- The New York Times menyoroti epidemi mikroplastik Indonesia. Di Kali Surabaya, lima jenis ikan terkontaminasi mikroplastik, sementara 12 spesies dikabarkan punah. Sensus Ecoton memperlihatkan ancaman ekologis di sungai yang memiliki panjang 42 kilometer itu.
- Seperti disorot The New York Times, mikroplastik kian menyebar di Indonesia. Sensus Ecoton menemukan 159 partikel plastik dalam lambung lima jenis ikan Kali Surabaya dari hasil pembedahan.
- The New York Times mengungkap pandemi mikroplastik Indonesia akibat pembakaran sampah hingga limbah industri. Di Kali Surabaya, Ecoton menemukan lima jenis ikan terkontaminasi partikel mikroplastik.
- Sorotan The New York Times terhadap krisis mikroplastik Indonesia mengungkap persoalan serius: 68 sungai tercemar, 18 kota terpapar, dan Kali Surabaya menghadapi ancaman kepunahan ikan lokal.
- Saat The New York Times menyoroti epidemi mikroplastik Indonesia, Kali Surabaya terbukti lima jenis ikan terkontaminasi, 159 partikel ditemukan, dan 80 persen tangkapan berkelamin betina.
KEBIASAAN ikan mengonsumsi partikel mikroplastik memicu ancaman kepunahan ekosistem air di Kali Surabaya. Temuan terbaru dari kegiatan Sensus Ikan 2026 yang digelar Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mengungkapkan, seluruh sampel dari lima jenis ikan yang dibedah lambungnya. terbukti telah terkontaminasi partikel mikroplastik.
Sampah plastik yang dibuang sembarangan tidak cuma berhenti jadi tumpukan di pinggir jalan maupun bantaran sungai. Tetapi plastik-plastik itu melapuk dan hancur jadi partikel sangat kecil disebut mikroplastik.
Sumbernya macam-macam, mulai dari sampah cair pabrik daur ulang, sisa pembakaran sampah, gesekan ban di jalanan, sampai serat pakaian sintetis dari cucian. Serbuk plastik ini mabur lewat udara, terbawa debu, dan hanyut tersapu air hujan ke selokan, sebelum akhirnya bermuara di Kali Surabaya dan tertelan ikan-ikan di sana.
Peneliti Sungai Ecoton, Prigi Arisandi menjelaskan, mikroplastik tergolong senyawa pengganggu hormon. Keberadaannya di dalam air sungai sangat berdampak langsung pada proses pembentukan kelamin dan pertumbuhan fisik ikan.
“Mikroplastik masuk kategori senyawa pengganggu hormon. Keberadaannya di air sungai akan berpengaruh pada terbentuknya kelamin ikan, dan bila masuk ke dalam organ tubuh akan memengaruhi pertumbuhan ikan,” ujar Prigi dalam keterangannya, Ahad (4/10/2026).
Lebih lanjut, Prigi memaparkan bagaimana pencemaran ini mengganggu sistem reproduksi ikan. Menurutnya, proses pembuahan, yaitu bertemunya sel sperma dan telur. Terjadi langsung di luar tubuh ikan alias di dalam air.
“Kalau kita mau detail memahami, sistem pembuahan ikan atau bertemunya sperma dan sel telur itu terjadi di air, atau di luar organ tubuh ikan. Mikroplastik di perairan ini berperan sebagai senyawa pengganggu hormon yang mendorong terbentuknya kelamin betina, karena ikan menganggap mikroplastik sebagai hormon estrogen,” terang Prigi.

Temuan Kontaminasi pada Organ Lambung Ikan
Berdasarkan hasil pembedahan organ lambung pada sampel lima jenis ikan hasil tangkapan di Kali Surabaya, tercatat akumulasi sebanyak 159 partikel mikroplastik dengan perincian data sebagai berikut:
- Palung: Berat badan 70 gram | Temuan 18 partikel | Konsentrasi 25 partikel per 100 gram berat badan.
- Bader Merah: Berat badan 110 gram | Temuan 27 partikel | Konsentrasi 24 partikel per 100 gram berat badan.
- Bader Putih: Berat badan 185 gram | Temuan 24 partikel | Konsentrasi 13 partikel per 100 gram berat badan.
- Rengkik: Berat badan 425 gram | Temuan 40 partikel | Konsentrasi 9 partikel per 100 gram berat badan.
- Jendil: Berat badan 500 gram | Temuan 50 partikel | Konsentrasi 10 partikel per 100 gram berat badan.
Dari total 159 partikel mikroplastik yang teridentifikasi, komposisi jenis polimernya didominasi oleh:
- Fragmen (serpihan plastik): 78,61 persen
- Fiber (serat pakaian/tekstil): 20,12 persen
- Film (lembaran plastik tipis): 1,25 persen

Dominasi Populasi Betina dan Hasil Sensus Ikan 2026
Sebagaimana diketahui, kegiatan Sensus Ikan yang digelar Ecoton pada 12–13 September 2026. Telah berhasil mengamankan 71 ekor ikan dari tujuh jenis populasi, yaitu Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem/Muntho, dan Muraganting.
Spesies Jendil menjadi populasi terbanyak yang ditemukan, yakni 44 ekor atau sekitar 65 persen dari total tangkapan. Dari keseluruhan ikan yang tertangkap dan diperiksa, sebanyak 80 persen teridentifikasi berkelamin betina.
Menanggapi hal ini, Koordinator Pendidikan Lingkungan Ecoton, Erica Damayanti mengatakan, tingginya keberadaan mikroplastik merupakan dampak langsung dari buruknya tata kelola sampah di kawasan Kali Surabaya.
Hal ini kata dia, karena lemahnya pengawasan limbah industri di Kawasan Kali Surabaya, yang melintasi wilayah Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo, dan Kota Surabaya.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Bisa jadi karena lemahnya pengawasan, pembiaran limbah industri, dan pembuangan sampah oleh warga di sepanjang Kali Surabaya,” ujarnya.

Sorotan Media Internasional dan Kepunahan Spesies
Tingkat pencemaran di Indonesia ini, turut mendapat sorotan internasional. Laporan harian The New York Times edisi 28 September 2026 melalui artikel berjudul “An Epidemic Spreads Across Indonesia” mengutip riset ECOTON dan menggambarkan mikroplastik sebagai persoalan yang sudah meluas.
Dalam laporan itu menyebutkan Indonesia mengalami Pandemi Mikroplastik, di mana 68 sungai telah tercemar mikroplastik. Begitu halnya yang terjadi di 18 kota di Indonesia udaranya juga telah terpapar mikroplastik. Kali Surabaya menjadi salah satu titik lokasi yang tak luput dari paparan tersebut .
Artikel berdasarkan laporan tiga jurnalis Sui-Lee Wee, Pablo Robles, dan Rin Hindryati, sebelumnya juga telah dilaporkan melalui media daringnya, pada 6 September 2026, menguraikan bagaimana partikel dari pembakaran sampah, debu, pakaian sintetis, ban kendaraan, hingga limbah cair industri menjadi sumber utama pencemaran.
Proses kejadian ini, air hujan lantas bertindak sebagai pelarut, menangkap partikel mikroplastik yang melayang di udara. Lalu membawanya masuk kembali ke aliran sungai.
Berdasarkan data pengukuran paparan mikroplastik di beberapa titik lopran itu menyebutkan:
- Udara ambient di sekitar pabrik daur ulang plastik Balongbendo dan timbunan sampah Kedunganyar: Tercatat 630,5 partikel per jam.
- Kandungan di air Kali Surabaya: Ditemukan 0,73–3,6 partikel per liter air.
- Kandungan pada sedimen Kali Surabaya: Ditemukan 0,22–0,54 partikel per gram sedimen.
- Limbah cair pabrik daur ulang plastik di aliran Sungai Brantas: Ditemukan 4,46–9,18 partikel per liter.
Dampak buruk pencemaran air dan limbah ini, terbukti mengikis populasi keanekaragaman hayati. Berdasarkan Riset Dr. Veryl Hasan, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (UNAIR) membuktikan, sedikitnya 12 spesies ikan di Kali Surabaya telah dinyatakan punah, sehingga saat ini hanya tersisa 35 spesies yang bertahan.

Rekomendasi Pemulihan Ekosistem
Menanggapi krisis ekologi yang terus mengancam kepunan ikan Kali Surabaya, Prigi juga meminta dilakukannya langkah konkret dan terintegrasi dari seluruh pihak:
“Untuk pelestarian ikan di Kali Surabaya dibutuhkan langkah serius pengelolaan sampah dan monitoring limbah cair di DAS Kali Surabaya,” tegas Prigi.
Maka itu Ecoton mendorong sejumlah langkah darurat meliputi:
- Stop aksi pembakaran sampah secara terbuka (open burning).
- Perluasan layanan pengangkutan serta pemilahan sampah hingga tingkat desa di sepanjang DAS Kali Surabaya.
- Pelibatan aktif masyarakat dalam pengawasan pembuangan limbah cair industri, khususnya pada aktivitas pabrik daur ulang plastik.
- Memasukkan parameter mikroplastik secara resmi ke dalam pemantauan kualitas lingkungan hidup.
Fenomena kepunahan massal fauna di Kali Surabaya, sebenarnya khalayak sudah menyadari. Hanya saja, tidak ada komitmen bersama, baik stakeholder pengelola Kali Surabaya, industri pembuang limbah, dan masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai tersebut.***