Lewati ke konten

Belajar dari Sungai Jombang: Aksi Bersih Pelajar Menumbuhkan Kesadaran Lingkungan dan Bahaya Mikroplastik Sejak Dini

| 4 menit baca |Mikroplastik | 25 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Supriyadi Editor: Marga Bagus
Terverifikasi Bukti

Puluhan pelajar di Jombang turun ke sungai, memungut sampah sambil memungut kesadaran. Dari Sungai Avur Pandanwangi, mereka belajar bahwa krisis lingkungan tidak selalu hadir sebagai bencana besar, tetapi sering tersembunyi dalam kebiasaan kecil sehari-hari.

#Sungai Avur, Ruang Belajar Tanpa Dinding

Sungai Avur Pandanwangi di Kabupaten Jombang tampak berbeda pada Sabtu, 13 Desember 2025. Puluhan pelajar berkumpul di bantaran sungai, sebagian turun ke air, sebagian lagi menyusuri semak, memungut sampah yang tersangkut di antara gulma dan ranting rumput.

Anggota Saka Kalpataru menyimak penjelasan dari Menis Agus Muttaqin, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau DLH Jombang sebelum aksi resik sungai dimulai. Dari pengarahan singkat ini, langkah kecil untuk menjaga sungai dan menumbuhkan kepedulian lingkungan bersama pun dimulai, Sabtu, 13 Dsember 2025 | Foto: Pry

Mereka tidak datang untuk lomba kebersihan atau seremoni simbolik. Tanpa panggung dan spanduk besar, para siswa bekerja dalam kelompok kecil, berkomunikasi seadanya, saling menunjuk temuan plastik, botol, dan sisa rumah tangga.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Program Sekolah Adiwiyata, komunitas Saka Kalpataru, Satgas Santri Jogo Kali dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang. Bagi DLH, sungai dipilih sebagai ruang belajar terbuka, bukan sekadar lokasi kegiatan.

“Rencananya diikuti 20 sekolah, tapi karena sebagian masih ujian, yang hadir 15 sekolah,” kata Menis Agus Muttaqin, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau DLH Jombang.

Menurut Menis, Sungai Avur dipilih karena posisinya netral dan mudah dijangkau. “Lokasinya dekat permukiman bantaran sungai, relatif aman bagi pelajar, tapi tetap merepresentasikan persoalan sampah yang nyata,” ujarnya.

#Sampah yang Dipungut, Sistem yang Dipertanyakan

Usai kegiatan bersih sungai, pertanyaan klasik pun muncul: ke mana sampah itu akan berakhir. Menis menjelaskan, sampah yang terkumpul akan dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjardowo.

“Karena volumenya tidak terlalu besar, sebagian akan masuk ke TPS dan TPS3R untuk dipilah,” ujar Menis. Sampah organik seperti ranting dan daun diarahkan ke pengomposan.

TPA Banjardowo sebelumnya sempat disorot akibat timbunan sampah. Namun DLH menyebut kondisi itu sudah ditangani. “Yang menggunung sudah ditutup. Sekarang kami menggunakan lokasi TPA yang satunya lagi,” kata Menis.

Menis juga mengatakan pengomposan telah berjalan rutin. “Sampah organik dari ranting dan rumput selama ini sudah kami kelola,” ujarnya.

Untuk sampah anorganik, pemerintah daerah mendorong pendekatan berlapis. “Tahun lalu ada sekitar 40 bank sampah unit. Tahun ini kami targetkan 100 unit, melibatkan PKK dan Posyandu,” kata Menis.

Amiruddin Mutaqin, peneliti Ecoton, mengarahkan diskusi bersama para siswa dari berbagai sekolah menengah di Kabupaten Jombang tentang bahaya mikroplastik dan ancamannya bagi lingkungan serta kesehatan. | Foto: Pry

#‘Baru Hari Ini Saya Tahu Mikroplastik’

Selain membersihkan sungai, sebagian pelajar mengikuti diskusi tentang mikroplastik. Diskusi dipandu Amiruddin Mutaqqin, peneliti senior Ecoton, dengan pendekatan obrolan santai. Para siswa membawa sampel air hujan dari rumah masing-masing untuk diuji bersama.

Dalam hasil uji tersebut, Amir memaparkan temuan mikroplastik di beberapa wilayah Jombang. Di Jogoroto ditemukan 30 partikel fiber dan 25 filamen, sementara di Dapurkejambon tercatat 20 fiber dan 60 filamen mikroplastik.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

Tidak semua sampel yang dibawa siswa dapat diuji. Rata-rata sampel diambil dari talang dan jatuhan genting, bahkan ada yang berasal dari bak penampungan di bawah talang air hujan, sehingga berpotensi terkontaminasi.

“Jadi yang bisa kami uji hanya dari Jogoroto dan Dapurkejambon, karena sampel air hujan diambil dari wadah yang tidak terkontaminasi apa pun,” ujar Amiruddin.

Dialog spontan pun terjadi seusai diskusi. Aulia, siswa SMK 3 Jombang, mengaku belum memahami betul pembahasan mikroplastik dan baru pertama kali mendengar istilah tersebut. “saya belum nyambung tadi waktu tadi ngobrol mikroplastik. Tapi setelah diskusi jadi tahu, ‘ katanya

Hal serupa diungkapkan Nasya, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Jombang. Ia mengaku baru pertama kali mendengar istilah mikroplastik. “Baru hari ini,” katanya pelan, sembari terkejut mengetahui air di sekitarnya terindikasi tercemar partikel plastik.

Pengakuan para siswa itu menunjukkan jika isu mikroplastik masih jauh dari pemahaman sehari-hari pelajar.

Namun justru dari keterkejutan tersebut, diskusi menjadi pintu awal tumbuhnya kesadaran, bahwa ancaman pencemaran tidak selalu terlihat, tetapi nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.

Anggota Saka Kalpataru dari berbagai sekolah menengah di Jombang membersihkan Sungai Avur Pandanwangi, Sabtu, 13 Desember 2025. Aksi resik sungai ini menjadi wujud kepedulian generasi muda terhadap lingkungan. | Foto: Pry

#Kesadaran yang Tumbuh dari Percakapan

Amiruddin menjelaskan, mikroplastik tidak hanya berasal dari plastik sekali pakai. “Sumbernya bisa dari gesekan ban kendaraan, pakaian sintetis, degradasi kemasan, sampai proses industri,” ujarnya.

Seorang siswa SMK mengaku pernah mendengar istilah mikroplastik di sekolah, tetapi tidak memahami dampaknya. “Saya kira itu cuma istilah ilmiah, ternyata dekat dengan hidup kita,” katanya.

Diskusi berlangsung cair dan diselingi canda. “Semoga enggak datang dong uji kayak tadi di sekolahan,” celetuk seorang peserta, disambut tawa.

“Bukan kita yang diuji, nanti kita yang datang,” jawab Amir, menegaskan bahwa edukasi lingkungan seharusnya mendekat ke masyarakat.

Aksi bersih sungai ini akan digelar dua hingga empat kali setahun. Namun pesan yang dibawa lebih panjang umurnya, kesadaran sering lahir dari hal kecil. Sebuah obrolan, sebuah pengalaman, atau pengakuan jujur, ‘saya belum tahu’.***

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *