Siswa SMA Muhammadiyah 3 Surabaya mengkaji ancaman mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan melalui kegiatan bersama Ecoton.
Isu pencemaran mikroplastik kini menjadi perhatian serius karena dampaknya yang semakin luas terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter itu tidak hanya mencemari sungai dan wilayah pesisir, tetapi juga berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Di wilayah perkotaan dan industri seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Jombang, mikroplastik ditemukan sebagai konsekuensi dari tingginya konsumsi plastik sekali pakai serta lemahnya pengelolaan sampah. Plastik yang terbuang ke lingkungan akan terurai secara fisik dan kimiawi, membentuk partikel-partikel kecil yang sulit terlihat, sulit disaring, dan mudah menyebar melalui aliran air.
Ancaman tersebut tidak lagi bersifat abstrak bagi siswa-siswi SMA Muhammadiyah 3 Surabaya. Melalui kegiatan kajian dan kampanye peningkatan kesadaran lingkungan bersama Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton), Jumat (9/1/2026), para siswa diajak mengenali mikroplastik secara langsung dengan menggunakan sampel air Sungai Surabaya yang alirannya melintasi Kecamatan Wringinanom, Gresik , juga analisis di laboratorium Ecoton.
Bagi para siswa, istilah mikroplastik sebenarnya bukan hal baru. Mereka telah mengenalnya melalui bacaan, media, dan pembelajaran di sekolah. Namun, pemahaman itu sebelumnya lebih bersifat teoritis. Rasa ingin tahu dan keterlibatan yang lebih mendalam baru tumbuh setelah mereka mengikuti kegiatan kelompok ilmiah dan praktik lapangan bersama Ecoton.
Mikroplastik dipandang bukan sekadar persoalan ekologis, melainkan ancaman jangka panjang terhadap kualitas hidup manusia. Sejumlah penelitian menunjukkan paparan mikroplastik berpotensi memicu gangguan hormon, peradangan kronis, hingga penyakit degeneratif. Risiko ini dinilai semakin relevan bagi generasi muda yang akan menghadapi dampak akumulatif pencemaran lingkungan di masa depan.
Kesadaran tersebut mendorong siswa SMA Muhammadiyah 3 Surabaya untuk tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi melangkah ke proses kajian, diskusi, dan refleksi terhadap perilaku konsumsi plastik sehari-hari.
#Belajar Lingkungan dari Sungai Sekitar Sekolah
Kedekatan lingkungan sekolah dengan aliran Sungai Surabaya menjadi alasan utama SMA Muhammadiyah 3 Surabaya aktif mengikuti kegiatan pengamatan mikroplastik. Guru Biologi yang mendampingi para siswa, Titis Permatasari, mengatakan sekolahnya berada tidak jauh dari aliran sungai di kawasan Gadung.
“Sekolah kami dekat dengan sungai, jadi kami sudah beberapa kali melakukan biotilik di sungai sekitar. Setiap angkatan kami ajak ke lapangan terlebih dahulu untuk memperdalam ilmunya,” ujar Titis di sela-sela kegiatan.
Menurut Titis, pendekatan pembelajaran berbasis lingkungan menjadi strategi penting agar siswa memahami persoalan ekologis secara kontekstual. Sungai yang berada di sekitar sekolah dijadikan laboratorium alam untuk mengamati kualitas air, keanekaragaman hayati, hingga potensi pencemaran.
Sebanyak 23 siswa dari kelas X, XI, dan XII yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) mengikuti kegiatan tersebut. Para siswa dilibatkan langsung dalam pengamatan dan identifikasi mikroplastik di laboratorium Ecoton, mulai dari proses penyaringan hingga pengenalan jenis-jenis mikroplastik.
Salah satu peserta, Rendy Agus Pratama, siswa kelas XI, mengaku telah mengenal isu mikroplastik sejak tahun lalu melalui kegiatan KIR. Menurut dia, pembelajaran berbasis penelitian yang dekat dengan lingkungan sekolah memudahkan siswa memahami persoalan pencemaran.
“Di KIR kami memang ada penelitian yang lokasinya dekat dengan sungai sekolah. Dari situ kami jadi lebih paham bagaimana membedakan mikroplastik dengan bahan lain,” kata Rendy.
Namun, pengamatan mikroplastik secara langsung di laboratorium menjadi pengalaman baru baginya. Tahun sebelumnya, Rendy terlibat dalam penelitian berbeda sehingga baru kali ini melihat mikroplastik secara langsung di air.
“Baru kali ini saya benar-benar melihat mikroplastik. Ukurannya sangat kecil dan hampir tidak terlihat kalau di sungai,” ujarnya.
Dalam pengamatan tersebut, Rendy menemukan beberapa jenis mikroplastik, di antaranya fiber, fragmen atau scrap, serta granul. Temuan itu menunjukkan bahwa pencemaran mikroplastik berasal dari berbagai sumber, mulai dari limbah tekstil hingga pecahan plastik sekali pakai.

Menurut Rendy, mikroplastik menjadi persoalan serius karena sering luput dari perhatian masyarakat. Padahal, partikel tersebut dapat termakan ikan dan pada akhirnya masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel“Kalau di sungai tidak kelihatan, jadi masyarakat sering tidak peduli. Padahal kalau masuk ke tubuh manusia bisa menumpuk dan berdampak buruk bagi kesehatan,” katanya.
#Kepedulian Tinggi, Aksi Masih Terbatas
Meski kesadaran siswa terhadap bahaya mikroplastik tergolong tinggi, implementasi tindakan nyata masih menghadapi berbagai tantangan. Hasil pengamatan internal sekolah menunjukkan 90 hingga 100 persen siswa menyatakan kekhawatiran tinggi terhadap dampak jangka panjang mikroplastik bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Namun, tingkat kepedulian tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan aksi konkret. Kesadaran siswa tercatat sekitar 70 persen, sementara penerapan tindakan pengurangan plastik sekali pakai masih fluktuatif, berkisar antara 20 persen hingga 70 persen, tergantung konteks kegiatan.
Kondisi ini mencerminkan tantangan umum dalam isu lingkungan, yakni kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku. Di lingkungan sekolah maupun rumah, plastik masih menjadi pilihan praktis yang sulit dihindari.
Riset yang dilakukan siswa SMA Muhammadiyah 3 Surabaya mengidentifikasi tiga kendala utama dalam upaya pengurangan plastik sekali pakai. Pertama, kebingungan metodis terkait langkah awal yang harus diambil di tengah tingginya ketergantungan masyarakat pada plastik sekali pakai.
Kedua, ketiadaan figur teladan yang secara konsisten menerapkan gaya hidup minim plastik di lingkungan sekitar. Ketiga, hambatan sosial berupa kekhawatiran dianggap berlebihan atau berbeda ketika mencoba menerapkan kebiasaan ramah lingkungan.
“Kami punya kepedulian besar, tetapi sering merasa sendirian saat mencoba berubah,” ujar Diva Nur Ainia yang diketahui telah menghasilkan karya ilmiah berjudul “Visualisasi Data Analisis Makroinvertebrata Sungai Surabaya sebagai Pembelajaran Nilai Khalifah fil ardh”.
Meski demikian, Diva menegaskan tidak akan berhenti mengampanyekan pengurangan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah. Ia pun akan memulai dari langkah-langkah sederhana.
“Mungkin kami akan mengingatkan teman sebaya untuk membawa botol minum sendiri, menolak sedotan plastik, hingga mengajak diskusi tentang dampak mikroplastik dalam kegiatan kelas dan ekstrakurikuler, “ kata Diva.

Upaya siswa ini mendapat dukungan sekaligus catatan dari pihak sekolah. Titis mengakui penerapan pengurangan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah masih menghadapi tantangan struktural. Kompleks sekolah yang menaungi jenjang TK hingga SMA membuat perubahan kebijakan perlu dilakukan secara bertahap.
“Kantin masih banyak menggunakan plastik. Harapannya bisa dimulai dari anak-anak KIR dulu, misalnya dengan menolak kantong plastik atau memilih produk yang tidak memakai plastik,” ujar Titis.
Ia berharap kesadaran yang tumbuh di kalangan siswa dapat menular ke teman-temannya dan mendorong lahirnya kebijakan sekolah yang lebih ramah lingkungan. Menurut Titis, dukungan kebijakan akan memudahkan siswa menerapkan gaya hidup minim plastik tanpa harus menghadapi tekanan sosial.
“Ke depan, kami berharap ada kebijakan sekolah, misalnya kemasan makanan tidak lagi diplastiki, sehingga anak-anak bisa lebih konsisten menjaga lingkungan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, SMA Muhammadiyah 3 Surabaya mengajak pemerintah, orang tua, dan masyarakat luas untuk memberikan dukungan nyata. Dari ruang kelas, perubahan diharapkan dapat meluas ke lingkungan demi memutus rantai pencemaran mikroplastik di Surabaya dan sekitarnya.***

*) Fildza Sabrina Vansyachroni dan Indah Dwi Nur Aulia merupakan pendiri komunitas replast_genz serta mahasiswa angkatan 2023 Program Studi Penyuluhan, Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Keduanya saat ini menjalani studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) dan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.