Lewati ke konten

Ancaman Baru Polusi Udara India: Ternyata yang Kita Hirup Bukan Lagi Debu, Tapi Plastik

| 4 menit baca |Mikroplastik | 7 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

DI TENGAH riuh kota-kota besar India, sebuah studi membeberkan kenyataan yang lebih mengerikan dari macet, polusi suara, atau drama parkir. Ternyata, manusia modern bukan cuma menghirup udara kotor. Kita juga menyedot plastik halus yang beterbangan seperti debu karma.

Peneliti dalam laporan The New Indian Express menyebut inhalable microplastics—serpihan plastik mini seukuran ilusi kebersihan kota. Dan kabar buruknya: partikel-partikel ini lincah, licik, menempel bahan kimia beracun, plus nebeng mikroba. Sebuah kombo maut yang bikin paru-paru seperti tempat kos tanpa seleksi.

#Studi Baru Ungkap Warga Kota India Kini Menghirup Partikel Plastik

Temuan baru yang dipublikasikan di Environment International ini adalah studi sistematik pertama yang mengukur mikroplastik terhirup, alias inhalable microplastics (iMPs), di  kota-kota besar India.

Penelitian dilakukan tim kolaborasi dari IISER Kolkata, AIIMS Kalyani, dan IMSc Chennai. Mereka turun langsung ke titik-titik paling ramai di Kolkata, Delhi, Mumbai, dan Chennai untuk menjaring partikel lepas di udara. Tentu saja sebuah pekerjaan yang kalau dipikir-pikir mirip memancing ikan, hanya saja ikannya mikro, plastik, dan bisa masuk ke paru-paru siapa saja, termasuk Anda yang sedang membaca ini.

Dari berbagai teknologi analisis yang ada, para peneliti memilih pendekatan yang terdengar seperti senjata pamungkas di film fiksi ilmiah: pyrolysis–gas chromatography–mass spectrometry (Py-GC-MS). Yaitu, teknik yang membongkar film jadi molekul-molekul kecil agar bisa dikenali satu per satu

Hasilnya, rata-rata 8,8 mikrogram plastik per meter kubik udara di seluruh kota yang disurvei. Chennai mencatat angka 4 µg/m³—lebih rendah dari Kolkata (14 µg/m³) dan Delhi (13 µg/m³). Tapi jangan senang dulu: angka lebih rendah bukan berarti paru-paru Anda ikut aman. Kota pesisir memang lebih berventilasi, tapi ventilasi bukan filter, apalagi pembersih dosa lingkungan.

#Poliester: Penjahat Utama yang Selama Ini Kita Kenakan Setiap Hari

Dari analisis “sidik jari kimia”, polyester muncul sebagai biang kerok terbesar. Ya, bahan pakaian yang bikin kaus cepat kering itu ternyata juga cepat lepas ke udara. Disusul polyethylene dari kemasan, dan styrene-butadiene rubber dari gesekan ban dan alas kaki. Dalam bahasa sederhana, pakaian kita nyuplai, sampah kita nyuplai, kendaraan kita ikut nyumbang. Sebuah gotong royong yang tidak kita inginkan.

“Tekstil, sampah kemasan, dan keausan kendaraan adalah penyumbang utama,” kata Gopala Krishna Darbha, ilmuwan senior IISER Kolkata. “Kita tidak hanya dikelilingi plastic. Kita menghirupnya.”

Sebuah pernyataan yang jika diucapkan dengan nada dramatis bisa jadi materi kampanye kesehatan publik. Tetapi bahkan tanpa dramatisasi, kenyataannya sudah cukup bikin dada sesak (secara metaforis, untuk saat ini).

#Partikel Plastik Itu Tidak Polos: Mereka Bawa Racun, Logam, dan Mikroba Nebeng

Bagian paling menggelisahkan dari studi ini Adalah, mikroplastik bukan benda pasif. Mereka seperti angkot penuh penumpang. Di luar kecil, di dalam sesak oleh penumpang gelap.

Para peneliti menemukan phthalates, serta logam berat seperti timbal, arsenik, dan kromium menempel pada permukaan partikel plastik itu. Tidak berhenti di situ, di bawah mikroskop mereka menjumpai spora jamur dan bakteri, termasuk Aspergillus fumigatus, mikroba yang dalam dunia medis sering muncul sebagai biang infeksi.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

“Airborne microplastics bisa jadi Trojan horses yang membawa mikroba dan kontaminan berbahaya,” kata Darbha. Dengan permukaan kasar, partikel ini cocok jadi tempat nongkrong mikroba. Setelah terhirup, mereka bisa melesak jauh ke dalam paru-paru. Bayangkan saja seperti ada kurir ilegal mengantar paket terlarang langsung ke alveoli Anda, tanpa ongkir.

Di Chennai, seseorang yang berada delapan jam di pasar bisa menghirup sekitar 190 partikel plastik per hari. Di Kolkata angkanya 370, Delhi 300. Musim pascamonsun dan malam-malam berudara stagnan mencatat level tertinggi. Mungkin karena manusia makin banyak pakai pakaian sintetis saat udara dingin, dan angin sedang malas bergerak.

#Dari Penyakit Hingga Risiko Kronis: Daftar Masalahnya Panjang seperti Struk Belanja Online

Bagian terakhir studi ini bukan cuma memberi data, tetapi memberi alasan untuk tidak melihat mikroplastik sebagai sekadar remah plastik nyasar. Tim IMSc yang dipimpin Prof Areejit Samal mengerjakan analisis komputasional untuk mencocokkan bahan kimia yang menempel pada iMPs dengan database penyakit.

Hasilnya, 28 bahan kimia emergen, termasuk karsinogen, pengganggu hormon, neurotoksikan, dan iritan pernapasan, dikaitkan dengan 72 penyakit.

Jenis penyakit yang paling banyak muncul? Kanker. Disusul gangguan hormon, gastrointestinal, payudara, dan respirasi.

Sebuah katalog risiko yang mengingatkan kita bahwa partikel plastik di udara tidak hanya masuk lalu “pergi begitu saja”. Mereka mungkin menetap, bereaksi, atau bahkan memicu rangkaian masalah medis. Seperti kata Abhishek Biswas, peneliti IISER: “Chronic exposure adalah kuncinya. Partikel ini tidak menghilang. Mereka menumpuk di lingkungan, dan mungkin di tubuh kita.”

Dengan kata lain, studi ini bukan sekadar laporan ilmiah. Ia adalah undangan untuk meninjau ulang cara kita hidup, berbusana, berkendara, dan membuang sampah. Kita selama ini tahu bahwa plastik ada di laut, sungai, tanah, bahkan makanan. Kini, daftar itu bertambah: plastik juga ada di udara. Dan itu berarti, ia ada di setiap napas yang kita ambil—bahkan saat kita sedang berpikir bahwa udara segar itu masih mungkin.

Sebenarnya, kita tidak hanya butuh masker. Kita butuh perubahan sistemik. Tapi sambil menunggu dunia berubah, mungkin sudah saatnya kita mengakui kenyataan pahit ini: di abad plastik ini, setiap tarikan napas adalah kompromi.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *