Lewati ke konten

Air Kali Surabaya Terancam Limbah: Potret Pembiaran Lingkungan di Balik Layar Good Morning Tomorrow

| 6 menit baca |Ekologis | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Editor: Supriyadi
  • Industri terus membuang limbah, sementara pengelola air hanya sebatas memantau. Di tengah krisis Kali Surabaya, 61 pelajar diajak bersuara lewat film Good Morning Tomorrow. Mampukah Gen Z menyelamatkan sungai?
  • Kali Surabaya kian terancam limbah industri dan sampah rumah tangga. Pelajar kini dituntut peduli dan bergerak. Namun, sampai kapan beban pemulihan sungai terus diwariskan ke bahu generasi muda?
  • Menjadi sumber air 90 persen warga Surabaya, Kali Surabaya justru diracuni saban hari. Lewat pemutaran film dan aksi tanam pohon, para pelajar menagih ketegasan penegakan hukum bagi pencemar.
  • Dari pemutaran film Good Morning Tomorrow hingga ancaman satu ton sampah Kali Tebu harian. Ratusan pelajar kritis pertanyakan pembiaran limbah industri yang kian merusak masa depan air bersih.
  • Tak cukup hanya jadi penonton, 61 pelajar di Jawa Timur diajak menjadi penjaga sungai. Saatnya ruang digital dan aksi nyata dipakai untuk melawan pembiaran pencemaran di Kali Surabaya!

Penulis: Disma Peranita, Mahasiswa Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, Peserta Program Studi Independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), periode 25 September–5 November 2026.

KALI Surabaya yang membentang sekitar 46 kilometer dari Mlirip hingga hilir Surabaya. Selama ini dikenal menjadi tumpuan sumber air bagi hampir 90 persen warga Surabaya. Sayangnya, sungai itu kini menghadapi tekanan teramat berat. Bukan hanya limbah industri, tetapi juga limbah rumah tangga yang terus mencemari sungai itu.

Kondisi ini membuat Perum Jasa Tirta I (PJT I) Jawa Timur bersama ECOTON Foundation mengajak 61 pelajar dari sejumlah sekolah di Gresik, Sidoarjo, dan sekitarnya, mengenal lebih dekat persoalan sungai itu.

Kegiatan sambil menonton film berjudul “Good Morning Tomorrow: Aksi Kecil untuk Masa Depan yang Hijau” besutan PJT I dan ECOTON ini, digelar pada Jumat, 9 Oktober 2026.

BACA JUGA:  DLH Jombang Dituding Pasif dalam Kasus Limbah Ayam di Brantas: Bukti Banyak, Tindakan Nyaris Nol

Para pelajar dari SMP PGRI Wringinanom, SMAN 1 Tarik Sidoarjo, SMAN 1 Wringinanom, SMK Cerme Gresik, dan MA Raden Paku Wringinanom itu, cukup antusias mengikuti jalannya pemutaran film tersebut. Bukan pemutaran film saja sebenarnya, sebelumnya para pelajar itu juga diajak menanam bersama di bantaran sungai Kali Surabaya di kawasan Lebaniwaras, Wringinanom.

Film Good Morning Tomorrow, yang dibintangi Jofanny dan Ellena Go, mengangkat hubungan manusia dengan sungai serta perjalanan air dari hulu hingga hilir. Sungai dalam film tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai latar, tetapi sebagai bagian penting kehidupan yang terus mengalami perubahan akibat aktivitas manusia.

Film itu juga menggambarkan dua anak muda itu dengan latar berbeda. Ellena Go, seorang anak muda perempuan tinggal di sebuah apartemen di kota besar, Surabaya. Sebelumnya tidak banyak mengetahui asal-usul air yang dikonsumsinya. Sementara tokoh Jofanny merupakan pemuda yang aktif mengampanyekan kebersihan dan kesehatan sungai.

Perjalanan kedua tokoh itu cukup membawa pesan bahwa air yang digunakan masyarakat setiap hari ternyata memiliki perjalanan panjang.

Menanam harapan untuk masa depan sungai. Pelajar bersama-sama menanam pohon dalam kegiatan Good Morning Tomorrow, sebagai langkah kecil untuk menjaga lingkungan dan memulihkan ekosistem dari hulu hingga hilir. | Foto: Fully Syafi

PJT I: Pengelola Air Baku, Bukan PDAM

Di acara pemutaran film yang dilangsungkan diskusi itu, Kepala Sub Divisi Pengelolaan SDA WS Brantas 3 PJT I, Ir. Agung Widjaksono, menjelaskan masih banyak masyarakat yang menganggap PJT I sama dengan PDAM.

“PJT I merupakan BUMN yang bertugas mengelola dan menyediakan air baku. Air tersebut kemudian dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk dipasok kepada PDAM, industri, dan pembangkit listrik tenaga air,” kata Agung.

PJT I juga mengelola Sungai Brantas dari hulu hingga hilir serta sejumlah wilayah sungai lainnya. Salah satu infrastruktur yang dikelola adalah Waduk Sutami atau Karangkates, yang berfungsi menampung air agar ketersediaannya tetap terjaga, terutama saat musim kemarau.

BACA JUGA:  Limbah Industri Kertas: Risiko Senyap di Balik Produksi Pulp PT Indonesia Royal Paper

Agung mengatakan generasi muda memiliki posisi penting dalam kampanye penyelamatan sungai karena sangat dekat dengan media sosial.

“Gen Z sekarang akrab dengan media sosial, yang menjadi sumber berita tercepat untuk kampanye sungai. Harapan kami, adik-adik bisa mengedukasi, mulai dari diri sendiri,” ujar Agung.

Perwakilan PJT I lainnya, Yanto, juga mengajak pelajar mengurangi penggunaan sampah plastik, khususnya kemasan produk instan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mencuci sepeda motor di sungai.

Sampah Kali Tebu Lebih dari Satu Ton Sehari

Sementara itu, Jofanny mengungkapkan persoalan sampah yang masih terjadi di sungai. Sampah, kata dia, yang masuk ke Kali Tebu, contohnya, mencapai lebih dari satu ton hampir setiap hari.

Kali Tebu yang dimaksud Jofanny, sebuah sungai yang berada di kawasan Kenjeran Surabaya utara, yang saat ini sedang menjadi perhatian khalayak karena sampahnya. Temuan ini berlangsung saat tim MOZAIK bentukan ECOTON melakukan evakuasi hingga mencapai 130 ton, mulai bulan Mei – Oktober 2026 ini.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Melihat kenyataan itu, Jofanny mengajak para pelajar mulai membangun kepedulian terhadap sungai, terutama Kali Surabaya. Dengan demikian, Jofanny mengajukan pertanyaan kepada para pelajar: “Apa kabar sungai di sekitar saya?”

“Kalau sungai kotor, badan kita juga ikut kotor,” kata Jofanny.

Setelah memperoleh jawaban dari para pelajar bahwa Kali Surabaya tidak sedang baik-baik saja, ia pun mengajak pelajar memanfaatkan media sosial agar dalam penggunaannya bisa berguna.

Jofanny mengingatkan sebaiknya media sosial digunakan membuat konten edukasi tentang sungai. Karena menurutnya, dengan menggunakan ruang digital bukan untuk hiburan saja, tetapi alangkah baiknya untuk menyuarakan kepentingan publik.

BACA JUGA:  Risiko Insinerasi: Mengapa Proyek Waste to Energy Danantara Dianggap Menghambat Pengurangan Sampah?

“Kamu akan terlihat keren jika membela hak orang banyak,” ujarnya.

Guru Biologi pendamping siswa SMAN 1 Tarik, Ernie Musinatin, menempelkan komitmen dalam kegiatan Good Morning Tomorrow sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dan masa depan sungai. | Foto: Fully Syafi

Pelajar Pertanyakan Limbah Industri

Diskusi setelah pemutaran film berlangsung cukup interaktif. Pertanyaan-pertanyaan para pelajar berlangsung kritis. Salah satu siswa, Revan Ramadhani dari SMKN 1 Cerme, Gresik, menanyakan bagaimana cara menjaga sungai dari hulu hingga hilir agar kualitas air tetap terjaga.

Selanjutnya ia juga menanyakan mengapa masih terdapat industri yang membuang limbah ke sungai.

Mendengar pertanyaan siswa ini, Agung menjelaskan bahwa kewenangan PJT I dalam persoalan ini berada pada aspek pemantauan dan pelaporan saja.

“Jadi kami bukan menindak. Yang memiliki kewenangan menindak adalah dinas lingkungan terkait, terutama dinas lingkungan Provinsi Jawa Timur,” ucap Agung.

Sementara itu, guru biologi pendamping siswa SMAN 1 Tarik, Ernie Musinatin,, mengaku prihatin melihat perubahan kondisi sungai di Tulangan, Sidoarjo, yang menurutnya merupakan DAS Brantas. Menurutnya, sungai yang dahulu masih bersih ketika dirinya kecil kini telah mengalami pencemaran.

“Saya sangat antusias dan mengapresiasi film ini. Semoga menjadi media sosialisasi yang persuasif untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.

Menurut Erni, judul Good Morning Tomorrow juga mengandung pesan mengenai masa depan. Masih ada kesempatan bagi generasi berikutnya untuk menikmati lingkungan yang baik apabila perilaku manusia mulai diperbaiki sejak sekarang.

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mendorong keberanian generasi muda untuk bersuara dan ikut memulihkan sungai.

“Tugas kita memulihkan sungai-sungai ini, agar anak cucu kita bisa berenang di sungai seperti kita dulu,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, ECOTON dan PJT I berharap pelajar tidak hanya memahami pentingnya sungai sebagai sumber air, tetapi juga berani mengambil peran dalam menjaga sungai dari hulu hingga hilir.***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *