Lewati ke konten

Bukan Cuma Fisik, Riset Mahasiswa Ungkap Pentingnya Kualitas Biologis Kompos

| 6 menit baca |Highlight | 19 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Bagus Marga

Riset mahasiswa lintas kampus mengungkap makrofauna tanah dapat menjadi penanda biologis penting kualitas kompos dan pengelolaan sampah organik.

Peserta studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) memaparkan hasil riset lingkungan dalam forum “Seminar Hasil Penelitian Environmental Insights 2026” di Open Space Gedung Inspirasi Wirausaha, Gresik, Kamis, 4 Juni 2026.

Forum yang mempertemukan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Salah satu temuan yang mendapat perhatian datang dari riset mengenai makrofauna tanah dalam proses pengomposan.

Penelitian itu juga menyoroti persoalan yang selama ini jarang dibahas dalam pengelolaan sampah organik: kualitas biologis kompos. Di tengah meningkatnya volume sampah organik rumah tangga di Indonesia, sebagian besar pengelolaan masih berfokus pada pengurangan timbulan dan proses penguraian.

Namun aspek biologis kompos, termasuk keberadaan organisme tanah sebagai indikator kualitas, belum banyak menjadi perhatian.

Penelitian yang dipresentasikan Regita Sari Dewi dan Nurlita Qoiriananda dari Program Studi S1 Biologi UNESA itu, sebenarnya mencoba mengisi celah, yang mereka hubungkan antara keanekaragaman makrofauna tanah dengan tingkat kematangan kompos pada sistem pengomposan terbuka atau open windrow.

Hasil penelitian makrofauna kompos dipresentasikan dalam Seminar Environmental Insights 2026 di Gresik | Desain AI

#Kompos Matang Tak Cukup Dinilai dari Bau

Dalam presentasinya, Regita menjelaskan bahwa metode open windrow masih menjadi pilihan umum dalam pengelolaan sampah organik karena murah dan mudah diterapkan. Sistem itu banyak digunakan pada skala rumah tangga maupun komunitas.

Namun menurutnya, penilaian kualitas kompos selama ini masih bergantung pada indikator fisik seperti warna, suhu, dan bau. Pendekatan tersebut dinilai belum mampu menggambarkan kondisi biologis kompos secara menyeluruh.

“Makrofauna tanah sangat responsif terhadap perubahan kondisi kompos sehingga berpotensi digunakan sebagai bioindikator kematangan kompos,” tulis Regita dalam materi presentasinya pada Kamis itu.

Makrofauna tanah merupakan organisme berukuran relatif besar yang hidup di dalam media tanah atau kompos, seperti cacing, larva serangga, semut, kaki seribu, hingga kumbang pengurai. Organisme-organisme itu berperan dalam proses dekomposisi bahan organik.

Keberadaan atau hilangnya jenis tertentu dapat menunjukkan kondisi biologis suatu kompos. Dalam konteks pengomposan, komunitas makrofauna dianggap mampu menjadi indikator apakah proses penguraian berjalan optimal atau justru mengalami gangguan.

Regita menyebut penelitian terkait makrofauna sebagai indikator biologis pada sistem open windrow masih terbatas di Indonesia. Karena itu, riset tersebut diarahkan untuk mengidentifikasi jenis makrofauna tanah, menganalisis tingkat keanekaragamannya, serta mengkaji hubungannya dengan kematangan kompos.

Temuan itu menjadi penting karena sebagian besar pengelolaan sampah organik di tingkat komunitas berjalan tanpa evaluasi biologis. Banyak kompos dinyatakan “matang” hanya berdasarkan tekstur dan aroma.

Padahal, kompos yang belum matang berpotensi menghasilkan gas, memicu pertumbuhan patogen, dan menurunkan kualitas media tanam. Dalam beberapa kasus, kompos yang belum stabil justru dapat merusak struktur tanah.

Forum seminar itu memperlihatkan bagaimana penelitian mahasiswa mulai bergerak dari sekadar pengolahan sampah menuju evaluasi kualitas ekologis hasil pengomposan. Pendekatan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran perspektif dalam studi pengelolaan limbah organik.

Para mahasiswa mengikuti pemaparan hasil riset lingkungan dalam program studi independen Ecoton pada Seminar Environmental Insights 2026 di Gresik | Foto: Supriyadi

#Menguji Pengaruh EM4 dan Ecoenzyme

Penelitian lain yang dipresentasikan Nurlita Qoiriananda menyoroti struktur komunitas makrofauna pada pengomposan dengan penambahan sekam padi, EM4, dan ecoenzyme.

Dalam paparannya, Nurlita menilai persoalan sampah organik rumah tangga masih menjadi masalah dominan di Indonesia. Menurutnya, pengomposan memang dikenal sebagai metode pengolahan yang ramah lingkungan, tetapi evaluasi kualitas kompos masih terlalu bergantung pada indikator fisik.

“Makrofauna berperan dalam proses dekomposisi dan berpotensi digunakan sebagai bioindikator kualitas serta kematangan biologis kompos,” kata Nurlita dalam resentasinya di depan para mahasiswa.

Ia meneliti bagaimana penambahan bahan tertentu memengaruhi struktur komunitas makrofauna dan kualitas kompos. Penelitian itu menggunakan beberapa perlakuan berbeda, termasuk penggunaan sekam padi, EM4, dan ecoenzyme.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

EM4 dikenal sebagai cairan mikroorganisme efektif yang umum dipakai untuk mempercepat penguraian bahan organik. Sementara ecoenzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik yang belakangan populer di kalangan komunitas lingkungan.

Meski sering digunakan dalam praktik pengomposan, efektivitas kedua bahan tersebut terhadap keberagaman organisme tanah masih minim penelitian. Celah itulah yang coba dijawab dalam studi tersebut.

Nurlita menjelaskan penelitian dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni rancangan kompos, identifikasi makrofauna, dan pengukuran fisik-kimia kompos.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa kualitas kompos tidak hanya ditentukan oleh kecepatan pembusukan, tetapi juga oleh dinamika biologis di dalamnya. Semakin stabil komunitas organisme tanah, semakin besar kemungkinan kompos berada pada kondisi matang biologis.

Dalam konteks pengelolaan sampah perkotaan, hasil penelitian itu berpotensi menjadi dasar evaluasi baru. Selama ini, banyak program pengomposan komunitas berhenti pada target pengurangan volume sampah tanpa mengukur kualitas ekologis produk akhirnya.

Padahal, kompos yang berkualitas rendah dapat berdampak pada produktivitas tanaman dan kesehatan tanah. Jika digunakan secara luas, kompos yang tidak stabil juga berpotensi menambah masalah lingkungan baru.

Visualisasi makrofauna tanah dalam kompos ditampilkan lebih menonjol untuk memperlihatkan peran organisme pengurai sebagai bioindikator kualitas kompos | Desain AI

#Dari Laboratorium ke Persoalan Lingkungan Kota

Forum “Environmental Insights 2026” tidak hanya menjadi ruang presentasi akademik. Sejumlah riset yang dipaparkan memperlihatkan hubungan langsung antara penelitian kampus dengan persoalan lingkungan sehari-hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan sampah organik menjadi isu mendesak di banyak kota di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebelumnya menyebut komposisi sampah nasional masih didominasi limbah organik rumah tangga.

Namun peningkatan program pengomposan tidak selalu diikuti pengawasan kualitas hasil olahan. Banyak fasilitas pengomposan skala kecil beroperasi tanpa standar biologis yang jelas.

Penelitian mahasiswa UNESA itu memperlihatkan adanya kebutuhan untuk memperluas parameter penilaian kompos. Tidak hanya berdasarkan ukuran fisik, tetapi juga berdasarkan kondisi biologis dan keberadaan organisme pengurai.

Di sisi lain, riset tersebut juga menunjukkan bagaimana makhluk kecil yang selama ini dianggap tidak penting justru dapat menjadi penanda kesehatan lingkungan.

Makrofauna tanah bekerja secara diam-diam dalam proses penguraian bahan organik. Mereka membantu menghancurkan material, mempercepat siklus nutrien, dan menjaga struktur tanah tetap stabil.

Ketika komunitas organisme itu terganggu, proses ekologis di dalam kompos ikut berubah. Dalam konteks tertentu, perubahan tersebut dapat menunjukkan adanya ketidakseimbangan biologis.

Bagi Ecoton, forum seperti ini menjadi ruang penting untuk mempertemukan penelitian mahasiswa dengan persoalan ekologis yang lebih luas. Studi independen yang dijalankan organisasi itu selama ini banyak mendorong mahasiswa turun langsung ke lapangan dan melihat dampak lingkungan secara nyata.

Seminar tersebut juga memperlihatkan meningkatnya perhatian generasi muda terhadap isu pengelolaan sampah berbasis sains. Tidak hanya berbicara tentang pengurangan sampah, tetapi juga tentang kualitas ekosistem yang dihasilkan dari proses pengelolaannya.

Meski masih berada pada tahap penelitian akademik, hasil studi mengenai makrofauna tanah membuka kemungkinan baru dalam sistem evaluasi pengomposan di Indonesia. Pendekatan biologis semacam itu dapat menjadi alternatif untuk menilai kualitas kompos secara lebih objektif.

Di tengah meningkatnya produksi sampah organik perkotaan, penelitian itu menjadi pengingat bahwa persoalan limbah tidak selesai hanya dengan proses penguraian. Yang dipertaruhkan bukan sekadar sampah yang hilang, tetapi kualitas lingkungan yang dihasilkan setelahnya.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *