Forum reflektif JAYCA di Jember mempertemukan anak muda, pendidik, dan pemerintah untuk membangun ekosistem pendidikan inklusif berbasis pengalaman nyata, keluarga, dan kolaborasi komunitas.

Ruang diskusi sederhana itu berubah menjadi forum refleksi yang hangat pada Ahad, (16/2/2026). Sekitar 30 pembaharu muda dan pegiat komunitas dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul dalam sesi “Reality Check” yang digelar Ashoka Indonesia.
Pertemuan ini menjadi ruang bersama untuk menilai kembali arah gerakan anak dan remaja sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Forum dimoderatori Ara Kusuma dari Ashoka Indonesia dengan menghadirkan perwakilan pemerintah daerah, komunitas pendidikan, serta dua remaja peserta Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA), Zahwa dan Qonita.
Keduanya berbagi pengalaman mengikuti AJ JAYCA—program pembelajaran berbasis pengalaman yang menempatkan anak muda sebagai pelaku perubahan.
Berbeda dengan pelatihan formal di ruang kelas, kegiatan JAYCA menggabungkan mentoring dengan pengalaman langsung di lapangan. Para peserta diajak mendaki gunung, melakukan riset lingkungan, memasak bersama, mendirikan tenda, hingga mempresentasikan gagasan sosial mereka.
“Belajar di alam itu sangat menyenangkan. Kami jadi lebih dekat karena bisa bertemu langsung, tidak hanya lewat Zoom,” kata Zahwa. Ia juga berpendapat, jika pengalaman ini membantu peserta berani menyampaikan ide sekaligus membangun rasa percaya diri.
Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti pentingnya ruang aman bagi anak muda untuk bereksperimen dengan gagasan. Presentasi rutin yang dilakukan selama program, menurut Qonita, menjadi latihan penting untuk mengasah keberanian berbicara di depan publik—keterampilan yang jarang didapatkan dalam pendidikan formal.
Pendekatan berbasis pengalaman ini dianggap mampu menjawab kebutuhan generasi muda yang ingin belajar melalui praktik nyata, bukan sekadar teori.
#Pendidikan Harus Terhubung dengan Kehidupan Nyata
Pandangan serupa disampaikan Riadi, pendiri Sekolah Alam Raya. Setelah lebih dari tiga dekade menjadi guru, ia melihat banyak anak kehilangan minat belajar karena materi pendidikan terasa jauh dari realitas sehari-hari.
Menurut Riadi, pendidikan seharusnya memberi ruang bagi anak untuk memahami kehidupan secara langsung. Di sekolahnya, proses belajar dilakukan melalui aktivitas sederhana tetapi bermakna: memasak bersama, membaca dalam perjalanan, hingga diskusi reflektif setelah kegiatan luar ruang.
Pendekatan tersebut bertujuan menumbuhkan lifeskill, rasa ingin tahu, serta kemampuan berpikir kritis. Anak-anak tidak hanya memahami pelajaran, tetapi juga belajar mengambil keputusan dan bekerja sama.
Riadi menekankan, keberhasilan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari keluarga. Ia melihat peran orang tua sering kali terpinggirkan dalam sistem pendidikan modern yang terlalu berpusat pada sekolah.
WhatsApp Channel · TitikTerang
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu. TitikTerang hadir di WhatsApp
“Kunci pendidikan yang membentuk perilaku anak juga berasal dari keluarga. Karena itu keluarga harus menjadi prioritas dalam proses pendidikan,” ujarnya.
Melalui forum paguyuban sekolah dan orang tua, Sekolah Alam Raya mencoba membangun komunikasi yang lebih setara antara pendidik dan keluarga. Model ini dinilai relevan dengan semangat JAYCA yang mendorong ekosistem pendidikan berbasis kolaborasi.

#Pengasuhan Kolektif dan Sinergi Kebijakan
Gagasan tentang kolaborasi juga menjadi sorotan Ciciek Farha dari Tanoker Ledokombo. Perempuan yang pernah mendampingi korban kerusahan Mei 98 ini, memperkenalkan konsep “pengasuhan gotong royong” yang menempatkan tanggung jawab tumbuh kembang anak sebagai urusan bersama.
Menurut Ciciek, ruang aman bagi anak tidak hanya dibangun di sekolah, tetapi juga di rumah, lingkungan bermain, dan komunitas sosial. Prinsip “anakku, anakmu, anak kita bersama” menjadi fondasi pendekatan Tanoker selama bertahun-tahun mendampingi anak-anak di Ledokombo.
“Semua orang adalah pembelajar,” kata perempuan berusia 62 tahun itu. Ia juga menilai ekosistem yang kuat lahir ketika anak, orang tua, dan masyarakat bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Dalam forum tersebut, perwakilan DP3AK Jawa Timur menyampaikan, isu pendidikan, lingkungan, kesehatan, hak anak dan keluarga, serta inklusivitas menjadi prioritas pembangunan lima tahun ke depan.
Program seperti Sekolah Siaga Kependudukan, Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA), hingga Forum Anak disebut sebagai ruang strategis untuk kolaborasi.
Pemerintah membuka peluang sinergi dengan JAYCA agar lebih banyak anak muda terlibat sebagai changemaker di daerahnya masing-masing. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjembatani inisiatif komunitas dengan kebijakan publik.
Sesi “Reality Check” akhirnya menegaskan satu hal: perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari praktik kecil yang konsisten di tingkat komunitas. Ara menilai JAYCA menjadi wadah bagi anak muda untuk belajar reflektif sekaligus membangun gerakan kolektif.
Melalui kolaborasi berbagai pihak, JAYCA diharapkan mampu membentuk generasi muda Jawa Timur yang tidak hanya kritis, tetapi juga aktif menciptakan masa depan yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.***