Lewati ke konten

Cakrawala Baru: Cara Rafika Menghubungkan Riset Mikroplastik dengan Kebijakan

| 7 menit baca |Sosok | 5 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Berawal dari udang, kini mikroplastik ditemukan hingga cairan ketuban. Rafika Aprilianti, Kepala Lab Ecoton, membongkar ancaman yang tak terlihat ini demi melahirkan kebijakan baku mutu nasional yang terukur.
  • Riset tak boleh berhenti di laboratorium. Rafika Aprilianti menjembatani data mikroplastik menuju meja pemerintah. Simak perjalanannya melawan bom waktu pencemaran demi menghadirkan regulasi yang pasti bagi Indonesia.
  • Siapa sangka seorang introvert berbekal “the power of kepepet” mampu menembus jurang regulasi? Rafika Aprilianti terus berjuang menyusun bukti ilmiah mikroplastik demi menyelamatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan kita.
  • Membawa 16.000 bahan kimia berbahaya, mikroplastik kini menyusup ke tubuh manusia. Rafika Aprilianti bergerak cepat dari perairan Brantas menuju meja kebijakan sebelum ancaman ini menjadi bom waktu bencana.
  • Tanpa standar baku mutu, pencemaran mikroplastik sulit dikendalikan. Rafika Aprilianti mendedikasikan risetnya untuk menyediakan bukti ilmiah bagi pemerintah. Baca kisah lengkap keberanian dan konsistensinya menembus batas sains!

Penulis: Supriyadi, jurnalis Titikterang.co.id

HAMPIR bisa dipastikan, kalau kita menyambangi kantor Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) di Wringinanom, Gresik, kita akan menemui Rafika Aprilianti di ruang laboratorium.

Tentu saja, ia bukan sedang bermain-main. Ia adalah kepala laboratorium di lembaga kajian lahan basah itu. Di ruangan berukuran 3 x 8 meter yang dipenuhi botol-botol berisi sampel air, tabung, dan mikroskop, perempuan kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini, bergelut dengan dunia yang sering diabaikan orang banyak, yaitu mikroplastik.

Mungkin saja kita baru mendengarnya, istilah mikroplastik. Bisa dipastikan, kita juga tak bisa melihatnya, tanpa peralatan mikroskop yang memadai. Bagaimana dalam perjalanannya, partikel plastik itu kini telah menyusup dalam tubuh manusia.

Perjalanan panjang Rafika mengenal mikroplastik bermula pada tahun 2020. Saat itu, ia sedang menjalani magang kuliah di Ecoton. Di sela-sela aktivitas magangnya itu pula, ia melihat secara langsung keberadaan mikroplastik di dalam tubuh udang.

“Awalnya saya kira sampah plastik yang terbuang di lingkungan kita ini, bisa hilang dan terurai oleh alam. Tapi apa yang terjadi? Kenyataannya hancur menjadi ukuran yang lebih kecil, yaitu mikroplastik. Dan mikroplastik ini, ternyata berdampak pada tubuh manusia,” kenang Rafika, disampaikan kepada saya, Rabu (14/10/2026).

BACA JUGA:  Hujan Mikroplastik Surabaya Ancaman Baru Kesehatan Warga dan Risiko Penurunan Fungsi Otak

Bahwa istilah mikroplastik itu sendiri, kita tahu. Dicetuskan oleh seorang ahli kelautan dari University of Plymouth, Profesor Richard Thompson, pada 7 Mei 2004. Dalam jurnalnya berjudul Lost at Sea: Where Is All the Plastic?, Thompson menyebutkan, terjadinya mikroplastik itu, akibat akumulasi serpihan plastik berukuran mikroskopis di perairan laut.

Di laboratorium, Rafika Aprilianti bersama tim berkutat dengan penelitian mikroplastik, meneliti partikel-partikel kecil yang mencemari lingkungan dan berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia. | Foto: Fully Syafi

Dari Temuan Lapangan ke Meja Advokasi

Tentang temuan awal mikroplastik, Rafika tidak berhenti sebagai laporan magang semata saat itu, yang berbentuk jilidan jurnal. Tetapi bersama tim Envigreen Society dari Program Studi Biologi, ia melakukan penelitian di perairan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas di Kota Malang, kawasan Muharto yang merupakan segmen hulu DAS Brantas.

Hasilnya mencengangkan saat itu, sekaligus mengkhawatirkan. Karena semua sampel yang diambilnya telah terkontaminasi mikroplastik.

Sadar masalah ini akan berdampak jauh lebih besar dari sampah organik biasa. Pandangan Rafika pun bergeser. Sampah organik dapat diurai kehendak alam. Apa yang terjadi dengan mikroplastik, nantinya?

Sampah plastik, ternyata membawa 16.000 bahan kimia. Di mana 4.000 di antaranya merupakan senyawa sangat berbahaya, yaitu pengganggu hormon (endocrine disruptor).

“Pada akhirnya saya berpikir, penelitian mikroplastik ini tidak sebatas temuan-temuan saja. Tapi harus ada regulasi, agar cemaran mikroplastik bisa terkendali,” ujar alumni SMAN Trensains Tebuireng Jombang ini.

Titik balik penelitiannya inilah, membuat Rafika semakin eksploratif dalam melakukan penelitian. Pada 2025, begitu ia terinspirasi program biomonitoring senyawa plastik pada darah dan urin yang ia ikuti. Bagaimana tahun itu, Rafika terlibat langsung dalam penelitian senyawa plastik. Program yang diinisiasi Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH), sebuah lembaga penelitian berbasis di Korea Selatan.

Rafika Aprilianti berbicara kepada peserta kegiatan edukasi siswa tentang pentingnya menjaga sungai dari pencemaran sampah plastik. Di belakangnya, sejumlah poster mengingatkan bahwa Sungai Brantas bukan tempat pembuangan sampah. | Foto: Fully Syafi

Program yang diikuti bersama dr. Lestari Sudaryanti dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu, membuat Rafika mulai bertanya-tanya: jika senyawa kimia plastik bisa masuk ke dalam darah manusia, bagaimana dengan partikel mikroplastiknya?

Bersama dr. Lestari Sudaryanti pula, kemudian ia melakukan penelitian keberadaan mikroplastik pada cairan ketuban (amnion) dan urin ibu melahirkan, yang saat itu melibatkan perempuan pekerja sampah di Gresik. Pembuktian empirisnya kian menegaskan jika risiko itu nyata terjadi: paparan mikroplastik pada cairan ketuban terbukti memicu inflamasi atau peradangan.

BACA JUGA:  Peringatan Hari Bumi di Wringinanom Gresik: Mahasiswa Desak Pemerintah Serius Tangani Sampah Plastik di Sungai

“Mikroplastik bisa memicu munculnya penyakit dan gangguan kesehatan. Karena sifatnya yang bioakumulasi, mengumpul dulu di dalam tubuh, dan dampaknya baru terasa lima tahun ke depan seperti bom waktu,” jelas lulusan Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

“Justru, saya ingin berkontribusi menyediakan bukti ilmiah yang dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan pengendalian pencemaran yang lebih terukur.”

Tantangan Metode dan Jurang Regulasi

Hanya saja perempuan kelahiran 19 April 1999 ini, masih menghadapi tantangan terbesar dalam riset mikroplastik saat ini, bukan hanya menemukan partikelnya, tetapi ketiadaan standar baku mutu secara regulatif.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Metode pengambilan sampel, preparasi, hingga identifikasi antarpeneliti di Indonesia ini, masih sangat beragam dan belum memiliki paten yang seragam.

Perbedaan sudut pandang ini pernah Rafika rasakan langsung. Dan sangat terasa, ketika berdiskusi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), tentang temuan polimer plastik dalam produk personal care.

Dari situ, ia menyadari bahwa peneliti dan regulator berbicara dalam bahasa yang berbeda. Peneliti fokus pada pembuktian ilmiah, sementara regulator membutuhkan data valid yang bisa langsung diterapkan dalam kebijakan.

“Justru, saya ingin berkontribusi menyediakan bukti ilmiah yang dapat membantu pemerintah menyusun kebijakan pengendalian pencemaran yang lebih terukur,” kata Rafika.

Upaya menjembatani sains dan kebijakan ini pernah pula, Rafika buktikan saat menyampaikan rekomendasi kepada Perum Jasa Tirta (PJT) I, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, hingga mengusulkan pembatasan plastik sekali pakai ke DPRD Kota Malang dan Pemda Bondowoso.

Ekspresi Rafika Aprilianti saat mengikuti kegiatan bersama Ecoton. Peneliti mikroplastik ini terus mendorong agar temuan ilmiah tentang pencemaran plastik tidak berhenti di laboratorium, tetapi menjadi dasar kebijakan pengendalian mikroplastik. | Foto: Fully Syafi

“The Power of Kepepet” dan Sisi Introvert Seorang Peneliti

Di balik ketegasannya dalam advokasi lingkungan, sedikit yang tahu bahwa Rafika mengaku, jika dirinya seorang yang cenderung introvert. Berinteraksi dengan banyak orang baru, awalnya cukup menguras energinya. Namun, rasa ingin tahunya yang besar terhadap mikroplastik, membuatnya berani keluar dari zona nyaman itu.

“Saya belajar bahwa advokasi tidak selalu harus dimulai dari orang yang pandai berbicara, tetapi juga dari orang yang mau mendengarkan, memahami kebutuhan masyarakat, dan menyampaikan informasi dengan cara yang sederhana,” tuturnya.

BACA JUGA:  Eksplorasi Mikroplastik: Cara Ecoton Edukasi 118 Siswa Citra Berkat Surabaya

Keberanian itu pula yang ia terapkan saat menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketika berulang kali mencoba dan sempat gagal mendaftar program internasional YSEALI, seperti Regional Workshop di Vietnam.

Berbekal konsep yang ia sebut sebagai “the power of kepepet”, Rafika tidak gentar meskipun saat lolos pada 2022 kemampuan bahasa Inggrisnya masih terbatas. Ia memilih berlatih speaking sambil berjalan, membuktikan bahwa seseorang tidak harus menunggu merasa sempurna dalam mengambil sebuah kesempatan.

Rafika Aprilianti memperkenalkan pengamatan mikroplastik melalui MIMO (Microplastic Mobile Laboratory) Ecoton kepada masyarakat. Laboratorium bergerak ini digunakan untuk mengajak publik mengenali mikroplastik dan memahami ancamannya terhadap lingkungan. | Foto: Fully Syafi

Menatap Masa Depan: Melanjutkan Riset Baku Mutu

Enam tahun malang melintang meneliti mikroplastik dari air, ikan, makanan, udara, hingga sampel biologis manusia, pertanyaan terbesar di benak Rafika masih belum sepenuhnya terjawab. Terutama bagaimana merumuskan tingkat pencemaran mikroplastik yang sahih, bisa dijadikan standar baku mutu nasional.

“Perubahan besar tidak bisa didapatkan dengan mudah dan singkat; harus ada konsistensi, kesabaran, dan keterbukaan untuk segala informasi, misalnya terkait mikroplastik ini.”

Untuk menjawab tantangan inilah, Rafika bersiap melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dalam tahun ini, ia pun merencanakan studi S2 Ilmu Lingkungan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Semangatnya itu, ia ingin fokus meneliti karakteristik mikroplastik, mulai dari sumber pencemaran industri daur ulang plastik, serta dampaknya terhadap organisme.

Merangkum perjalanan panjangnya dalam satu kalimat yang berharap memantik kepedulian khalayak tentang ancaman mikroplastik, Rafika berpesan:

“Perubahan besar tidak bisa didapatkan dengan mudah dan singkat; harus ada konsistensi, kesabaran, dan keterbukaan untuk segala informasi, misalnya terkait mikroplastik ini.”

Perjalanan Rafika Aprilianti belum selesai. Dari bilik laboratorium di Wringinanom hingga ruang-ruang kebijakan, ia terus merajut asa, agar ancaman yang tak bisa dilihat mata dari sebutir plastik ini, tidak akan menjadi bom waktu yang diabaikan. ***

Profil Singkat Rafika Aprilianti:

  • Tempat, Tanggal Lahir: Lumajang, 19 April 1999
  • Jabatan Saat Ini: Kepala Laboratorium Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON)
  • Riwayat Pendidikan:
    • SD Islam Tompokersan Lumajang
    • SMPN 2 Lumajang
    • SMA Trensains Tebuireng Jombang
    • S1 Biologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *