- Ratusan relawan peringati Hari Sungai Internasional di Kali Tebu. Menggunakan cairan eco-enzyme, mereka beraksi memulihkan ekosistem dan menekan aroma tak sedap air sungai.
- Menyegarkan Kali Tebu tak sekadar angkat sampah fisik. Relawan Surabaya gunakan eco-enzyme terukur demi urai limbah organik dan jaga kelangsungan biota air.
- Lewat gerakan #SungaiLestari, relawan gelontorkan 115 botol eco-enzyme di Kali Tebu. Langkah nyata perbaiki kualitas air sekaligus tingkatkan kesadaran warga sekitar.
- Mengubah sampah dapur jadi penolong sungai. Relawan Surabaya aksi penuangan eco-enzyme di Kali Tebu guna kurangi bau dan pulihkan ekosistem secara berkala.
- Peringatan Hari Sungai Internasional di SMPN 58 Surabaya berlangsung hangat. Relawan tak hanya bersih-bersih, tapi juga gelar workshop dan penuangan eco-enzyme
SUASANA halaman SMPN 58 Surabaya di kawasan Kali Tebu mendadak riuh dan hangat. Dalam rangka memperingati Hari Sungai Internasional yang rutin digelar setiap bulan September, semangat ratusan relawan menyala terang. Tidak hanya menanam pohon atau membersihkan sampah fisik dari aliran air, aksi lintas komunitas ini juga menghadirkan langkah unik yang menyegarkan: penuangan eco-enzyme ke Kali Tebu yang selama ini dikenal beraroma menyengat.
Di bawah naungan Komunitas Relawan Eco Enzym Nusantara Surabaya, suasana edukasi terasa begitu hidup. Tak hanya menggelontorkan cairan hasil fermentasi sampah dapur—seperti kulit buah, sisa sayur, air, dan molase—ketua komunitas, Christiany Tanzil, juga menggelar workshop langsung di lokasi.
“Kali Tebu ini masih perlu ditumpahi eco-enzyme karena masalahnya belum teratasi, baunya masih ada dan warnanya juga belum membaik. Tadi kita menyiapkan 10 liter yang dibagi ke dalam 113 hingga 115 botol untuk dituangkan ke sungai,” kata perempuan yang akrab disapa Bu Kristin tersebut, Ahad (27/9/2026).
Aksi ini merupakan bagian penting dari gerakan #SungaiLestari melalui program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang digagas Ecoton sejak Juni 2026. Gerakan pemulihan sungai sepanjang 4,95 kilometer ini mendapat dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Kemenko Marves, KLHK, TKN PSL, hingga UNDP Indonesia.

#Bukan Asal Tuang, Ada “Ilmu”-nya!
Eco-enzyme memang dikenal kaya kandungan enzim dan asam organik yang ampuh mempercepat penguraian limbah, menekan bakteri pembusuk penyebab bau, serta membantu proses penjernihan air. Namun, penggunaannya di sungai membutuhkan takaran yang terukur.
“Kita hanya butuh sedikit karena eco-enzyme itu mengurai, jadi tidak boleh dituangkan dalam kondisi pekat. Kalau pekat, sungainya nanti jadi asam dan tumbuh lumut, sehingga biota di bawahnya bisa mati karena kekurangan oksigen,” jelas Christiany.
Saat ditanya mengenai perkembangan kondisi Kali Tebu, ia menambahkan, “Saya lihat dari kemarin ke sini sudah ada perubahan, tapi belum signifikan.”
WhatsApp Channel · TitikTerang
TitikTerang hadir di WhatsApp
Dapatkan kilasan berita, analisis pedas, dan cerita ekologis ala TitikTerang langsung di WhatsApp-mu.
Gabung WhatsApp Channel
#Langkah Kecil yang Butuh Konsistensi
Pemulihan ekosistem sungai membutuhkan napas panjang dan konsistensi. Beberapa poin penting penanganan yang terus ditegaskan para relawan meliputi:
- Pembersihan Sampah Fisik: Sampah plastik dan anorganik wajib diangkat secara manual terlebih dahulu, karena eco-enzyme hanya bekerja mengurai zat organik cair.
- Takaran Tepat: Pencampuran dengan air (idealnya rasio 1:1000) dilakukan untuk menjaga keseimbangan pH air sungai.
- Rutinitas: Penuangan sekali saja tidak cukup selama aliran limbah rumah tangga masih terus masuk.
Sementara itu, Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, menyampaikan bahwa tantangan terbesar memang terletak pada tingkat kesadaran masyarakat. Momen ini sekaligus menjadi edukasi terbuka tentang betapa sulitnya memulihkan sungai yang sudah tercemar.
“Kadang kita sempat tergelitik melihat tim mengangkut sampah dari sungai panas-panas dan memilah sambil menahan bau, tapi masih saja ada warga yang membuang sampah ke Kali Tebu,” ungkap Alaika.
Bahkan, ada informasi mengenai warga yang sengaja mengumpulkan sampah terlebih dahulu di wadah penampungan rumah, lalu menunggu situasi sepi untuk membuangnya ke sungai.
“Sampah disimpan di tong, kemudian dibuang saat situasi sepi. Ini kami bersama tim satgas sedang melakukan penelusuran,” jelasnya.
Kendati demikian, Alaika menegaskan bahwa tim maupun relawan tidak berkecil hati. “Komitmen kami untuk mengedukasi warga serta merutinkan aksi penuangan eco-enzyme akan terus berjalan demi mengembalikan fungsi Kali Tebu sebagai ruang hidup yang bersih dan sehat,” tegasnya.***