Lewati ke konten

Belanja Isi Ulang di Sumengko Gresik Kurangi Sampah Plastik Rumah Tangga

| 4 menit baca |Ide | 34 dibaca
Oleh: Titik Terang Penulis: Eka Dahlia Gunawan, Ni Luh Made Kartika Nariswari Editor: Supriyadi
Terverifikasi Bukti

Gerakan Refilin ECOTON di Desa Sumengko mengajak warga beralih ke sistem isi ulang, menekan sampah plastik sekali pakai dari rumah tangga.

Upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai terus menemukan bentuknya di tingkat desa. Senin (19/1/2026), Desa Sumengko, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur menjadi lokasi pelaksanaan Refilin (Refill Keliling), sebuah inisiatif yang mengajak warga berbelanja kebutuhan rumah tangga dengan sistem isi ulang menggunakan wadah milik sendiri.

Koordinator Refilin ECOTON, Jofan Ahmad, memberikan penjelasan kepada warga tentang dampak sampah plastik sekali pakai serta pentingnya beralih ke sistem belanja isi ulang untuk mengurangi timbulan sampah dari rumah tangga. |Foto: ECOTON

Program yang digagas ECOTON melalui Reuse ECOTON ini menyasar kebiasaan konsumsi rumah tangga yang selama ini bergantung pada produk berkemasan sachet. Kemasan kecil tersebut dinilai praktis, tetapi menyisakan persoalan besar karena sulit didaur ulang dan kerap berakhir dibakar atau dibuang ke lingkungan.

Di halaman balai desa, warga tampak membawa botol plastik, jerigen kecil, hingga wadah bekas lainnya untuk diisi ulang sabun ramah lingkungan. Aktivitas sederhana itu menjadi simbol perubahan pola belanja, dari sekali pakai menuju penggunaan ulang.

Koordinator Refilin, Jofan Ahmad, menyebut rumah tangga memegang peran kunci dalam persoalan sampah nasional. “Setiap tahun sekitar 38 persen sampah di Indonesia berasal dari rumah tangga, tetapi hanya sekitar 9 persen yang bisa didaur ulang. Produk sekali pakai seperti sachet menjadi penyumbang utama,” ujarnya.

Menurut Jofan, sistem refill memberi pilihan yang lebih bertanggung jawab bagi masyarakat. Dengan membawa wadah sendiri, volume sampah dapat ditekan sejak dari sumbernya, tanpa menunggu proses pengelolaan di hilir yang sering kali tidak memadai.

Kegiatan Refilin tidak hanya berfokus pada transaksi jual beli produk isi ulang. ECOTON juga menyelipkan edukasi lingkungan agar warga memahami keterkaitan antara kebiasaan sehari-hari, kesehatan, dan kualitas lingkungan di sekitarnya.

Muhammad Faizul Adhim, mahasiswa yang menjalani studi independen di ECOTON, memberikan semangat kepada warga Desa Sumengko dalam praktik belanja isi ulang untuk mengurangi sampah plastik rumah tangga. | Foto: ECOTON

#Bahaya Pembakaran Sampah Masih Mengintai

Salah satu isu yang disorot dalam sosialisasi adalah praktik pembakaran sampah yang masih lazim dilakukan di tingkat desa. Pembakaran terbuka, terutama sampah plastik, dinilai sebagai solusi semu yang justru menimbulkan masalah baru.

Muhammad Faizul Adhim, mahasiswa Universitas Negeri Malang Fakultas Ilmu Keolahragaan semester VI yang menjalani studi independen di ECOTON, menjelaskan dampak serius dari pembakaran sampah plastik. “Pembakaran plastik menyebabkan pencemaran udara yang berdampak pada kesehatan manusia, lingkungan, bahkan hewan juga merasakan akibatnya,” kata Faizul.

Ia menambahkan, paparan zat beracun dari pembakaran plastik dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis dalam jangka panjang. Dampak tersebut sering kali tidak langsung terasa, tetapi perlahan menggerus kualitas hidup masyarakat.

Edukasi ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Pengurangan sampah dari sumbernya, penggunaan ulang wadah, dan pemilihan produk refill dipandang sebagai langkah yang lebih efektif untuk menjaga kualitas udara, tanah, dan air di lingkungan desa.

WhatsApp Channel · TitikTerang

TitikTerang hadir di WhatsApp

Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.

Gabung WhatsApp Channel

#Mengubah Kebiasaan Belanja dari Desa

Selain sabun isi ulang, Refilin di Desa Sumengko juga menghadirkan berbagai produk pendukung gaya hidup minim sampah. ECOTON menyediakan sabun dalam kemasan jerigen, sabun organik, serta membuka ruang bagi pelaku UMKM lokal.

Beragam produk ditawarkan, mulai dari bahan makanan hingga kerajinan tangan ramah lingkungan, seperti peralatan masak berbahan kayu dan sikat dari sabut kelapa. Kehadiran UMKM ini menunjukkan bahwa praktik ramah lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal.

Bagi ECOTON, Refilin merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun kebiasaan belanja yang lebih bertanggung jawab. Sistem isi ulang mendorong masyarakat memanfaatkan kembali wadah yang sudah dimiliki, sehingga limbah kemasan sekali pakai, khususnya sachet, dapat ditekan secara signifikan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip zero waste yang menekankan pencegahan timbulan sampah sejak awal, bukan sekadar mengelola sampah yang sudah ada. Perubahan kecil di tingkat rumah tangga diyakini dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Melalui kombinasi edukasi dan praktik langsung, ECOTON berharap masyarakat tidak hanya memahami bahaya sampah plastik bagi lingkungan dan kesehatan, tetapi juga terdorong mengambil langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, program Refilin direncanakan menjangkau lebih banyak wilayah agar akses belanja ramah lingkungan semakin dekat dengan masyarakat.

Dari Desa Sumengko, pesan sederhana itu digaungkan: perubahan gaya hidup berkelanjutan bisa dimulai dari membawa wadah sendiri.***

 

*) Eka Dahlia Gunawan dan Ni Luh Made Kartika Nariswari merupakan mahasiswa pendiri komunitas cakragreenlife serta mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Keduanya saat ini menjalani studi independen di Ecological Conservation and Wetlands Observation (Ecoton) dan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

 

Tinggalkan Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *