Lewati ke konten

Ecoton dan Relawan Selamatkan Mangrove dari Jeratan Sampah Plastik

| 3 menit baca |Mikroplastik | 17 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Alaika Rahmatullah Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Aksi bersih pesisir di Surabaya membebaskan mangrove dari jeratan plastik. Relawan menemukan ancaman serius mikroplastik yang merusak ekosistem dan membahayakan kesehatan manusia.

Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bersama komunitas Replast dan River Warrior menggelar aksi lingkungan bertajuk Make Our Mangrove Green Again. Kegiatan ini difokuskan pada pembersihan sampah plastik yang menjerat ekosistem mangrove di kawasan pesisir Surabaya pada Sabtu, (24/1/2026).

Kondisi pesisir Surabaya dipenuhi sampah plastik sekali pakai yang mencemari laut dan mengancam ekosistem pesisir. | Foto: Ecoton

Aksi melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Program Studi Agribisnis Universitas Negeri Jember, Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Malang, serta Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Sebanyak 16 relawan terjun langsung ke lapangan untuk membersihkan area mangrove dari tumpukan sampah plastik yang terbawa arus laut dan sungai.

Dalam kegiatan, relawan berhasil membebaskan 12 pohon mangrove yang terjerat plastik serta mengevakuasi lebih dari 300 kilogram sampah plastik dari kawasan pesisir. Sampah yang ditemukan didominasi plastik sekali pakai seperti kantong plastik, kemasan makanan, dan botol minuman.

Febrini Marsha Dwi Hardianti, mahasiswa Agribisnis Universitas Negeri Jember, mengaku prihatin melihat kondisi bibir pantai yang dipenuhi sampah plastik. Menurut dia, plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menghambat pertumbuhan mangrove.

“Sampah plastik banyak melilit batang dan akar mangrove. Ini bisa merusak jaringan tanaman dan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan kematian mangrove,” ujarnya.

Padahal, mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi, penyerap karbon, serta habitat bagi berbagai biota laut.

Calista, mahasiswa Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya, menunjukkan sampah plastik yang menjerat batang mangrove di kawasan pesisir. | Foto: Ecoton

#Mikroplastik Mengancam Ekosistem dan Manusia

Co-Captain River Warrior, Aeshnina Azzahra, menjelaskan, plastik yang terjebak di ekosistem mangrove tidak berhenti sebagai sampah utuh. Seiring waktu, paparan sinar matahari, gelombang laut, dan gesekan akan memecah plastik menjadi partikel mikroplastik.

“Mikroplastik ini kemudian menyebar ke air, sedimen, dan organisme laut. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga berisiko bagi kesehatan manusia,” kata Aeshnina Azzahra, yang akrab disapa Nina, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Hal tersebut diperkuat oleh peneliti Ecoton, Sofi Azilan Aini. Ia menyampaikan, berbagai penelitian menunjukkan mikroplastik telah ditemukan di sungai, wilayah pesisir, hingga dalam tubuh organisme perairan.

“Mikroplastik berbahaya karena dapat masuk ke rantai makanan. Jika terus dibiarkan, ini akan berdampak pada keseimbangan ekosistem dan kesehatan manusia,” ujarnya.

Kondisi pesisir Surabaya dipenuhi sampah plastik sekali pakai yang mencemari laut dan mengancam ekosistem pesisir. | Foto: Ecoton

Melihat kondisi tersebut, para relawan menegaskan bahwa persoalan sampah plastik tidak bisa dibebankan hanya kepada masyarakat dan komunitas lingkungan. Diperlukan tanggung jawab bersama melalui kebijakan yang tegas dan perubahan perilaku.

Mereka mendorong produsen untuk menjalankan tanggung jawab pengelolaan sampah melalui mekanisme extended producer responsibility sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Selain itu, pemerintah daerah diminta menerapkan pembatasan plastik sekali pakai secara konsisten, serta masyarakat diharapkan mengurangi penggunaan plastik dan mulai memilah sampah sejak dari sumbernya.

Aksi Make Our Mangrove Green Again menjadi pengingat bahwa tanpa perubahan kebijakan dan perilaku secara kolektif, ekosistem mangrove akan terus berada dalam ancaman serius akibat polusi plastik.***

*) Alaika Rahmatullah adalah Kepala Divisi Edukasi dan Kampanye Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), berkontribusi dalam penulisan artikel ini. 

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *