Lewati ke konten

Laut Dikotori, “Good Morning Tomorrow” Usik Kesadaran Ekologis Pelajar SMAN 1 Dukun

| 5 menit baca |Pelajar Mbois | 3 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Marga Bagus
  • Perjuangan menyelamatkan sungai berlanjut ke hilir Bengawan Solo. Lewat pemutaran film Good Morning Tomorrow, ratusan siswa SMAN 1 Dukun Gresik diajak menolak diam atas pencemaran air yang mengancam muara laut.
  • “Harusnya kita ikut marah kalau sungai dikotori!” Letupan kritis Keysa, siswi SMAN 1 Dukun, membuncah usai menonton film Good Morning Tomorrow. Pelajar Gresik Utara kini bersiap jadi garda penjaga Bengawan Solo.
  • HMP K3 USG dan ESG membawa film Good Morning Tomorrow ke SMAN 1 Dukun Gresik. Kolaborasi ini menyengat kesadaran ekologis ratusan pelajar untuk merawat ekosistem Bengawan Solo dan memperkuat gerakan zero waste.
  • Gresik Utara adalah gerbang pelepasan sungai ke laut. Film Good Morning Tomorrow hadir di SMAN 1 Dukun, menantang generasi muda melahirkan gerakan lokal demi menyelamatkan Bengawan Solo dari ancaman racun polusi.
  • Dari mana air PDAM berasal jika bukan dari sungai yang kita kotori? Film dokumenter Good Morning Tomorrow sukses mengusik nalar ekologis ratusan siswa SMAN 1 Dukun Gresik demi kelestarian Bengawan Solo.

PERJUANGAN menyelamatkan ekosistem air tak berhenti di sepanjang aliran Kali Surabaya. Film dokumenter “Good Morning Tomorrow”, karya fenomenal besutan Motion Witness bersama ECOTON dan Perum Jasa Tirta (PJT) I Jawa Timur ini. Juga berlayar menyapa pelajar di kawasan utara Kabupaten Gresik, wilayah hilir aliran legendaris Bengawan Solo.

Bertempat di SMAN 1 Dukun Gresik, Jumat (9/10/2026), suasana sekolah riuh oleh antusiasme lebih dari 200 siswa-siswi. Pemutaran film ini diinisiasi lewat kolaborasi Himpunan Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (HMP K3) Universitas Sunan Gresik bersama Kelompok Studi Environmental Sovereignty Goal (ESG).

Tak sekadar nonton bareng, yang dilakukan para siswa itu. Mereka juga mengagendakan dirangkaian acara, berbentuk edukasi kesehatan lingkungan. Tujuannya tak lain, untuk memupuk kepedulian generasi muda terhadap kelestarian sungai.

BACA JUGA:  Aksi JAPRI, Siswa dan Mahasiswa Tanam Pohon di Bantaran Kali Surabaya

Film yang dirancang Founder ECOTON, Prigi Arisandi, “Good Morning Tomorrow” ini, dilatarbelakangi potret pelik, sekaligus gerak nyata seorang anak muda, yang selama ini dikenal hidupnya dekat dengan Kali Surabaya, yang merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Dalam balutan penuh intuitif, film ini tentunya menyoroti, bagaimana para pemuda aktif menguji kualitas air, beradvokasi, hingga lantang bersuara di media massa.

Semangat inilah yang ingin ditularkan kepada para siswa, agar aksi menjaga alam tak lagi dipandang sebagai gerakan langka, melainkan tradisi sehari-hari.

Antusiasme siswa SMAN 1 Dukun saat mengikuti diskusi dan edukasi lingkungan tentang pentingnya menjaga kualitas ekosistem sungai serta masa depan Bengawan Solo. | Foto: Ayu Sakinah

Urgensi Menjaga Gerbang Bengawan Solo

M. Danial Rofiqul Jamil, narasumber yang memandu jalannya diskusi, menekankan betapa krusialnya posisi Gresik utara dalam bentang ekosistem sungai di Jawa Timur.

“Gresik utara berada pada posisi vital bagi Bengawan Solo. Karena kawasan ini adalah tempat pertemuan antara sungai dan laut. Kita adalah gerbang pelepasan sungai. Harusnya ada dari kita yang menjadi pengiring air sungai yang bersih ke laut. Merupakan dosa besar jika kita membiarkan laut dikotori dan kita sebagai penjaga gerbang hanya diam saja,” tegas Danial dalam siaran persnya, Senin (12/10/2026).

Ia pun menantang para pelajar SMAN 1 Dukun untuk berani melahirkan gerakan lokal penyelemat sungai. “Jika Sungai Brantas memiliki ECOTON, River Warrior, Forum Kali Brantas, Jejak, dan Ronda Sungai, maka Bengawan Solo juga harus punya gerakan serupa. Kitalah yang harus menjadi aktornya,” serunya.

Komitmen serupa diutarakan Andreas Jastin Pratama dari Biro Pemberdayaan ESG. Ia menegaskan, mahasiswa punya tanggung jawab moral untuk terus mendampingi masyarakat dan institusi pendidikan di akar rumput.

“Kami akan terus menggaet sekolah-sekolah dan masyarakat umum dalam pendidikan lingkungan hidup. Ini bentuk tanggung jawab kami untuk membersamai masyarakat menyuarakan isu lingkungan demi mewujudkan Indonesia yang hijau,” ungkap Andreas.

Pemateri menyampaikan edukasi lingkungan kepada siswa SMAN 1 Dukun dalam kegiatan sosialisasi dan pemutaran film Good Morning Tomorrow, mengajak pelajar mengambil peran sebagai penjaga sungai. | Foto: Ayu Sakinah

Gayung Bersambut dari Pihak Sekolah

Langkah kolaboratif ini mendapat apresiasi hangat dari pihak sekolah. Fachrizal Athiena, perwakilan Urusan Kesiswaan SMAN 1 Dukun, menilai pemutaran film ini menjadi amunisi segar yang sejalan dengan agenda lingkungan sekolah.

“Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi inisiatif teman-teman ESG. Pemutaran film dokumenter ini menjadi katalis yang sangat bagus untuk menggugah kesadaran ekologis para siswa. SMAN 1 Dukun sendiri saat ini tengah menjalankan program zero waste untuk mereduksi penggunaan plastik, sehingga kehadiran kegiatan ini semakin mendukung gerakan yang sedang kami bangun,” papar Fachrizal.

Melihat tingginya antusiasme peserta, terutama dari ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan Desain Grafis. Pihak sekolah berharap agenda ini berlanjut pada aksi praktis, seperti lokakarya pemilahan dan pengelolaan sampah.

Letupan Nalar Kritis Pelajar

Dampak pesan film ini, juga langsung memantik nalar kritis peserta. Keysa, siswi kelas XI SMAN 1 Dukun ini, mengaku matanya terbuka usai memahami dari mana air bersih sehari-hari berasal.

“Saya baru tahu ternyata PDAM itu mengambil airnya dari sungai. Jadi, kalau teman-teman merasa rutin membayar air PDAM, harusnya kita ikut marah dan tergerak untuk bertindak kalau tahu sungainya dikotori,” celetuk Keysa lugas.

Lewat simpul kolaborasi antara mahasiswa, pegiat lingkungan, pendidik, dan pelajar ini, benih-benih kesadaran baru diharapkan tumbuh subur dari SMAN 1 Dukun—menempa generasi muda yang peka ekologi dan siap berdiri di garda terdepan menjaga Bengawan Solo dari ancaman polusi.***

BACA JUGA:  Siswa SMP Mawar Sharon Pelajari Bahaya Mikroplastik Lewat Praktik Langsung di ECOTON

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *