Lewati ke konten

Belajar AI dari Pantai, Mahasiswa Membaca Masa Depan Digital

| 4 menit baca |Ide | 14 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Dari pesisir hingga ruang kelas, mahasiswa lintas kampus belajar kecerdasan buatan bersama Miss Young, vlogger lingkungan asal Korea Selatan, membaca peluang, risiko, dan tanggung jawab AI.

Langkah pertama Miss Young selalu sama, yaitu pergi ke pantai. Bagi pegiat lingkungan asal Korea Selatan ini, pesisir bukan sekadar lanskap indah, tetapi ruang refleksi tentang manusia, teknologi, dan bumi.

Miss Young menjelaskan manfaat kecerdasan buatan (AI) bagi manusia, termasuk pemanfaatannya untuk isu lingkungan. | Foto: Supriyadi

Di hadapan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dan Universitas Negeri Malang, serta Universitas Negeri Jember, pantai menjadi metafora awal untuk membicarakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Kalau saya ingin membuat video yang bermakna, satu video saja tidak cukup. Kadang lima menit, sepuluh menit, bahkan lebih lama, tapi belum tentu hasilnya indah,” ujar Miss Young depan mahasiswa yang sedang studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Senin, (26/1/2026)

Dalam sesi pembelajaran digital tersebut, peserta diajak memahami bagaimana AI. Khususnya image generation dan video generation, mengubah cara bercerita.

AI tidak lagi diposisikan sebagai teknologi yang jauh dan abstrak, melainkan alat yang hadir dalam keseharian: dari menyusun skrip, mengedit video, hingga membantu riset akademik.

#AI Orchestration dan Ekonomi Konten

Diskusi kemudian bergerak ke ranah industri. Miss Young menyinggung munculnya perusahaan-perusahaan yang disebut sebagai AI Aggregator atau AI Orchestration.

Ia mencontohkan GensPark, sebuah perusahaan yang dinilai berhasil mengorkestrasi berbagai model AI untuk menghasilkan produk kontekstual bernilai ekonomi tinggi.

“AI orchestration itu seperti orkestra musik,” jelasnya. “Bukan satu alat yang hebat, tapi bagaimana banyak alat bekerja bersama menghasilkan harmoni.”

Konsep ini terasa relevan bagi mahasiswa yang hidup di tengah dominasi platform digital. TikTok, misalnya, disebut sebagai contoh nyata bagaimana algoritma membaca minat pengguna.

“TikTok tahu apa yang kalian tonton, musik apa yang kalian suka, video apa yang membuat kalian berhenti scroll,” kata Miss Young. “Semua itu didorong oleh sistem rekomendasi.”

Ia juga menyinggung tren konten video singkat yang berkembang di China dan Korea Selatan, yang menekankan kecepatan produksi dan relevansi konteks.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Bagi generasi muda, ini membuka peluang baru: ekonomi kreator berbasis AI. Namun, peluang itu datang bersama risiko homogenisasi konten dan ketergantungan pada algoritma.

Bersama Miss Young, mahasiswa studi independen Ecoton lintas kampus belajar AI: dari image & video generation hingga etika algoritma. AI membantu manusia bercerita, tapi nilai dan tanggung jawab tetap milik manusia. | Foto: Supriyadi

#Antara Asisten dan Tanggung Jawab Etis

Dalam sesi praktik, peserta mencoba berbagai platform AI populer seperti ChatGPT dan Gemini. Diskusi berlangsung interaktif ketika mahasiswa berbagi pengalaman menggunakan AI untuk menyusun naskah video, membantu eksperimen laboratorium, hingga merangkum bahan bacaan.

Salah satu peserta dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Intan Fatimah. menegaskan pentingnya sikap kritis. “AI sangat membantu sebagai asisten, tapi tidak bisa dipercaya seratus persen. Tetap perlu verifikasi dari sumber lain,” ujarnya.

Pandangan ini diperkuat pembahasan mengenai ekosistem industri AI global. Perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, dan OpenAI disebut memiliki peran signifikan dalam mendorong perkembangan AI melalui investasi besar pada infrastruktur, data, dan talenta.

Namun, di balik kemudahan penggunaan, terdapat biaya komputasi tinggi, sistem token, serta isu akses yang belum merata.

Isu etika pun menjadi perhatian. Dalam konteks pengolahan gambar dan video, peserta diajak memahami pentingnya moderasi konten, penilaian kelayakan visual, serta batas antara kreativitas dan manipulasi.

“AI bukan pengganti manusia,” kata Miss Young. “Ia hanya alat. Tanggung jawab tetap ada pada kita.”

Menutup sesi, Miss Young kembali pada pesan awalnya tentang bumi. “Kita hanya tamu di planet ini,” ujarnya, mengutip slogan Oh My Earth! We Are Only Visitors on This Earth.

“Kalau AI bisa membantu kita bercerita lebih baik tentang bumi, gunakan. Tapi jangan biarkan teknologi membuat kita lupa untuk peduli.”

Dari pantai hingga ruang kelas, mahasiswa tentu saja membawa tak lebih dari sekadar pengetahuan teknis. Mereka membawa kesadaran, masa depan AI bukan hanya soal kecanggihan, tetapi tentang nilai, konteks, dan pilihan manusia di balik layar.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *