- Film Good Morning Tomorrow hadir mengajak Gen Z menyelamatkan Kali Surabaya lewat sajian visual yang santai, ringan, tanpa beban data berat, dan sarat aksi nyata.
- Berenang menyusuri sungai demi misi lingkungan, aksi Jofan di film Good Morning Tomorrow siap menginspirasi pemuda Surabaya hingga Gresik untuk lebih peduli sungai.
- Bukan sekadar tontonan, film Good Morning Tomorrow dikemas seringkas mungkin sebagai pemantik kepedulian anak muda terhadap darurat pencemaran di sepanjang aliran Kali Surabaya.
- Siap keliling Gresik dan pesantren, film Good Morning Tomorrow dorong edukasi pelestarian Kali Surab

Penulis: Lailatul Mukarromah: Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Saat ini sedang menjalani program magang di ECOTON pada periode 1 September–18 Desember 2026.
EDUKASI lingkungan tak selalu harus lewat buku tebal, kadang membosankan atau seminar formal yang bikin mengantuk. Lewat media audiovisual, pesan kritis tentang pelestarian sungai bisa tersampaikan dengan jauh lebih menarik, santai, namun tetap membekas di hati.
Hal inilah yang diusung film Good Morning Tomorrow. Dalam kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi interaktif yang digelar di Surabaya pada Kamis, 15 Oktober 2026 lalu. Cerita-cerita menarik di balik layar pun terungkap, baik dari sudut pandang pembuat karya maupun para aktornya.
Bagi para pemain, terlibat dalam film bertema lingkungan memberikan kesan mendalam. Jaofannya Ahmad Arianto, aktor utama dalam film ini, bercerita bahwa momen paling membekas baginya adalah saat melakoni adegan berenang menyusuri sungai.
Adegan tersebut seolah melemparkannya kembali ke kenangan masa kecil saat bermain air di sungai. Namun bedanya, aksi berenang kali ini membawa misi penting.
“Untuk saat ini berenangnya beda. Tujuannya ingin mengenal Kali Surabaya lebih dekat dan mengetahui kondisi sebenarnya di dalam sungai,” ungkap Jofan, panggilannya yang saya kuti, Kamis, 22 Oktober 2026.
Mengapa Harus Lewat Film?
Pilihan menggunakan media film bukan tanpa alasan. Jofan mengungkapkan bahwa tim sempat melirik ide kampanye lewat lagu. Namun, keragaman genre musik yang sangat luas dinilai kurang efektif, apalgi menyampaikan pesan lingkungan yang sifatnya menyeluruh dan utuh.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelDi samping itu, gaya konsumsi informasi generasi muda (Gen Z), juga menjadi pertimbangan utama. Karakteristik Gen Z yang cenderung enggan membaca teks panjang berisikan data-data berat direspon dengan sajian visual yang pas.
Film Good Morning Tomorrow diracik seringan, seenteng, dan seringkas mungkin. Tanpa dibebani data yang membingungkan, film ini dirancang menjadi “pemantik” awal yang efektif untuk menggugah kepedulian masyarakat.
Siap ‘Roadshow’ ke Gresik dan Pondok Pesantren
Isu pencemaran Kali Surabaya tentu membutuhkan perhatian jangka panjang. Oleh karena itu, kegiatan nobar tidak berhenti saat kredit film selesai diputar. Sesi diskusi dibuka lebar-lebar untuk memberi ruang bagi masyarakat dalam memahami persoalan sungai secara mendalam serta menemukan bentuk aksi nyata yang bisa dilakukan.
Sebagai langkah nyata berikutnya, film ini direncanakan bakal diputar secara keliling (roadshow) ke wilayah Gresik. Sasaran pemutarannya pun langsung menyentuh akar rumput, mulai dari sekolah-sekolah, pondok pesantren, hingga pemukiman warga di sepanjang pinggiran sungai.
Pemilihan Gresik sangatlah strategis. Berada di area muara atau ujung aliran sungai, warga Gresik memegang peran vital sebagai “benteng terakhir” yang memastikan air tetap bersih sebelum mengalir menuju laut lepas.
Mencetak Pahlawan Lingkungan Baru
Keberhasilan edukasi lewat film tak cuma dihitung dari berapa banyak kursi penonton yang terisi. Ukuran utamanya adalah seberapa dalam pesan tersebut dipahami, seberapa hidup diskusi yang tercipta, dan aksi nyata apa yang lahir setelahnya.
Lewat pemutaran film dan ruang diskusi interaktif ini, besar harapan agar lahir “pahlawan-pahlawan lingkungan” baru di sepanjang aliran Bengawan Solo hingga Kali Surabaya. Dari sekadar menyaksikan di layar kaca, kini saatnya bergerak bersama menjaga kelestarian sungai kita.***