Lewati ke konten

Ketika Hujan Tak Lagi Menyegarkan, Tapi Mengandung Plastik: Penggunaan Masker Disarankan untuk Cegah Paparan dari Udara

| 6 menit baca |Ekologis | 11 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Ulung Hananto, M Alaika Rahmatullah Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

JAKARTA turun hujan lagi, tapi bukan cuma air yang jatuh dari langit, ada plastik juga di dalamnya.  BRIN menemukan partikel mikroplastik di setiap sampel air hujan di ibu kota sejak 2022.

Kementerian Kesehatan langsung memberi imbauan, pakailah masker, bukan hanya untuk COVID, tapi untuk plastik yang beterbangan di udara. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa hujan ini “perlu diwaspadai, bukan ditakuti”.

“Fenomena ini perlu diwaspadai, bukan ditakuti. Ini sinyal bahwa partikel plastik sudah tersebar sangat luas di sekitar kita,” ujar Aji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes pada Jumat, (31/10/2025)

Bahasanya tenang, tapi isinya bikin deg-degan. Karena kalau sudah hujan plastik, itu tandanya bumi sedang menegur pelan—tapi dalam bahasa yang sangat jelas.

#Plastik Naik ke Langit, Turun Lagi Jadi Karma

Reza Cordova dari BRIN menjelaskan, siklus plastik kini sudah mirip siklus air. Bedanya, yang satu memberi kehidupan, yang satu lagi pelan-pelan mencemari kehidupan. “Dari darat ke laut, lalu ke udara, dan kembali lagi ke bumi bersama hujan,” katanya.

Mikroplastik ini lahir dari banyak sumber, serat pakaian sintetis, debu ban kendaraan, asap pembakaran, sampai sisa-sisa plastik sekali pakai yang kita buang tanpa pikir panjang.

Hasil riset BRIN sejak 2022 menemukan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari dalam air hujan di kawasan pesisir Jakarta.

“Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” ujar Reza.

Dan seolah belum cukup, kajian Ecoton dan SIEJ di 18 kota, termasuk Jakarta, Bandung, dan Semarang, membuktikan bahwa udara kita pun kini tak lagi murni. Ia penuh partikel plastik, partikel yang tak kasat mata, tapi diam-diam ikut kita hirup setiap hari.

Menurut penelitian tersebut, ada lima jenis polimer yang ditemukan dalam air hujan,  poliester, nilon, polietilena, polipropilena, dan polibutadiena. Karena menurut penelitinya di udara, ditemukan PTFE (Teflon), Epoxy, Poliisobutylen (karet sintetis), Poliolefin, dan Silika. Artinya, udara yang kamu hirup bisa jadi sudah setara dengan mengendus bahan dasar kabel, ban, atau bahkan lapisan wajan anti lengket.

Sofi Azilan Aini dari Laboratorium ECOTON mengingatkan, “Setiap kali kita membakar sampah atau memakai plastik sekali pakai, kita sebenarnya sedang mengirim partikel kecil ke udara, dan mereka akan kembali lagi ke kita, entah lewat hujan, air minum, atau udara yang kita hirup.”

Jadi kalau belakangan kamu merasa “Jakarta panas banget,” mungkin bukan cuma karena iklim tropis.

Bisa jadi karena kita memang sedang hidup di oven plastik raksasa, dan langitnya sedang menunggu waktu untuk mengembalikan semuanya dalam bentuk yang lebih halus—tapi jauh lebih berbahaya.

#Mikroplastik: Kecil, Halus, Tapi Ngeselin

Ukuran mikroplastik ini lebih kecil dari debu biasa, tapi dampaknya bisa jauh lebih gawat.
Mereka membawa bahan kimia berbahaya seperti bisfenol A (BPA), ftalat, dan logam berat—zat-zat yang bisa merusak hormon dan jaringan tubuh.

Belum lagi sifatnya yang gampang bersahabat dengan polutan lain, kayak hidrokarbon dari asap kendaraan.

Hasilnya? Koktail udara beraroma plastik dan bensin, minuman favorit paru-paru warga kota.

Dan kabar buruknya, belum ada penelitian yang memastikan seberapa banyak mikroplastik bisa ditoleransi tubuh manusia. Artinya, kita semua sedang jadi bahan percobaan alam semesta.

#Ketika Plastik Sudah Jadi Cuaca

Guru Besar IPB, Etty Riani, bilang bahwa suhu tinggi dan udara kering bikin plastik cepat rapuh dan berubah jadi partikel halus.

Partikel-partikel itu kemudian beterbangan, menumpang awan, dan, seolah ikut pelajaran geografi, turun lagi ke bumi dalam bentuk hujan.

“Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan masyarakat menjadi akar masalah dari cemaran mikroplastik,” ujar Etty.

Dan kalimat paling pahit datang dari Reza Cordova, “Langit Jakarta sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya. Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Jadi kalau suatu hari kamu menatap langit Jakarta dan merasa ada yang berbeda, mungkin memang benar. Karena langit sedang mengembalikan utang kita.

Ini bukan lagi tentang laut yang tercemar atau sungai yang mati—ini tentang langit yang ikut terkontaminasi.

Kita sudah terlalu lama memuja plastik karena murah dan praktis, sampai lupa bahwa yang “tak mudah rusak” juga berarti “tak mudah hilang.”

Akibatnya, hujan yang dulu dianggap pembersih alam, kini malah membawa residu peradaban.

Barangkali sebentar lagi BMKG perlu menambah satu kategori baru di ramalan cuaca. “Hujan ringan disertai angin kencang dan kemungkinan plastik turun 30%.”

#Dari Sekolah Sampai Rumah: Mimpi Langit yang Lebih Bersih

Namun tidak semua kabar buruk. Di Sukabumi, para Kader Kesehatan Remaja SMA Negeri 2 rutin memilah plastik sebelum dikirim ke bank sampah. Langkah kecil, tapi inilah bentuk “doa” nyata agar hujan di masa depan kembali jernih.

Etty mengingatkan, “Kurangi plastik, hindari produk dengan mikroplastik, dan mulai memilah dari rumah. Reza menambahkan, industri juga harus ikut tanggung jawab,  “Pasang filtrasi serat sintetis di mesin cuci, perbaiki sistem limbah, dan berhenti pura-pura tidak tahu.
Dan yang paling menyentuh adalah kalimat pamungkas Reza:

“Langit Jakarta sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya.” Ya, mungkin langit tidak marah. Ia hanya meniru kita—manusia yang setiap hari membuang plastik ke mana saja tanpa peduli, dan kini harus menatap hasilnya jatuh dari awan.

Tubuh manusia sekarang kayak museum plastik mini — dari otak sampai usus, semua udah ada koleksinya. Dan kalau ini bukan alarm darurat, entah apa lagi yang bisa bikin kita sadar.

#Dampak Mikroplastik: Ketika Tubuh Jadi Tempat Sampah Kecil

Kita pikir plastik berhenti di laut, tapi ternyata dia juga bisa numpang hidup di dalam tubuh kita. Mulai dari otak sampai organ reproduksi, semuanya kena jatah.

  1. Otak: Dari Pintar Jadi Lemot

Mikroplastik bisa bikin penurunan IQ, perubahan perilaku, alergi, sampai gangguan perkembangan bayi. Kalau otak udah disusupi partikel plastik, jangan heran kalau kadang rasanya “lag” dalam mikir.
Lebih parahnya lagi, partikel ini bisa memicu peradangan saraf yang berujung ke penyakit seperti Alzheimer atau Parkinson.

  1. Paru-paru: Setiap Tarikan Napas Ada Plastik

Partikel halus ini bisa masuk lewat udara dan bikin radang paru serta gangguan pernapasan.
Singkatnya: tiap kali kamu ngeluh udara kotor, bisa jadi kamu lagi “nyedot” plastik versi mikroskopik.

  1. Darah & Organ Dalam: Plastik Masuk Jalur Ekspres

Begitu masuk darah, mikroplastik bisa keliling ke mana-mana: jantung, hati, ginjal, you name it. Efeknya? Peradangan kronis yang bikin organ kerja lembur tanpa upah.

  1. Lambung & Usus: Plastik Ikut Makan

Partikel ini bisa bikin radang lambung dan menembus jaringan organ pencernaan lain.
Sampel tinja manusia di berbagai studi juga udah terbukti mengandung mikroplastik — artinya, kita makan plastik, mencerna plastik, dan… ya, buang plastik juga.

  1. Hati & Ginjal: Mesin Detoks Tubuh Jadi Korban

Dalam 72 jam aja, mikroplastik bisa bikin perubahan morfologi ginjal alias bentuk dan fungsinya berubah.

Hasilnya? Risiko gagal ginjal meningkat. Sementara di hati, sel-sel bisa rusak karena metabolisme sel melambat.

  1. Organ Reproduksi Wanita: Hormon Kacau Balau

Paparan mikroplastik bisa mengacaukan hormon dan memicu sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Bisa dibilang, plastik ini nggak cuma ganggu lingkungan, tapi juga jadwal ovulasi.

  1. Organ Reproduksi Pria: Sperma Kalah Sama Plastik

Jumlah dan kualitas sperma bisa turun. Plastik juga diduga meningkatkan risiko kanker testis dan prostat. Jadi, kalau bumi aja udah susah napas, sperma manusia pun ternyata ikut ngos-ngosan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *