasa ke ekosistem. Kualitas air yang jelek bikin keberhasilan pemijahan ikan-ikan lokal kayak jendil, bader, dan rengkik makin turun. Kalau dibiarkan terus, ikan-ikan ini bisa terancam punah. Belum lagi saat musim hujan datang—masalah penumpukan sampah, ledakan eceng gondok, sampai risiko banjir bikin situasi makin parah. Kalau sungai ini makin rusak, biaya pengolahan air bersih bakal makin mahal dan Surabaya bisa terancam krisis air.

Masalahnya, pihak yang bikin rusak masih terus ada: oknum industri nakal yang buang limbah sembarangan, warga yang asal lempar sampah ke sungai, sampai bangunan liar di sepanjang bantaran. Padahal, sekadar membersihkan sungai setelah tercemar itu bukan solusi utama. Pencegahan dari sumbernya adalah kunci.

Kita nggak perlu menunggu pemerintah turun tangan sendirian untuk mulai berubah. Langkah kecil dari kita sebagai pelajar dan masyarakat sangat berarti:

  • Stop buang sampah dan limbah rumah tangga ke sungai atau saluran air.
  • Kurangi pemakaian plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
  • Ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar bantaran sungai.
  • Dorong adanya sanksi tegas buat pelaku pencemaran dan pembersihan eceng gondok secara rutin.

Menjaga Kali Surabaya bukan cuma soal bikin sungainya kelihatan bersih di foto, tapi soal menyelamatkan sumber air minum kita dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Jangan tunggu sampai Kali Surabaya benar-benar mati baru kita peduli. Yuk, mulai dari hal kecil dan konsisten dari sekarang!

Nadira Safira Maharani
Kelas: XI-6
SMAN 1 Tarik, Sidoarjo

#Kali Surabaya: Sungai yang Terus Dibutuhkan, tapi Malah Terus Dibebani

Kalau kita ngomongin Kali Surabaya, jujur sungai yang satu ini punya peran yang krusial banget buat kehidupan kita sehari-hari maupun lingkungan sekitar. Pasalnya, air dari Kali Surabaya ini dimanfaatin buat berbagai macam kebutuhan masyarakat, sekaligus jadi rumah alias habitat asli bagi banyak organisme air. Tapi anehnya, di balik semua manfaat besar itu, ada masalah serius yang sering dianggap angin lalu: pencemaran akibat ulah manusia sendiri.

Coba deh bayangin, sampah sama limbah terus-terusan dibuang ke sungai. Ini membuktikan kalau banyak orang cuma mau enaknya aja—butuh sama airnya, tapi malas buat bertanggung jawab menjaganya. Padahal, yang bikin rusak itu bukan cuma sampah plastik yang kelihatan mengapung di permukaan air. Zat pencemar beracun yang nggak kasatmata juga diam-diam merusak kualitas air dan merusak keseimbangan ekosistem di dalamnya.

BACA JUGA:  Tonis Afrianto: “Ubah Sistem Refill, Bukan Cuma Papan Imbauan” — Tuntutan ECOTON pada Raksasa Industri

Pertanyaannya sekarang: sampai kapan Kali Surabaya kuat nampung beban pencemaran kayak gini?

Nunggu sungai kotor dulu baru dibersihin itu jelas bukan solusi utama. Pencegahan itu wajib hukumnya dan harus dimulai langsung dari sumbernya! Mulai dari pengelolaan limbah yang benar, pengawasan yang super tegas buat para pelanggar, sampai peningkatan kesadaran dari masyarakat itu sendiri.

Biar bagaimanapun, Kali Surabaya itu sumber kehidupan, bukan tempat sampah raksasa buat nampung sisa aktivitas manusia. Kalau pencemaran ini terus-terusan dibiarkan, kualitas air bersih bakal makin anjlok, ekosistem rusak, dan ujung-ujungnya kita sendiri yang bakal ngerasain dampaknya. Yuk, mulai peduli dari sekarang sebelum semuanya makin terlambat!***

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan PT Petrokimia Gresik (Persero) melalui Program Petro Tirta.

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *