Lewati ke konten

Greenpeace Rilis Buku Cerita Anak Soal Ancaman Lingkungan di UWRF 2026

| 5 menit baca |Reportase | 2 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: News Release Editor: Fio Atmadja
  • Greenpeace Indonesia resmi meluncurkan buku Luka Pulau-Pulau Kecil dan Rumah Kami Bukan Tanah Kosong karya penulis Titah AW dan ilustrator Sekar Bestari di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Bali pada Sabtu (24/10/2026).
  • Buku Luka Pulau-Pulau Kecil mengisahkan perjuangan Pin menyelamatkan alam Raja Ampat dari ancaman kerusakan, sementara Rumah Kami Bukan Tanah Kosong menceritakan keberanian Yema melindungi tujuh pohon raksasa di hutan adat dari ancaman alat berat.
  • Pembuatan kedua buku melalui riset panjang, wawancara warga, serta observasi langsung ke Raja Ampat dan Papua Selatan agar narasi dan visualisasi mampu merepresentasikan realitas kehidupan masyarakat lokal secara akurat.
  • Buku ini dirancang sebagai media edukasi kritis—khususnya bagi anak-anak di kawasan perkotaan—untuk memantik empati terhadap krisis lingkungan, mengenalkan hutan sebagai organisme hidup, serta mendorong kesadaran menjaga ruang hidup sejak dini.
  • Peluncuran buku ini merupakan salah satu agenda Greenpeace Indonesia di UWRF 2026, yang juga menghadirkan perempuan adat Papua (Yosepina Sreklefat dan Maria Guriti Amote) serta berbagai diskusi panel terkait aktivisme dan kerentanan lingkungan.

GREENPEACE Indonesia meluncurkan dua buku anak bergambar. Tema penting dari buku itu, menjaga dan memperjuangkan kelestarian alam. Peluncuran diselenggarakan dalam perhelatan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali pada Sabtu (24/10/2026).

Dua buku bertajuk Luka Pulau-Pulau Kecil dan Rumah Kami Bukan Tanah Kosong ini merupakan hasil kolaborasi antara penulis Titah AW dan ilustrator Sekar Bestari.

Buku Luka Pulau-Pulau Kecil menceritakan kisah Pin, seorang anak asal Raja Ampat. Ia banyak menghabiskan hari-harinya di antara pulau-pulau kecil nan indah bersama orang tua dan sahabatnya, Ruga si penyu belimbing.

BACA JUGA:  Good Morning Tomorrow: Sungai, Kita, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan

Kehidupan Pin berubah, begitu ancaman datang ke rumahnya. Warna-warna alam yang sempat menjadi kebanggan Pin, mendadak menghilang satu per satu. Dari sini kemuadian memicu Pin berupaya menyelamatkan tempat tinggalnya.

Sementara itu, Rumah Kami Bukan Tanah Kosong. Anak-anak diajak menyelami kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Buku yang mengisahkan Yema, seorang anak laki-laki yang dipercaya kakeknya, menjaga tujuh pohon raksasa di hutan adat dekat rumahnya.

Ketika orang asing datang tujuh pohon itu mengahdapi ancaman. Oranga sing itu membawa tank dan buldoser, akan merobohkan pohon itu. Apa yang dilakukan Yema. Ia berdiri di garis depan, melawan dan menghentikan, perusakan pohon yang dilakukan orang asing itu.

Penulis buku, Titah AW, mengungkapkan, bahwa yang melatarbelakngi dua buku ini merupakan perkisahan asli. Jika membacanya kepahita dan kesedihan. Namun, karena pendekatan pembaca untuk kalangan muda. Titah membuat beda dalam sajian.

“Karena kami bicara ke generasi muda, kami ingin menghimpun solidaritas antar generasi dan berusaha menaruh sedikit harapan dari ceritanya. Ini menjadi ajakan untuk anak-anak, setelah membaca jadi bisa ikut bersuara atau setidaknya mereka mengerti dan kemudian membuka obrolan di lingkaran keluarga, atau pertemanan mereka masing-masing soal permasalahan ini,” ujar Titah dari laman resmi Greenpeace yang dikutip, Senin (26/10/2026).

Ilustrator Sekar Bestari, merasa sendnag dengan kehadirina buku ini. Karena dalam pengakuannya sejak kecel sudah mengenal hutan. Buku ini akan ditujukan salah satunya anak-anak di wilayah perkotaan (urban), yang sering kali melihat hutan hanya sebatas latar pemandangan.

“Aku merasa kalau sejak kecil sudah dikenalkan bahwa hutan itu juga organisme yang hidup, di dalamnya banyak makhluk, bahkan manusia, itu bisa membangun empati mereka juga yang akan dibawa ke masa depan,” kata ilustrator asal Yogyakarta tersebut.

“Anak-anak punya imajinasi sendiri tentang perlawanan yang mereka pelajari dari kakek, nenek, serta keluarga. Perlawanan tersebut tidak selalu besar dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dengan begitu, perlawanan bisa lebih mengakar pada ruang hidup dan komunitas masing-masing.”

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Riset Panjang dan Observasi Langsung di Papua

Proses kreatif pembuatan kedua buku ini melalui serangkaian tahapan yang panjang. Titah dan Sekar tak hanya mewawancarai warga. Tetapi juga mengalami langsung peristiwa dalam cerita. Mereka juga melakukan observasi ke Raja Ampat dan Papua Selatan.

BACA JUGA:  Dekat Kali Tebu, Siswa SMP Pecinta Damai Dibekali Edukasi Bahaya Mikroplastik

Hal ini dilakukan, agar ilustrasi dan narasi yang dihasilkan mampu merepresentasikan konteks kehidupan masyarakat lokal secara akurat.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji, memandang pentingnya peran anak-anak dalam menjaga ruang hidup mereka.

“Anak-anak punya imajinasi sendiri tentang perlawanan yang mereka pelajari dari kakek, nenek, serta keluarga. Perlawanan tersebut tidak selalu besar dan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dengan begitu, perlawanan bisa lebih mengakar pada ruang hidup dan komunitas masing-masing,” tutur Sekar Banjaran Aji.

Senada dengan hal tersebut, Belgis Habiba, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, menekankan bahwa buku cerita merupakan medium penting untuk mengenalkan krisis lingkungan kepada generasi penerus.

“Kami merasa bahwa hal-hal ini penting untuk diketahui oleh generasi mendatang, karena pembangunan dan industri ekstraktif yang merusak dapat berdampak pada keberlangsungan masa depan mereka. Mereka harus tahu apa yang dialami Bumi saat ini karena pertaruhannya adalah masa depan mereka,” tegas Belgis.

Rangkaian Agenda Greenpeace di UWRF 2026

Peluncuran dua buku ini merupakan bagian dari rangkaian agenda Greenpeace Indonesia di UWRF 2026, salah satu festival sastra terbesar di Asia.

Selain menghadirkan karya literasi anak, Greenpeace turut membawa suara dari Tanah Papua dengan menghadirkan:

  • Yosepina Sreklefat (Kampung Kwowok, Papua Barat Daya) dalam panel A Feast of Stories.
  • Maria Guriti Amote (Boven Digoel, Papua Selatan) dalam panel Our History, Our Hands.

Kedua tokoh perempuan adat tersebut hadir membagikan pengalaman dan perjuangan Masyarakat Adat dalam melindungi hutan Papua.

Tak hanya itu, Sekar Banjaran Aji dan Belgis Habiba juga berpartisipasi dalam berbagai diskusi panel seperti Environment Vulnerability and Activism in Indonesia, Fast Forward Climate Edition, serta sesi pemutaran film dokumenter Tutaha Subang: A Tale of My Daughter.***

BACA JUGA:  Kebakaran Gudang Bahan Sabun Wings Surya Driyorejo Picu Kekhawatiran Pencemaran Kali Surabaya

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *