Lewati ke konten

Dari Festival ke Aksi Nyata: Cara Siswa SMAN 1 Driyorejo Bela Kali Surabaya

| 5 menit baca |Pelajar Mbois | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  •  Kali Surabaya menopang kehidupan jutaan warga, tetapi pencemaran dan sampah plastik terus mengancam kualitas air serta ekosistem sungai.
  • Dari air baku hingga habitat ikan lokal, Kali Surabaya menghadapi tekanan pencemaran. Pelajar SMAN 1 Driyorejo mengajak generasi muda bertindak.
  • Ikan lokal masih bertahan di Kali Surabaya, tetapi pencemaran terus mengancam habitatnya. Menjaga sungai berarti menjaga masa depan bersama.
  • Pelajar SMAN 1 Driyorejo melihat Kali Surabaya bukan sekadar aliran air, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama.
  • Sampah plastik, limbah, dan mikroplastik membayangi Kali Surabaya. Dari sudut pandang pelajar, kepedulian harus berubah menjadi aksi nyata.

AIR adalah sumber kehidupan, dan sungai merupakan jalan panjang yang mengalirkan keberlanjutan tersebut bagi manusia maupun makhluk hidup di sekitarnya. Di Jawa Timur, Kali Surabaya memegang peran yang sangat krusial—mulai dari menyuplai kebutuhan air baku jutaan warga, mendukung aktivitas harian, menjadi ruang publik dan wisata, hingga menyediakan rumah bagi berbagai spesies ikan lokal. Namun, tekanan pencemaran limbah dan akumulasi sampah plastik kini mengancam fungsi ekologis sungai ini, menurunkan kualitas air, hingga membawa bahaya mikroplastik ke dalam rantai makanan.

Sebagai generasi muda yang tumbuh dan beraktivitas tak jauh dari aliran sungai ini, para pelajar dari SMAN 1 Driyorejo meuliskan pandangan serta kepedulian mereka melalui tulisan yang disusun usai mengikuti Surabaya River Festival 2026 di Taman Suaka Ikan pada 21–25 September 2026.

Lewat karya berikut, Ghisya Putri Ramadhaniya (Kelas X) dan Junnatun Nafi’ah (Kelas XI-1) menyuarakan refleksi kritis. Keduanya mengajak kita semua untuk tidak menjadi penonton, melainkan mengambil peran aktif dalam merawat dan melestarikan Kali Surabaya demi masa depan bersama.[]

BACA JUGA:  DO Turun, Ancaman Kali Surabaya Kian Nyata

#Menjaga Kali Surabaya, Menjaga Masa Depan Kita

Ghisya Putri Ramadhaniya
Kelas: X (10) | SMAN 1 DRIYOREJO

SEBAGAI siswa SMAN 1 Driyorejo, Kali Surabaya tuh bukan cuma  nama sungai yang sering kita lewati. Sungai itu tempat kebutuhan penting kehidupan buat masyarakat dari Mojokerto sampai Surabaya. Mulai dari pemenuhan kebutuhan air bersih sehari-hari sampai jadi rumah buat berbagai jenis ikan lokal kayak jendil, rengik, bader, keting, dan wader—semuanya bergantung sama Kali Surabaya.

Tapi kalau kita lihat kondisi sekarang, jujur miris banget. Sungai kita ini lagi enggak baik-baik saja. Sampah plastik melimpah dan limbah industri bikin kualitas air makin memburuk. Dari hasil pemantauan tahun 2026, kadar oksigen terlarut (DO) di sungai ini cuma sekitar 2–3 mg/L, alias di bawah batas normal. Belum lagi masalah sampah plastik yang terurai jadi mikroplastik di daerah hilir. Kalau ekosistemnya rusak dan ikannya tercemar, ujung-ujungnya yang rugi ya kita juga sebagai manusia.

Melihat kondisi ini, kita sebagai anak SMA jelas enggak boleh cuma diam atau sekadar prihatin. Ada banyak hal nyata yang sebenarnya bisa kita lakuin:

  • Mulai dari Diri Sendiri: Kurangi belanja pakai plastik sekali pakai, bawa tumblr sendiri ke sekolah, dan jangan pernah buang sampah sembarangan—apalagi ke sungai.
  • Aksi Nyata di Lapangan: Ikut kegiatan bersih-bersih sungai, bantu catat jenis sampah yang ada, atau sekadar motret dan nge-share kondisi sungai ke medsos biar makin banyak orang yang sadar.
  • Berani Suara dan Edukasi: Coba ngobrol atau wawancara warga sekitar, dan jangan ragu buat lapor kalau ngelihat ada yang buang limbah sembarangan.

Memperbaiki Kali Surabaya emang butuh kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, peneliti, warga, sampai komunitas. Tapi langkah kecil kita sebagai pelajar juga punya pengaruh besar.

BACA JUGA:  PET Jadi ‘Raja Mikroplastik’, Laporan ECOTON: Tubuh Manusia Kini Resmi Jadi Tempat Sampah

Ingat, sungai itu bukan tempat sampah raksasa. Kali Surabaya adalah bagian dari hidup kita, dan menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama.***

UJI MIKROPLASTIK: Sejumlah siswa mengamati sampel lingkungan menggunakan mikroskop digital saat mengikuti kegiatan edukasi ekologi. Dalam kegiatan tersebut, para pelajar diajak melakukan uji usap (swab), pemantauan kualitas udara, serta pengamatan ancaman pencemaran mikroplastik pada ekosistem sungai secara langsung. | Foto: Supriyadi

#Menatap Masa Depan Kali Surabaya: Penopang Utuh Kehidupan dan Penanda Kelestarian Ekosistem

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Junnatun Nafi’ah
Kelas: XI-1 | SMAN 1 Driyorejo

KALAU kita lewat atau nongkrong di pinggir sungai, kadang kita cuma ngeliat air yang mengalir begitu aja. Padahal, sungai itu ibarat saksi bisu perjalanan sebuah daerah dan penopang utama kehidupan masyarakat di sekitarnya. Salah satu yang punya peran vital banget buat kita di Jawa Timur adalah Kali Surabaya.

Kali Surabaya, atau yang sering juga dikenal sebagai Kali Mas, merupakan salah satu cabang utama pecahan Sungai Brantas yang mengalir sampai ke Selat Madura. Buat jutaan warga Surabaya dan sekitarnya, sungai ini bukan cuma bentangan air, tapi sumber kehidupan. Air baku yang dikelola Perumda Air Minum Surya Sembada berawal dari sini. Selain itu, Kali Surabaya juga punya nilai estetika dan wisata—contohnya kawasan Perahu Wisata Kalimas di Taman Prestasi. Sepanjang 12–13 kilometer alirannya betul-betul jadi ruang publik yang hidup.

Tapi jujur aja, kalau kita mau buka mata, sungai kita ini lagi ngirim sinyal darurat. Pada September 2026 kemarin, kualitas air Kali Surabaya dilaporkan masuk kategori tercemar berat akibat limbah dan sampah aktivitas manusia. Untungnya, pihak seperti Perum Jasa Tirta (PJT) I terus berupaya melakukan pemulihan dan pemantauan. Tapi ya jelas, pemulihan ini enggak akan berhasil kalau cuma ngandelin petugas tanpa ada sinergi dan ketegasan dari kita semua.

BACA JUGA:  Lima Stasiun AQMN Surabaya Pantau Kualitas Udara, Mahasiswa ITS Ungkap Mekanisme ISPU

Ajaibnya, di tengah gempuran pencemaran, alam masih menunjukkan daya tahannya. Berdasarkan data sensus ikan bulan September 2026, ternyata masih ditemukan 71 ekor ikan dari tujuh jenis lokal—seperti Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem (Muntho), dan Muraganting. Ikan Jendil bahkan jadi yang paling dominan dengan jumlah 44 ekor. Kehadiran mereka ini jadi kabar baik sekaligus pengingat tajam: ekosistem sungai kita masih berusaha bertahan hidup, dan kita enggak boleh sampai merusaknya lebih jauh.

Melihat fakta ini, rasanya udah enggak zaman lagi buat saling tuduh atau sekadar acuh. Menjaga Kali Surabaya adalah tanggung jawab kolektif. Sebagai pelajar SMA, kita bisa mulai dari hal terkecil: stop buang sampah sembarangan, kurangi plastik sekali pakai, dan ikut menyuarakan kepedulian lingkungan.

Menjaga Kali Surabaya berarti menyelamatkan ketersediaan air dan masa depan generasi kita sendiri. Stop pencemaran, mari rawat dan lestarikan sungai kita!***

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan PT Petrokimia Gresik (Persero) melalui Program Petro Tirta.

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *