Lewati ke konten

AZEC: Transisi Energi Rasa Fosil, Greenwashing Ala Jepang yang Bikin Gerah Aktivis

| 3 menit baca |Ekologis | 12 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Rilis Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

JARINGAN organisasi masyarakat sipil di Indonesia kompak bilang “tidak” pada inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC). Program yang katanya bakal jadi masa depan transisi energi ini malah dianggap sebagai jebakan elegan yang bikin Indonesia makin lengket dengan energi fosil.

Menjelang Konferensi Tingkat Tinggi AZEC di Kuala Lumpur, 28 Oktober 2025, suara penolakan makin keras terdengar. Dwi Sawung, Manajer Kampanye Isu Infrastruktur dan Tata Ruang WALHI, menegaskan kalau AZEC bukan solusi, tapi justru bentuk “greenwashing sistemik” — pura-pura hijau padahal masih abu-abu batu bara.

“Kami menolak AZEC karena ia menyamarkan kepentingan korporasi dan negara industri sebagai upaya dekarbonisasi, padahal yang terjadi adalah greenwashing yang sistemik,” kata Dwi Sawung.

Katanya mau dekarbonisasi, tapi kok masih gandengan sama batu bara, minyak, dan gas? Ya gimana mau nol emisi kalau masih ngelus-ngelus cerobong asap? Apalagi, kalau begini terus, transisi energinya bukan menuju masa depan hijau, tapi cuma “Katanya Transisi, Kok Masih Fosil Juga.”

#Investasi Hijau yang Warnanya Kelam

Mei lalu, Indonesia dan Jepang menandatangani kerja sama baru senilai Rp8,21 triliun untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal) Muara Laboh Unit 2 di Sumatra Barat. Ada juga proyek serupa di PLTP Sarulla, Tapanuli Utara.

Kedengarannya keren, ya? Panas bumi, energi terbarukan, “go green”, begitu. Tapi menurut koalisi masyarakat sipil, proyek-proyek ini sering bikin panas bukan cuma bumi, tapi juga kepala masyarakat sekitar. Dari Flores sampai Sumatra, proyek geotermal dituding memicu konflik agraria dan merampas tanah adat.

Al Farhat Kasman, Juru Kampanye JATAM, menyebut investasi macam ini sebagai “jebakan utang yang dibungkus jargon rendah karbon.” Jadi, semacam “utang tapi ramah lingkungan.” Ironis banget, kan?

“Menanamkan investasi atas nama rendah karbon yang di dalamnya tersembunyi jebakan utang, kerusakan lingkungan akibat masifnya ekstraksi sumber daya seperti geotermal dan komoditas mineral kritis lainnya, justru melahirkan penderitaan dan memperpanjang tunggakan utang sosial-ekologis yang harus dirasakan oleh warga di tapak-tapak operasinya,” ujar Al Farhat.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Portofolio AZEC: 11 Persen Surya dan Angin, 35 Persen Fosil. Sisa-Nya? Janji Manis

Greenpeace Indonesia menyoroti bahwa dari 158 MoU di bawah AZEC, cuma 11 persen yang benar-benar buat energi surya dan angin. Sisanya? Ya, 56 MoU alias 35 persen masih nempel sama energi fosil—LNG, amonia co-firing, dan teknologi carbon capture yang katanya keren tapi mahal dan belum jelas hasilnya.

“AZEC ini kayak diet tapi masih makan gorengan,” kata Yuyun Harmono dari Greenpeace. Maksudnya, niatnya bagus, tapi praktiknya ya begitu-begitu juga. Katanya mau lepas dari fosil, tapi malah makin nempel.

#Transisi yang Adil, Bukan Transisi Modal

Koalisi masyarakat sipil mendesak pemerintah Indonesia dan Jepang buat berhenti main di wilayah abu-abu. Kalau serius mau bantu transisi energi, ya bantu yang benar. Dukung smart grid, tenaga surya, angin, dan pensiun dini PLTU, bukan malah mempercantik PLTU biar “terlihat hijau”.

Riski Saputra dari AEER bilang, kalau AZEC benar-benar mau bantu Indonesia, harusnya mendukung sistem energi yang adil dan partisipatif. Yang dengar suara masyarakat, bukan cuma investor.

Intinya, transisi energi seharusnya soal keadilan, bukan soal “siapa yang paling cepat dapat proyek.” Soalnya, kalau begini terus, transisi energi di Indonesia bakal berubah jadi transisi dari batu bara ke… utang.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *