Lewati ke konten

Realitas Miris Kali Tebu Surabaya: Dari Saset hingga Sofa di Mata Mahasiswa Unesa

| 4 menit baca |Kali Tebu | 8 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
  • Mengamati Kali Tebu, lima mahasiswa magang Ecoton terkejut menemukan sampah saset hingga potongan sofa. Peringatan Hari Sungai Sedunia di Surabaya ungkap realitas miris lingkungan.
  • Aksi Hari Sungai Sedunia di Surabaya kuak realitas miris Kali Tebu. Mahasiswa magang Ecoton temukan tumpukan saset hingga potongan sofa mengapung mencemari aliran air.
  • Dari tumpukan saset hingga potongan sofa, kondisi Kali Tebu picu keprihatinan mahasiswa magang Ecoton. Aksi Peringatan Hari Sungai Sedunia Surabaya soroti buruknya kelola sampah.
  • Disambut aroma menyengat dan sampah sofa, lima mahasiswa Unesa saksikan langsung pencemaran Kali Tebu Surabaya. Momen Hari Sungai Sedunia dorong pentingnya aksi isi ulang.
  • Lima mahasiswa magang Ecoton dihadapkan realitas miris Kali Tebu yang tertutup limbah saset dan sofa. Momen Hari Sungai Sedunia Surabaya desak evaluasi sampah darat.

IMPRESI awal kerap kali menyisakan kesan mendalam. Hal inilah yang dirasakan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Lima mahasiswa yang sedang menjalani program magang di Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), mulai 31 Agustus dan akan berakhir 11 Desember mendatang ini, mengaku dihadapkan pada realitas lingkungan yang mengejutkan.

Pengalaman ini mereka ungkapkan saat mengikuti aksi peringatan Hari Sungai Sedunia yang dipusatkan di halaman SMPN 58 Surabaya. Saat pertama kali menyambangi kawasan Kenjeran, para mahasiswa ini mengaku, langsung disambut aroma menyengat dan tumpukan sampah domestik yang mengapung di sepanjang aliran Kali Tebu.

Zhafira Naurasari, misalnya, menceritakan rasa terkejutnya saat melihat komposisi sampah yang berhasil diangkut Tim MOZAIK bentukan Ecoton. Dalam catatan MOZAIK yang ia kutip, Kali Tebu didominasi sampah padat yang sangat sulit terurai.

BACA JUGA:  Jelajah Sungai Bijawang, Ungkap 21 Tumbuhan Bernilai Obat di Festival Tiga Sungai Bulukumba

“Setahu saya, Kali Tebu ini banyak menghasilkan sampah saset dan popok bayi. Sampah saset di sini belum bisa dikelola dengan baik, jadi kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan lagi—salah satunya dengan mulai beralih ke sistem isi ulang (refill),” ujar Zhafira pada Ahad, 27 Sepetember 2026.

Senada dengan Zhafira, Alexandra Anastasia Liegouri, yang juga sama-sama kerap terlibat keliling kampung di sepanjang Kali Tebu untuk kegiatan REFILIN, menilai kondisi Kali Tebu jauh dari ekspektasi sebuah saluran air perkotaan.

“Melihat Kali Tebu rasanya miris, tidak menyangka di Surabaya ada lokasi dengan kondisi seperti ini. Di titik trash boom, aromanya sangat menyengat dan pemandangan di sekitar aliran sungai kurang menyenangkan karena tertutup berbagai jenis limbah,” tutur Alexandra dengan nada prihatin.

EDUKASI LINGKUNGAN. Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi FISIPOL Unesa yang sedang magang di Ecoton, Alexandra Anastasia Liegouri, tampak aktif berinteraksi dan menjelaskan inovasi produk ramah lingkungan kepada pengunjung dalam aksi peringatan Hari Sungai Sedunia di Halaman SMPN 58 Surabaya, Jawa Timur, Minggu (27/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyadartahuan publik untuk beralih ke gaya hidup minim sampah plastik guna menjaga kelestarian ekosistem sungai. | Foto: Fully Syafi

#Potret Buruk Sampah Surabaya

Sebagaimana diketahui, program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang telah bergulir sejak Juni 2026 ini didukung kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH)), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), hingga United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.

Pencemaran di Kali Tebu rupanya tidak hanya didominasi limbah rumah tangga berukuran kecil. Ferlita Aurelia Wijaya melihat beragamnya material sampah berukuran besar yang turut mencemari air. Menurut dia, kondisi ini menunjukkan potret buruk sampah di Kota Surabaya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Bukan cuma saset atau plastik, tetapi ada ranting-ranting pohon tebal, bahkan potongan sofa dan berbagai barang rumah tangga lainnya tercampur di sana. Ini menunjukkan potret buruk Kota Surabaya ,” ungkap Ferlita.

BACA JUGA:  MOZAIK: Siswa SMP 58 Surabaya Temukan Mikroplastik di Kali Tebu

Sementara itu, Fina Nailatul Izzah juga membagikan pengalamannya saat pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Surabaya Utara tersebut. Selain masalah bau dan air yang kotor berlumut, ia menyoroti perilaku masyarakat sekitar dalam mengelola sampah.

“Hal yang memprihatinkan adalah masih ditemukannya praktik pembuangan sampah langsung ke tepi Kali Tebu. Kebiasaan ini tentu makin memperburuk kualitas lingkungan sungai,” jelas Fina.

Pengalaman ini juga disampaikan Muhammad Zidan Abdillah. Ia mengatakan bahwa upaya penyadartahuan publik mengenai pentingnya menjaga ekosistem perairan darat sangat diperlukan.

Ia melihat sampah di darat tidak terkelola dengan baik, bukan hanya dari masyarakat rumah tangga biasa. Pelaku bisnis juga banyak ia jumpai di sepanjang Kali Tebu yang rata-rata tidak mengelola sampah dengan baik.

“Apalagi ditambah warga biasa yang masih gemar menggunakan plastik sekali pakai terus dibuang ke Kali Tebu. Hal ini membuat kondisi Kali Tebu menjadi gambaran riil tantangan pengelolaan sampah darat yang berpotensi bocor dan mencemari lautan,” ungkap Zidan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *