Penelitian terbaru menunjukkan konsumsi mikroplastik polietilena dapat merusak fungsi nefron pada tikus (Rattus norvegicus). Paparan selama 90 hari memicu peningkatan Ox-LDL, penurunan serum albumin, serta kenaikan blood urea nitrogen dan kreatinin. Temuan ini membuka pemahaman baru tentang risiko ginjal manusia akibat polusi plastik kronis.
#Mikroplastik: Dari Pangan ke Darah
Era plastik membawa kenyamanan sekaligus ancaman kesehatan. Mikroplastik, partikel plastik berdiameter kurang dari 5 milimeter, telah terdeteksi dalam berbagai produk pangan sehari-hari.

Air minum mengandung 94,37 partikel/L, madu 54 partikel/L, gula 0,44 partikel/g, garam meja 140,2 partikel/kg, ikan sarden 0,3 mg/g, dan sayuran mencapai 52.050–233.000 partikel/g. Konsumsi mikroplastik secara tidak sengaja diperkirakan mencapai 126–142 partikel per hari pada orang dewasa.
Polietilena merupakan polimer plastik yang paling sering ditemukan, sekaligus dikenal sebagai “cocktail of contaminants” karena mengikat logam berat, pestisida, obat-obatan, dan polutan organik persisten.
Setelah tertelan, mikroplastik masuk ke traktus gastrointestinal dan terserap ke aliran darah melalui endositosis oleh sel M pada jaringan limfoid usus (Peyer’s patch). Keberadaan partikel ini memicu stress oksidatif melalui reactive oxygen species (ROS), yang dapat merusak sel dan jaringan tubuh.

#Oxidized LDL: Pemicu Kerusakan Nefron
Low-density lipoprotein (LDL) dalam darah dapat mengalami oksidasi membentuk oxidized LDL (Ox-LDL). Molekul ini bersifat aterogenik dan berikatan dengan trombosit melalui reseptor CD36, memicu aktivasi trombosit dan ekspresi LOX1. Trombosit aktif kemudian menghasilkan ROS lebih banyak, menambah tekanan oksidatif dalam tubuh.
Di nefron ginjal, kombinasi Ox-LDL dan trombosit aktif menimbulkan efek proinflamasi dan prokoagulasi. Akibatnya, laju filtrasi glomerulus (Glomerular Filtration Rate/GFR) menurun. Ox-LDL tidak hanya menimbulkan kerusakan vaskular, tetapi juga menurunkan kemampuan filtrasi ginjal secara langsung, yang dapat berujung pada kidney injury.

#Studi Eksperimental: Tikus sebagai Model
Penelitian yang dilakukan Yudhiakuari Sincihu dan tim Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya ini, menggunakan 42 tikus (Rattus norvegicus), dibagi menjadi enam kelompok.
Setiap kelompok menerima dosis mikroplastik harian: 0 mg, 0,0375 mg, 0,075 mg, 0,15 mg, 0,3 mg, dan 0,6 mg melalui sonde oral selama 90 hari. Analisis dilakukan menggunakan program Smart-PLS untuk membangun model mekanisme gangguan fungsi nefron akibat mikroplastik.
Hasil menunjukkan paparan peroral partikel mikroplastik signifikan meningkatkan kadar partikel MPs dan Ox-LDL dalam darah. Keberadaan MPs menurunkan serum albumin, sekaligus meningkatkan blood urea nitrogen (BUN) dan serum kreatinin.

Peningkatan Ox-LDL secara spesifik menurunkan serum albumin dan meningkatkan BUN, dengan semua nilai T-stat > 1,96, menandakan efek signifikan.
Serum albumin rendah menandai kerusakan sel nefron dini, sementara BUN dan kreatinin yang meningkat mengindikasikan kematian sel nefron yang lebih masif.
Temuan ini selaras dengan penelitian pada Emys orbicularis, yang menunjukkan penurunan albumin dan peningkatan BUN serta kreatinin setelah paparan mikroplastik dosis tinggi selama 30 hari.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Implikasi bagi Kesehatan Manusia
Tikus dipilih sebagai model karena kesamaan genetik substansial dengan manusia, sehingga gangguan fungsi nefron pada tikus bisa memberi gambaran risiko kesehatan manusia.
Mikroplastik polietilena dapat menimbulkan efek nefrotoksik melalui stres oksidatif dan Ox-LDL, baik secara langsung pada sel nefron maupun secara tidak langsung melalui kerusakan vaskular ginjal.
Kombinasi mekanisme ini meningkatkan risiko kidney injury, dengan penurunan kemampuan filtrasi ginjal yang dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Temuan ini mendorong pentingnya pengendalian paparan mikroplastik, mulai dari pemantauan makanan dan minuman hingga kampanye edukasi masyarakat.
Peneliti menekankan perlunya penelitian lanjutan pada manusia untuk menilai risiko kronis dan strategi mitigasi. Upaya pencegahan termasuk pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemanfaatan filter air, serta kebijakan lingkungan yang membatasi kontaminasi mikroplastik.
Konsumsi partikel mikroplastik polietilena secara kronis dapat menimbulkan gangguan fungsi nefron pada tikus melalui peningkatan Ox-LDL, penurunan serum albumin, dan kenaikan BUN serta kreatinin.
Penelitian ini memberikan pemahaman baru tentang risiko ginjal manusia akibat polusi plastik dan menegaskan urgensi mitigasi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.***