Lewati ke konten

Bahaya di Balik Senyuman: Mahasiswa UINSA Ungkap Kandungan Mikroplastik pada Lipstik

| 3 menit baca |Mikroplastik | 33 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi

Seminar pencemaran mikroplastik di Surabaya menghadirkan riset mahasiswa dan pakar lingkungan, mengungkap sumber mikroplastik dari aktivitas sehari-hari serta urgensi perubahan perilaku masyarakat.

Isu pencemaran mikroplastik semakin mendapat perhatian dalam diskursus lingkungan di Indonesia. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini tidak hanya mencemari perairan, tetapi juga mencemari udara serta berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.

Persoalan ini menjadi fokus dalam seminar bertajuk Pencemaran Mikroplastik yang akan digelar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UIN) Surabaya, Kamis, 12 Maret 2026.

Seminar ini akan menghadirkan berbagai pemaparan penelitian mahasiswa yang menyoroti sumber mikroplastik dari berbagai sektor kehidupan sehari-hari. Mulai dari produk kosmetik, aktivitas rumah tangga, hingga kegiatan pertanian.

Kajian dari hasil penelitian ini akan memperlihatkan, mikroplastik bukan lagi masalah yang jauh dari kehidupan masyarakat, melainkan hadir dalam aktivitas yang tampak sederhana.

Menurut Kallista Maharani, mahasiswa Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga turut mempresentasikan kajian tentang mikroplastik pada kosmetik bibir.

“Kami ingin menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya ditemukan di laut atau sungai, tetapi juga dapat berasal dari produk yang kita gunakan sehari-hari,” ujar Kallista dalam keterangan rilisnya, Selasa, (10/3/2026).

Mahasiswa yang saat ini menjalani studi independen di Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) ini menyebut, penelitian sederhana sekalipun dapat menjadi pintu masuk untuk memahami besarnya persoalan mikroplastik di lingkungan.

Ia menambahkan peningkatan literasi lingkungan di kalangan masyarakat menjadi kunci untuk menekan sumber pencemaran plastik. “Tanpa perubahan perilaku konsumsi, jumlah mikroplastik di lingkungan diperkirakan akan terus meningkat, “ ucap Kalista.

Dok UINSA Surabaya

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Kolaborasi Akademisi dan Aktivis Lingkungan

Seminar ini juga akan menghadirkan akademisi serta pegiat lingkungan yang selama ini aktif meneliti pencemaran plastik di Indonesia. Salah satu pembicara adalah Prigi Arisandi, pendiri ECOTON, organisasi yang dikenal aktif melakukan penelitian dan advokasi pencemaran plastik di sungai.

Diskusi akan dipantik dinamis karena menggabungkan perspektif ilmiah mahasiswa dengan pengalaman lapangan para peneliti lingkungan. Para peserta diajak memahami bagaimana plastik yang terbuang di darat pada akhirnya dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik dan menyebar ke berbagai ekosistem.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada organisme perairan, tetapi juga berpotensi kembali ke manusia melalui rantai makanan. Sejumlah penelitian global bahkan mulai menemukan partikel mikroplastik dalam jaringan tubuh manusia.

Dalam konteks tersebut, kegiatan akademik seperti seminar ini dinilai penting untuk memperkuat peran kampus dalam isu lingkungan. Kampus tidak hanya menjadi tempat produksi pengetahuan, tetapi juga ruang dialog antara ilmuwan, mahasiswa, dan masyarakat.

Kallista menilai keterlibatan mahasiswa dalam penelitian mikroplastik harus terus diperluas. Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis untuk mendorong perubahan, baik melalui riset maupun kampanye lingkungan.

“Mahasiswa bisa menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Ketika hasil penelitian dipahami publik, maka kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik juga akan meningkat,” kata Kallista.

Seminar ini sekaligus juga akan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil kajian mereka secara terbuka. Selain memperoleh masukan dari para ahli, kegiatan ini juga memperkuat jejaring kolaborasi antara kampus dan organisasi lingkungan.

Di tengah meningkatnya produksi plastik global, upaya memahami mikroplastik menjadi semakin mendesak. Tanpa penelitian dan kesadaran kolektif, partikel plastik yang nyaris tak terlihat ini berpotensi menjadi ancaman lingkungan dan kesehatan yang semakin besar di masa depan.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *