Lewati ke konten

Surabaya Book Party, Ajak Warga Kota Gemar Membaca di Tengah Kebisingan

| 5 menit baca |Ide | 38 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Shella Mardiana Putri Editor: Supriyadi

Surabaya Book Party menghadirkan ruang aman membaca bagi generasi muda, menantang stigma minat baca Gen Z, sekaligus menawarkan cara baru merawat literasi di kota yang serba cepat.

Mungkin kalau kalian berpendapat, Surabaya bisa dikatakan kota yang bergerak cepat. Mulai jalanan ramai hingga 24 jam, ritme kerja padat seolah tanpa jeda, dan tentu saja layar gawai nyaris tak pernah lepas dari genggaman warganya.

Namun di sela hiruk-pikuk dan kebisingan kota, masih ada sekelompok warga kota memilih melambat. Mereka duduk berdampingan, membuka buku, dan tenggelam dalam bacaan masing-masing tanpa kewajiban berbicara.

Pemandangan itu terlihat di Surabaya Book Party di Ola Space Citraland. Jangan kaget begitu mata kalian menatap. Di situlah wajah komunitas membaca yang tumbuh sebagai ruang aman literasi, terutama bagi generasi muda yang sebagian menyebut Gen Z.

Surabaya Book Party merupakan bagian dari gerakan Indonesia Book Party. Satu bagian Jakarta Book Party. Gagasan membaca buku ini lalu menyebar ke berbagai kota besar. Tak kecuali di Kota Surabaya.

Tentu semua tidak asal digelar, tapi menyesuaikan diri dengan konteks urban masing-masing. Komunitas ini resmi berdiri di Surabaya pada 2 Desember 2023 dan menggelar kegiatan perdana pada 15 Desember di tahun yang sama.

Sejak awal, kegiatan book party dijalankan secara konsisten. Formatnya sangat sederhana, peserta datang membawa buku pilihan, novel, antologi cerpen, jurnal ilmiah atau bahkan buku panduan (how-to). Mereka duduk bersama dalam satu tempat, lalu membaca dalam sunyi.

Tidak ada diskusi formal, dan tidak ada penilaian terhadap bacaan siapa pun. Kesederhanaan itu justru menjadi daya tarik utama.

Menurut Agnes, Humas Surabaya Book Party, komunitas ini hadir untuk membuka akses literasi yang terasa aman dan nyaman bagi siapa saja. “Membaca tidak diposisikan sebagai tugas akademis saja, tapi juga sebagai aktivitas personal yang layak dinikmati tanpa tekanan, “ katanya, Sabtu, (7/2/2026)

Pendekatan itu, lanjut Agnes, membuat Surabaya Book Party mudah diterima pembaca pemula maupun pembaca lama. “Banyak juga peserta datang tanpa pengalaman sebagai pembaca yang baik atau rutin sebelumnya. Melalui suasana yang inklusif, membaca menjadi aktivitas yang terasa mungkin dan manusiawi,  “ jelasnya.

#Gen Z, Literasi, dan Cara Membaca Baru

Komunitas Surabaya Book Party sedang kumpul bersama di Ola Space Citraland | Foto: SBP

Anggapan khalayak yang selama ini menilai, jika minat baca generasi muda menurun dan kerap berulang menjadi perbincangan. Justru yang terjadi di Surabaya Book Party ada kecenderungan berbeda.

Dari berbagai survei literasi, menunjukkan bahwa minat baca Gen Z  ada kecenderungan peningkatan, meski bentuknya tidak selalu hadir dalam wujud buku fisik.

Dalam hal ini Agnes pun menjelaskan jika perbedaan generasi turut memengaruhi cara membaca. Gen Z banyak mengakses bacaan melalui platform digital seperti iPusnas, Google Play Book, hingga Kindle.

“Pola membaca digital ini sering kali memang, luput dari pengamatan ruang publik, sehingga memunculkan kesan keliru tentang rendahnya minat baca, “ ucap Agnes.

Pengalaman tentu saja tak bisa dibantah. Setiap kegiatan Surabaya Book Party selalu dihadiri pembaca dari berbagai usia, meski didominasi generasi muda.

Antusiasme itu terlihat dari jumlah peserta yang stabil dan terus bertambah. Banyak yang datang berulang, menandakan membaca mulai menjadi kebiasaan, bukan sekadar aktivitas sesekali.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Meski demikian, tantangan tetap ada, kata Agnes. Membaca masih sering dipersepsikan sebagai aktivitas serius dan akademis. Selain itu, perubahan pola konsumsi informasi dari bacaan panjang ke konten instan membuat fokus membaca menjadi tantangan tersendiri.

Surabaya Book Party mencoba menjawab tantangan itu. Tentu saja dengan menghadirkan ruang tanpa tuntutan, tempat membaca tidak harus produktif secara instan.

Komunitas ini juga menjadi ruang sosial alternatif. Pertemuan tidak diisi dengan obrolan intens atau diskusi berat, melainkan dengan kehadiran bersama dalam kesunyian.

Bagi banyak Gen Z yang hidup dalam banjir notifikasi, sunyi bersama justru menjadi pengalaman baru.

#Membaca Sebagai Kebiasaan Sehari-hari

Surabaya Book Party merupakan bagian dari gerakan Indonesia Book Party | Foto: SBP

Lebih dari sekadar acara rutin, Surabaya Book Party, terang Agnes, membawa misi jangka panjang, yaitu membentuk kebiasaan membaca dalam kehidupan sehari-hari.

“Dampak yang diharapkan tidak hanya terukur dari jumlah buku yang dibaca, tetapi juga dari cara berpikir yang terbentuk, “ungkap mahasiswa perempuan dari Universitas Terbuka ini.

Agnes juga menekankan pentingnya membaca sebagai proses melatih nalar runut dan kritis. Dengan membaca secara konsisten, pembaca diajak mengolah informasi lebih dalam, tidak sekadar menerima potongan informasi secara instan. “Dalam konteks banjir informasi digital, kemampuan ini menjadi semakin relevan, “ imbuh Agnes.

Bagi generasi muda yang ingin mulai membaca, pesan yang disampaikan komunitas ini terbilang jelas. Membaca sebaiknya dimulai dari minat personal. Genre apa pun sah, selama terasa dekat dan menyenangkan. Novel dapat menjadi pintu masuk bagi pencinta cerita, sementara buku pengembangan diri cocok bagi pembaca yang ingin berefleksi.

Target membaca tidak perlu tinggi. Konsistensi jauh lebih penting daripada ambisi. Jika sebuah buku terasa tidak cocok, berpindah ke bacaan lain bukanlah kegagalan. Jeda dan eksplorasi merupakan bagian dari proses membangun kebiasaan.

Ruang membaca juga tidak harus selalu privat. Perpustakaan umum, library café, hingga kegiatan komunitas seperti Surabaya Book Party menawarkan suasana yang mendukung. Melalui kehadiran bersama, membaca tidak lagi terasa sunyi dalam arti negatif, melainkan menjadi pengalaman kolektif yang menenangkan.

Surabaya Book Party perlahan menunjukkan jika literasi dapat dirawat tanpa retorika atau ajakan berapi-api. Di tengah kota yang serba cepat, komunitas ini menghadirkan pilihan untuk melambat, membuka buku, dan memberi waktu bagi pikiran. Sebuah perayaan sunyi yang justru terasa relevan dengan kehidupan urban hari ini.***

*) Shella Mardiana Putri, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2023 Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, berkontribusi penulisan artikel ini.

 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *