- ECOTON mengembangkan metode Biotilik untuk meneliti kualitas air sungai secara praktis dengan memanfaatkan makroinvertebrata sebagai indikator biologis alami guna mengukur tingkat pencemaran ekosistem Sungai Brantas secara konkret.
- Selain mengumpulkan data teknis, Biotilik dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar mengenai kerusakan air sungai yang berpotensi membahayakan jika dikonsumsi oleh warga setempat.
- Program riset partisipatori ECOTON merangkul warga lokal serta pelajar untuk memantau sungai, sehingga mendorong lahirnya kesadaran ecological citizenship serta membentuk sistem pengawasan ekosistem berbasis komunitas secara mandiri.
- Mengatasi kerumitan panduan luar negeri dan ketidakjelasan sketsa lokal, ECOTON menciptakan inovasi panduan lembaran ringkas berbasis foto spesimen nyata yang praktis digunakan oleh masyarakat awam sejak tahun 2010.
- Biotilik mendemokratisasi ilmu pengetahuan (citizen science) dengan menghubungkan sains dan tindakan warga, sehingga masyarakat mampu mengenali perubahan ekosistem serta memegang kendali atas keselamatan lingkungan hidup di sekitarnya.
MENJAGA kelestarian sungai ternyata tak cukup hanya dengan melihat warna air, mencium aromanya yang tak sedap, atau menunggu hasil uji laboratorium yang memakan waktu lama. Kondisi kesehatan ekosistem sungai, sebenarnya bisa dibaca secara langsung lewat organisme kecil yang hidup di dalamnya.
Pendekatan kreatif inilah yang dikembangkan lembaga kajian lahan basah Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), melalui metode bernama Biotilik.
Direktur Eksekutif ECOTON, Daru Setyorini dalam wawancara bersama mahasiswa PPKn Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dewi Wulandari dan I Made Suwanda, “Peran Yayasan ECOTON dalam Menumbuhkan Kesadaran Ecological Citizenship pada Masyarakat Daerah Aliran Sungai Brantas (Studi Kasus Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik), menjelaskan bahwa Biotilik merupakan metode penelitian kualitas air dengan memanfaatkan organisme air sungai sebagai indikator biologis.”.
“Biotilik itu merupakan salah satu ilmu untuk melakukan penelitian kualitas air dengan menggunakan organisme yang terkandung dalam air sungai,” ujar Daru seperti dikutip Titikterang, Ahad (24/10/2026).
Melalui metode ini, masyarakat diajak mengamati makroinvertebrata, sejenis organisme tanpa tulang belakang. Lalu menghubungkannya dengan tingkat pencemaran sungai. Setiap kelompok organisme memiliki tingkat ketahanan atau toleransi yang berbeda terhadap limbah. Keberadaan atau justru hilangnya jenis organisme tertentu dapat menjadi petunjuk konkret mengenai kondisi ekologis sungai.
Daru yang juga penggagas Biotilik ini mengatakan, Biotilik tidak semata-mata bertujuan mengumpulkan data teknis. Tetapi juga dirancang sebagai sarana edukasi dan pendidikan lingkungan.
“Kegiatan ini kita lakukan untuk menyadarkan masyarakat di sekitar Sungai Brantas, bahwa keadaan sungai kita ini mengalami kerusakan yang dapat membahayakan jika dikonsumsi masyarakat,” tegasnya.

“Kegiatan ini kita lakukan untuk menyadarkan masyarakat di sekitar Sungai Brantas, bahwa keadaan sungai kita ini mengalami kerusakan yang dapat membahayakan jika dikonsumsi masyarakat.”
Dari Riset Partisipatori Menuju Ecological Citizenship
Melalui program Riset Partisipatori atau Penelitian Bersama, ECOTON merangkul berbagai kalangan; mulai dari pengurus lembaga, warga lokal, hingga pelajar dan mahasiswa. Gagasan utamanya sederhana: pemantauan sungai tidak boleh terkurung di dalam laboratorium tertutup.
“Dengan kegiatan ini pula kita mengajak masyarakat mengawasi kualitas air Sungai Brantas. Istilahnya, kegiatan ini mengajak masyarakat menjadi ‘polisi air’ Sungai Brantas,” kata Daru.
Konsep tersebut mendorong lahirnya ecological citizenship, yakni kesadaran warga akan hak atas lingkungan yang bersih sekaligus kewajiban menjaga ekosistem tempat tinggal mereka.
Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, kawasan Kali Surabaya di Wringinanom, Gresik. Biotilik dipadukan dengan gerakan lingkungan lain, seperti sensus ikan dan Brigade Evakuasi Popok. Gerakan bersama ini, kemudian bermuara pada aksi edukasi dan advokasi kebijakan.

Inovasi Panduan Lembaran yang Ringkas dan Praktis
Pengembangan Biotilik di Indonesia sempat menghadapi kendala teknis. Pada awal penerapannya di tahun 2006, ECOTON terpaksa menggunakan buku panduan dari Australia dan Inggris, yang dinilai terlalu rumit bagi masyarakat awam. Sementara itu, buku panduan lokal saat itu belum memadai karena hanya mengandalkan sketsa gambar tangan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp ChannelGuna mengatasi hambatan tersebut, ECOTON berinisiatif mengumpulkan dokumentasi foto langsung beserta data daya tahan spesimen, lalu mengolahnya menjadi lembaran panduan yang terpadu.
“Karena buku panduan di Indonesia tidak jelas, dibuatnya dari gambar tangan… Namun panduan dari luar negeri itu berbentuk buku yang prosesnya sangat rumit,” ungkap Daru.
“Setelah kita mempunyai banyak foto dan data dari daya tahan masing-masing kelompok, kemudian kita buat panduan berbentuk lembaran yang hanya berisi organisme-organisme dan langkah-langkahnya saja,” lanjutnya.
Lembaran panduan praktis ini sukses dirampungkan sejak 2010 dan telah mengantongi dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup, Perum Jasa Tirta, hingga berbagai lembaga internasional.

“Saat warga mampu mengenali organisme, memahami dampaknya, dan mencatat perubahan ekosistem, mereka memegang kendali atas keselamatan lingkungannya sendiri.”
Warga Bergerak: Pengawasan Berbasis Komunitas
Penerapan langsung metode ini terbukti efektif di lapangan. Sebagai contoh, pada 28 April 2019, mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adi Tama Surabaya (ITATS) menggelar kuliah lapangan di Wringinanom di bawah panduan langsung Daru Setyorini.
Berdasarkan pengamatan Biotilik saat itu, mereka menyimpulkan kualitas air Sungai Brantas di lokasi tersebut berada dalam kategori tercemar sedang.
Bagi ECOTON, label “tercemar sedang” tak bisa dibilang hanyalah pengumpulan angka. Lebih dari itu, temuan tersebut menjadi bukti awal bagi warga, agar berani menyuarakan perlindungan ekosistem sungai. Konsep “polisi air” pun tidak dimaksudkan, mengambil alih wewenang pemerintah. Tetapi merupakan membentuk sistem pengawasan berbasis komunitas (community-based monitoring).
Keunggulan utama Biotilik adalah kemampuannya mendemokratisasi ilmu pengetahuan (citizen science). Melalui metode ini, Biotilik menjelma sebagai jembatan yang menghubungkan sains dengan tindakan nyata warga.
Sebab, sungai yang sehat tidak hanya diukur dari kadar kimia airnya semata, melainkan dari sejauh mana masyarakat bersedia berdiri dan bertindak sebagai penjaga kehidupan sungai itu sendiri.
“Saat warga mampu mengenali organisme, memahami dampaknya, dan mencatat perubahan ekosistem, mereka memegang kendali atas keselamatan lingkungannya sendiri,” pungkas Daru.