- Simak ulasan kritis tiga pelajar Sidoarjo dan Gresik yang membedah ancaman busa beracun hingga fenomena ikan mabuk di sepanjang aliran Kali Surabaya!
- Dari spot bertapa para pemancing mania hingga tumpuan air baku PDAM, intip catatan seru anak muda tentang nasib ekosistem Kali Surabaya masa kini.
- Bagaimana aksi nyata pelajar membersihkan bantaran sungai? Temukan cerita pendek inspiratif dan gagasan segar penyelamatan lingkungan dalam gelaran Kali Surabaya Festival 2026.
- Busa industri dan limbah domestik makin mengancam air minum kita. Baca analisis tajam siswa SMAN 1 Tarik mengenai krisis ekologi Kali Surabaya!
- Mengapa ikan lokal bisa ikut stres dan burnout? Mari telusuri potongan cerita unik nan kritis karya jurnalis muda demi kelestarian sungai tercinta.
RANGKAIAN tulisan penuh daya kritis ini hadir sebagai bagian dari semangat gelaran Kali Surabaya Festival 2026 yang berlangsung di Taman Suaka Ikan, Bantaran Kali Surabaya, Wringinanom pada 21–25 September 2026.
Melalui kacamata generasi muda, ajang ini bukan sekadar agenda edukasi biasa, melainkan panggung bagi para pelajar untuk bersuara dan mengamati secara langsung kondisi nyata sungai yang menjadi tumpuan hidup jutaan warga Jawa Timur.
Kumpulan artikel karya Shofiyan Akhmad Sulaiman (SMAN 1 Tarik Sidoarjo), Abiyyi Hibatullah El Muflih (SMAN 1 Driyorejo Gresik), dan As Syam Ramadhan Tri Atmaja (SMAN 1 Tarik Sidoarjo) menyajikan beragam perspektif menarik. Mulai dari aksi nyata kepedulian lingkungan lewat cerita pendek inspiratif, potret unik Kali Surabaya sebagai habitat ikan lokal dan spot bertapa para pemancing, hingga ulasan tajam mengenai ancaman limbah industri dan busa beracun yang mengancam pasokan air baku PDAM.
Selamat membaca karya-karya luar biasa ini, dan mari kita jadikan dorongan bagi kita semua untuk terus menjaga kelestarian Kali Surabaya![]


Shofiyan Akhmad Sulaiman
Kelas: XI-4 | SMAN 1 Tarik, Sidoarjo
Kali Surabaya yang Membutuhkan Kepedulian
PERNAH nggak sih kalian perhatiin kondisi sungai pas lagi perjalanan pulang sekolah? Momen itu yang dialami Raka dan Dimas sore kemarin. Cuaca lagi lumayan terik pas mereka berdua naik motor menyusuri jalanan pinggir Kali Surabaya. Di sepanjang bantaran, kelihatan beberapa warga lokal lagi duduk santai beristirahat. Tapi, pemandangan asri itu mendadak ternoda pas mata Raka tertuju ke tepi air: tumpukan sampah plastik, botol bekas, sampai daun-daun kering mengapung dan menumpuk gitu aja.
“Dim, lihat deh. Sayang banget ya, sungainya kotor gini. Padahal Kali Surabaya kan vital banget buat kehidupan masyarakat,” kata Raka sambil menunjuk ke arah sungai.
“Iya, Rak. Ngenes sih. Kalau sampah terus-terusan ditumpuk di sungai, airnya jelas makin tercemar dan ekosistem di dalamnya pasti rusak,” sahut Dimas prihatin.
Pas lagi asyik ngobrol, tiba-tiba pandangan mereka tertuju ke seorang anak kecil yang tanpa bersalah main lempar bungkus makanan ke aliran air. Nggak pakai pusing, Raka langsung menghampiri adik itu dengan pendekatan yang tetap sopan.
“Adik, maaf ya, sampahnya jangan dibuang ke sungai. Lebih baik dimasukkan ke tempat sampah biar aliran airnya tetap bersih dan nggak tercemar,” tutur Raka ramah.
Mendengar teguran halus itu, si anak langsung mengambil kembali sampahnya dan minta maaf. Dari kejadian simpel itu, kepala Raka mendadak teringat ide kreatif. Dia langsung berinisiatif ngajak kawan-kawan sekolahnya buat bikin aksi kerja bakti bareng di hari Minggu!
Pas hari H tiba, semangat teman-teman ternyata luar biasa. Mereka berkumpul di bantaran sungai lengkap membawa sarung tangan dan kantong sampah besar. Bersama-sama, mereka menyisir dan memunguti sampah di sekitar lokasi sambil memberikan edukasi santai ke warga sekitar agar stop buang sampah sembarangan.
Begitu aksi selesai, wajah Kali Surabaya kelihatan jauh lebih bersih dan tertata. Ada rasa puas dan lega di hati Raka serta teman-temannya. Momen ini jadi bukti nyata kalau aksi kecil dari generasi muda bener-bener bisa membawa perubahan positif buat lingkungan!
- Pesan Moral: Menjaga kebersihan sungai itu tanggung jawab kita bersama. Lingkungan yang sehat dan asri selalu dimulai dari rasa peduli serta aksi nyata dari diri kita sendiri!***


Abiyyi Hibatullah El Muflih WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Kelas: XI | SMAN 1 Driyorejo
TitikTerang hadir di WhatsApp
Kali Surabaya: Rumah Makan Gratis, Spot Bertapa Pemancing, dan Nasib Ekosistem Kita
KALIAN tahu nggak sih, Kali Surabaya itu bisa dibilang kaya pahlawan tanpa tanda jasa sekaligus “rumah makan gratis” buat warga Kota Pahlawan? Bayangin aja, sungai yang mengalir jauh dari Mlirip di Mojokerto, lewat Sidoarjo, sampai membelah Kota Surabaya ini bukan cuma jadi sumber utama bahan baku air PDAM—air yang tiap hari kita pakai mandi sambil melamun galau—tapi juga jadi rumah nyaman buat berbagai jenis ikan lokal kaya Rengkik, Bader, Keting, sampai Nila.
Buat para pemancing mania, bantaran Kali Surabaya ini udah kaya tempat bertapa wajib demi ngerasain sensasi narik ikan Rengkik yang dagingnya super gurih kalau digoreng!
Tapi ya gitu, nasib ikan-ikan di sini kadang agak tragis karena sungainya sering banget dijadikan tempat “curhat” buang limbah sembarangan. Padahal kalau airnya sampai tercemar, kasihan banget ikannya. Bukannya makin gemuk dan sehat, malah bisa-bisa ikannya ikut stres berat sampai burnout!
Untungnya, gerakan pembersihan sungai dan aksi tebar benih ikan rutin digelar biar ekosistemnya tetap lestari. Jadi, selain bikin kota kita tetap asri dan punya spot wisata perahu yang estetik, Kali Surabaya bakal tetap jadi surga kecil buat para pemancing dan habitat ikan lokal yang wajib banget kita jaga bareng-bareng!***


As Syam Ramadhan Tri Atmaja
Kelas: XI | SMAN 1 Tarik, Sidoarjo
Ancaman Pencemaran Kali Surabaya dan Dampaknya Bagi Kebutuhan Air Masyarakat
BICARA soal tumpuan kehidupan di Jawa Timur, Kali Surabaya jelas ada di barisan paling depan. Sungai yang membentang dari kawasan hulu sampai ke pusat Kota Surabaya ini punya peran super vital sebagai sumber air baku utama yang dikelola PDAM. Bayangin aja, jutaan warga Surabaya dan sekitarnya bergantung penuh sama aliran sungai ini buat memenuhi kebutuhan air bersih harian. Kalau sampai alirannya terganggu, aktivitas di pemukiman, fasilitas publik, sampai sektor usaha di area metropolitan dipastikan bakal lumpuh total.
Sayangnya, kondisi ekosistem Kali Surabaya belakangan ini makin memprihatinkan akibat gempuran polutan. Masih hangat di ingatan kita pas krisis ekologi kembali bikin heboh di awal September 2026 kemarin. Gumpalan busa putih beracun tiba-tiba muncul memenuh aliran sungai, mulai dari Pintu Air Rolak Karah sampai ke kawasan Sungai Jagir. Busa beracun ini nggak cuma bikin pasokan air baku PDAM tersendat, tapi juga memicu tragedi ikan mabuk dan mati massal. Usut punya usut, pencemaran parah ini diduga kuat berasal dari pembuangan limbah cair pabrik yang nakal plus buangan detergen dan sisa aktivitas rumah tangga dari pemukiman padat.
Anjloknya kualitas air di Kali Surabaya ini emang kombinasi komplit antara limbah industri yang dibuang tanpa pengolahan IPAL yang benar, resapan pupuk kimia pertanian, dan tumpukan sampah domestik. Dampaknya bikin kadar oksigen terlarut di dalam air drop parah sampai mengancam kelangsungan hidup ikan-ikan lokal. Bukan cuma itu, beban operasional penyaringan air bersih PDAM juga jadi makin berat. Tingginya bahan kimia dan limbah organik bikin pengelola harus kerja ekstra keras demi memastikan air yang sampai ke keran rumah warga tetap aman dan sesuai standar kesehatan.
Masalah kaya gini terus berulang karena pengawasan di sepanjang bantaran sungai masih tergolong longgar, ditambah masih minimnya kesadaran warga buat stop buang sampah ke sungai. Makanya, penyelamatan Kali Surabaya butuh langkah konkret dan tegas! Mulai dari penegakan hukum tanpa pandang bulu buat industri nakal, pemasangan alat pemantau kualitas air otomatis, sampai pembenahan sistem pengolahan limbah rumah tangga. Ingat, menyelamatkan Kali Surabaya itu bukan cuma soal menjaga alam, tapi soal menjamin ketersediaan air bersih buat keberlangsungan hidup kita di masa depan!***
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi antara Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) dan PT Petrokimia Gresik (Persero) melalui Program Petro Tirta.