Lewati ke konten

Fokus Pengelolaan Sampah Organik, ECOTON Kenalkan ORBIN bagi Warga Bantaran Kali Tebu

| 6 menit baca |Kali Tebu | 10 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
  • Ecoton memperkenalkan Orbin, wadah organik rumah tangga yang dirancang mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai. Inovasi ini diterapkan warga bantaran Kali Tebu untuk menekan sampah masuk sungai.
  • Kebiasaan membungkus sampah organik dengan kresek menciptakan residu plastik baru. Ecoton mengenalkan Orbin sebagai solusi sederhana bagi warga bantaran Kali Tebu mengelola sisa makanan tanpa plastik.
  • Dari dapur menuju tempat pengolahan sampah, Orbin membantu warga membawa sampah organik tanpa menghasilkan kantong plastik baru. Inovasi Ecoton ini mulai diterapkan di sejumlah kelurahan Surabaya.
  • Sebanyak 133 ton sampah telah dievakuasi dari Kali Tebu hingga Oktober 2026. Ecoton kini memperkuat pencegahan dari rumah melalui Orbin untuk mengurangi timbulan sampah plastik.
  • Orbin mulai direplikasi dari bantaran Kali Tebu Surabaya hingga Kota Batu. Wadah sederhana berkapasitas lima kilogram ini mendorong warga mengelola sampah organik tanpa kantong plastik sekali pakai.

 


UPAYA menekan laju pencemaran lingkungan di kawasan bantaran sungai terus digalakkan. Kali Tebu di kawasan Kenjeran, Surabaya, menjadi salah satu titik fokus tim MOZAIK bentukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).

Selain melakukan evakuasi tumpukan sampah dari badan sungai, Ecoton juga menggencarkan edukasi langsung kepada warga sekitar. Salah satu inovasi yang dinilai efektif untuk pengelolaan sampah rumah tangga adalah penggunaan Orbin (Organic Bin).

Waste Prevention Manager ECOTON Tonis Afrianto memberikan bimbingan kepada warga saat mempraktikkan penggunaan Orbin untuk mengelola sampah organik rumah tangga. | Foto: Dok. Tonis Afrianto

Waste Prevention Manager Ecoton, Tonis Afrianto, menjelaskan bahwa kebiasaan masyarakat dalam mengumpulkan sampah organik, terutama dari dapur. Masih kerap menggunakan kantong plastik atau kresek sekali pakai. Hal ini justru memicu masalah baru berupa penciptaan residu plastik.

“Sering kali kita melihat banyak orang selalu menggunakan plastik sekali pakai untuk mengumpulkan sampah organik dari dapur atau kebun. Akibatnya, pembuangan ini menjadi dua jenis, yaitu sampah organiknya dan pembungkus plastiknya yang kemudian menjadi residu atau sampah baru,” ujar Tonis, saat menyampaikan kepada Titikterang, Senin (19/10/2026)

BACA JUGA:  Atasi Krisis Iklim, AZWI Minta Pemda Susun Rencana Aksi Pengurangan Emisi Metana

Sebagai solusi, lanjut Tonis ya Orbin ini, yakni wadah atau ember kecil berkapasitas 4 hingga 5 kilogram yang dirancang khusus untuk skala rumah tangga.

“Wadah ini dilengkapi penutup rapat, guna mencegah timbulnya bau tidak sedap serta mengantisipasi datangnya lalat dan tikus, “ tandas Tonis.

Selain itu, Orbin dilengkapi dengan pegangan yang mempermudah mobilitas warga, kata Tonis. Di Kampung Mozaik Surabaya, wadah ini telah dimanfaatkan warga untuk membawa sampah organik dari dapur langsung menuju ke tempat pengolahan sampah.

“Jadi dengan warga cukup mudah tinggal membawa sampah dari dapur, langsung menuju ke tempat pengelolaan sampah. Seperti komposter atau sumur komposter tanpa perlu memproduksi sampah plastik baru, “ jelas Tonis.

“Sering kali kita melihat banyak orang selalu menggunakan plastik sekali pakai untuk mengumpulkan sampah organik dari dapur atau kebun. Akibatnya, pembuangan ini menjadi dua jenis, yaitu sampah organiknya dan pembungkus plastiknya yang kemudian menjadi residu atau sampah baru,”

Warga menuangkan sampah organik ke sumur komposter sebagai bagian dari pengelolaan sampah rumah tangga berbasis lingkungan di kawasan bantaran Kali Tebu. | Foto: Dok. Tonis Afrianto

Direplikasi di Berbagai Kelurahan hingga Kota Batu

Penggunaan Orbin terbukti memberikan dampak langsung bagi masyarakat di kawasan pemukiman. Fasilitator Kelurahan RW 13 Simokerto, Mujiati Ningsih, yang akrab disapa Bu RW, menjelaskan bahwa hadirnya wadah ini membuat warga mampu mengelola sisa makanan tanpa meninggalkan jejak sampah baru.

“Kami merasakan cara ini cukup efektif dan bagus. Warga juga sudah mulai merespons dan mempraktikkannya dengan wadah Orbin ini,” kata Mujiati.

Mujiati menyampaikan bahwa sebelumnya pengelolaan sampah organik secara terstruktur belum berjalan optimal di Kelurahan Simokerto. Namun sejak pendampingan dari Ecoton masuk, antusiasme warga cukup tinggi untuk menerapkan pola baru tersebut.

“Jadi ini tidak hanya sebatas jalannya program saja, tetapi akan kami lakukan seterusnya. Karena dampaknya sudah bisa kami rasakan meskipun baru berjalan,” lanjut Mujiati.

Di Surabaya, Ecoton telah menerapkan penggunaan Orbin di tiga kelurahan dampingan yang berada di sepanjang aliran Kali Tebu, yaitu:

  1. Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto
  2. Kelurahan Kapas Madya Baru, Kecamatan Tambaksari
  3. Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran

Ketiga kelurahan tersebut menjadi area strategis dalam mereduksi timbulan sampah ke sungai. Berdasarkan catatan tim MOZAIK, aksi evakuasi sampah dari aliran Kali Tebu berhasil mengangkat hingga 133 ton sampah per Oktober 2026.

Inisiatif ini terlaksana atas dukungan kolaboratif dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), serta United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.

“Program di Kota Batu ini memiliki skema yang berbeda dengan Surabaya. Kalau di Kota Batu, keberadaan Orbin merupakan bagian dari skema program AZWI Zero Waste Cities.“

Selain di Surabaya, skema pengolahan sampah berbasis Orbin ini juga direplikasi ke luar daerah, seperti di Kota Batu. Tepatnya di kawasan sekitar Alun-Alun Kota Batu (Kelurahan Sisir), sekitar 50 rumah tangga telah memanfaatkan Orbin untuk pewadahan sampah organik secara berkelanjutan.

“Program di Kota Batu ini memiliki skema yang berbeda dengan Surabaya. Kalau di Kota Batu, keberadaan Orbin merupakan bagian dari skema program AZWI Zero Waste Cities,” terang Tonis.

Orbin (Organic Bin) menjadi wadah khusus untuk menampung sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan, kulit buah, sayur, dan tulang, tanpa menggunakan kantong plastik sekali pakai. | Foto: Dok. ECOTON

“Dan ini sudah terbukti, dalam berbagai hasil riset analisis karakteristik sampah, membuktikan timbulan sampah organik mendominasi sekitar 50-60 persen, maka masyarakat perlu difasilitasi, ORBIN salah satunya.”

Tips Perawatan dan Penggunaan Orbin

Dalam praktiknya, Ecoton memberikan edukasi khusus kepada warga agar tidak melapisi Orbin kembali dengan kantong plastik. Meskipun hal tersebut berisiko membuat wadah menjadi kotor, pembilasan rutin menggunakan air bersih dianjurkan setiap selesai pengosongan sampah.

  • Material Wadah: Terbuat dari plastik jenis polipropilena (PP) yang tebal, lentur, dan tidak mudah pecah sehingga ketahanannya terjamin.
  • Pengelolaan Bau: Karena berfungsi sebagai wadah penampung sementara (biasanya disetorkan atau diolah setiap pagi/maksimal satu malam), sampah di dalam Orbin tetap terjaga kesegarannya dan tidak menimbulkan bau menyengat.
  • Kapasitas: Efektif untuk menampung sampah organik berukuran kecil seperti sisa makanan, kulit buah, atau daun-daun kecil. Namun, wadah ini belum disarankan untuk sampah organik kebun berukuran besar karena kapasitasnya yang terbatas.
BACA JUGA:  Sepuluh Langkah Strategi Ecoton Menuju Desa dan Kota Tanpa Sampah

Melalui pembiasaan sederhana ini, kata Tonis, gerakan minim sampah dari tingkat rumah tangga di sepanjang aliran Kali Tebu. Tonis berharap mampu mengurangi beban pencemaran sampah plastik di ekosistem perairan Surabaya.

“Dan ini sudah terbukti, dalam berbagai hasil riset analisis karakteristik sampah, membuktikan timbulan sampah organik mendominasi sekitar 50-60 persen, maka masyarakat perlu difasilitasi, ORBIN salah satunya, ” pungkas Tonis***

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *